Periskop.id – Penemuan 13 sumur minyak dan gas baru di Kalimantan Timur menjadi sinyal positif bagi ketahanan energi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) mencatat potensi cadangan minyak hampir mencapai 1 juta barel, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara dengan daya tahan energi yang relatif kuat.
“Untuk potensi gasnya itu 11,64 miliar kaki kubik, untuk minyaknya 1 juta barel,” ujar Kepala SKK Migas Djoko Siswanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin.
Temuan tersebut berada di kawasan transmigrasi Samboja, Kabupaten Kutai Kartanegara, dan akan dikembangkan oleh PT Pertamina Hulu Sanga Sanga (PHSS). Salah satu sumur kunci adalah MUT-346 OS HZ yang ditargetkan mampu memproduksi 7,3 juta kaki kubik gas per hari, dengan estimasi cadangan 3,6 miliar kaki kubik gas.
Dengan asumsi harga gas sebesar 7,7 dolar AS per MMBTU dan kurs Rp17.000 per dolar AS, nilai cadangan dari sumur tersebut diperkirakan mencapai Rp471 miliar. Sementara itu, pendapatan kotor proyek diproyeksikan sekitar Rp355 miliar, dengan kontribusi ke negara sekitar Rp87 miliar setelah pajak.
“Kebetulan akan dilaksanakan dalam waktu dekat, yaitu bulan depan kami mulai ngebor,” ujar Djoko Siswanto.
Saat ini, PHSS sendiri telah mengelola 79 sumur di wilayah tersebut, yang menunjukkan bahwa kawasan Samboja semakin strategis sebagai pusat produksi migas nasional.
Ketahanan Energi Terbaik
Temuan ini datang di tengah upaya pemerintah memperkuat ketahanan energi domestik. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyebut Indonesia kini dinilai sebagai salah satu negara dengan ketahanan energi terbaik di dunia.
"Dalam kondisi seperti ini, kita harus bersyukur di bawah kepemimpinan Presiden Bapak Prabowo Subianto yang notabene-nya adalah alumni TNI, Indonesia dinilai oleh JP Morgan itu menjadi negara terbaik kedua di dunia yang mempunyai ketahanan energi," ujar Bahlil.
Penilaian tersebut merujuk laporan Eye on the Market dari JP Morgan Asset Management yang menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar dunia. Indonesia menempati posisi kedua, hanya di bawah Afrika Selatan dan di atas Tiongkok.
Ketahanan ini didukung oleh kombinasi produksi migas domestik, cadangan batu bara yang besar, serta potensi energi baru dan terbarukan. Data Kementerian ESDM menunjukkan lifting minyak Indonesia pada 2025 mencapai 605 ribu barel per hari, sesuai target APBN, dan ditingkatkan menjadi 610 ribu barel per hari pada 2026.
Selain temuan di Samboja, eksplorasi di Blok Ganal Kalimantan Timur juga mengungkap potensi besar. Sumur Geliga-1 diperkirakan menyimpan sekitar 5 triliun kaki kubik gas dan 300 juta barel kondensat, yang diproyeksikan mulai produksi pada 2028–2029.
"Satu tahun setengah kita melakukan eksplorasi, kita dapat lagi gas di Kalimantan Timur, namanya Geliga. Itu 5 TCF, 5 triliun mm. Dengan mendapatkan 300 juta kondensat, ekuivalen dengan 375 juta barel minyak. Ini akan produksi di 2028-2029," jelasnya.
Di sisi lain, pemerintah juga mendorong pengurangan impor energi, terutama bahan bakar minyak (BBM). Program biodiesel B50 ditargetkan mulai berlaku nasional pada Juli 2026, yang diyakini mampu menekan ketergantungan impor solar.
"Kebutuhan kita, BBM solar, pada tahun 2026, itu kita butuh kurang lebih sekitar 40 juta kiloliter. Dari 40 juta kiloliter ini, kita dengan B40 dan B50, alhamdulillah mulai tahun 2026, tidak lagi kita melakukan impor solar pertama sejak republik ini berdiri. Dari solar kita sudah tidak impor," jelas Bahlil.
Upaya substitusi energi juga dilakukan melalui pengembangan Dimetil Eter (DME) dan Compressed Natural Gas (CNG), yang mulai dimanfaatkan di sektor industri dan transportasi.
Dengan berbagai temuan dan strategi tersebut, Indonesia dinilai semakin memiliki fondasi kuat untuk menghadapi gejolak energi global. Temuan sumur baru di Samboja tidak hanya menambah cadangan nasional, tetapi juga memperkuat arah kebijakan menuju kemandirian energi yang lebih berkelanjutan.
Tinggalkan Komentar
Komentar