Periskop.id - Sektor kosmetik dan perawatan diri kembali menghadirkan produk berbasis pemanfaatan limbah pertanian melalui peluncuran Hi-To-Go Sun Protector. Produk sunscreen ini dikembangkan menggunakan ekstrak rambut jagung sebagai bahan aktif alami.
Inovasi tersebut merupakan hasil kolaborasi riset antara Universitas Brawijaya (UB) dengan PT Cedefindo, perusahaan di bawah naungan Martha Tilaar Group, yang menyasar pasar perawatan anak usia 4 hingga 14 tahun melalui lini merek BOUMI.
Pengembangan sunscreen ini didasarkan pada upaya pengalihan limbah pertanian menjadi bahan baku kosmetik yang memiliki nilai ekonomi.
Rosalina Ariesta Laeliocattleya, dosen dari Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB yang memprakarsai riset ini, menyebutkan bahwa ide awal produk berangkat dari melimpahnya limbah rambut jagung yang selama ini belum diolah secara maksimal.
“Kami ingin mengkaji nilai bahan aktif dalam suatu produk yang awalnya dianggap limbah, seperti rambut jagung, sehingga bisa memberikan nilai tambah sekaligus lebih ramah lingkungan,” ujarnya, sebagaimana dikutip dari laman prasetya.ub.ac.id, Selasa (21/4).
Detail Formulasi dan Fungsi Produk
Hi-To-Go Sun Protector dirancang dengan mengombinasikan ekstrak rambut jagung (zea mays silk extract) dengan bahan pendukung lainnya seperti minyak atsiri dan lavandula hybrida oil.
Secara teknis, produk ini dilengkapi dengan kandungan SPF 50 PA++ yang berfungsi memproteksi kulit dari paparan sinar UVA dan UVB. Selain faktor perlindungan matahari, formulasi ini ditujukan untuk menjaga kelembapan kulit dan memberikan aroma lavender sebagai penambah kenyamanan penggunaan.
Mengingat target penggunanya adalah anak-anak dengan karakter kulit yang cenderung sensitif, pemilihan bahan alami menjadi prioritas dalam riset ini. Dari sisi kepraktisan, produk dikemas dalam bentuk spray agar memudahkan aplikasi secara mandiri oleh anak-anak.
“Produk ini kami rancang agar praktis, sehingga bentuknya spray dan mudah digunakan oleh anak-anak,” jelas Rosalina.
Skema Produksi dan Kemitraan Bahan Baku
Saat ini, Hi-To-Go Sun Protector telah masuk ke tahap produksi massal di PT Cedefindo. Untuk memenuhi kebutuhan industri, pasokan rambut jagung diperoleh melalui kerja sama dengan para petani di wilayah Pulau Jawa. Pola kemitraan ini memungkinkan adanya pemanfaatan sisa panen yang selama ini tidak terpakai oleh industri pangan utama.
“Kami bekerja sama dengan petani untuk memanfaatkan limbah rambut jagung, tapi tidak menutup kemungkinan dapat bekerja sama dengan industri lain yang juga menghasilkan limbah rambut jagung,” tambahnya.
Mengenai aspek ekonomi, penggunaan limbah sebagai bahan utama sunscreen dinilai dapat meningkatkan efisiensi biaya produksi dibandingkan menggunakan bahan kimia sintetis atau bahan baku impor. Hal ini sekaligus membuka ruang bagi pengembangan bahan aktif lokal lainnya yang memiliki potensi serupa.
Prospek Pengembangan Riset Lanjutan
Menurut Rosalina, potensi bahan aktif pangan lokal sebagai agen anti-UV masih sangat luas dan tidak terbatas pada rambut jagung saja. Riset mendatang direncanakan akan mengkaji kombinasi berbagai bahan lokal untuk meningkatkan efektivitas perlindungan sinar matahari.
“Pada dasarnya, banyak bahan aktif pangan lokal yang kami kaji memiliki potensi anti UV, sehingga ke depan bisa dikembangkan lebih luas, termasuk dikombinasikan dengan bahan lain untuk meningkatkan efektivitasnya,” ungkapnya.
Selain untuk kebutuhan luar tubuh, tim peneliti juga tengah melihat peluang penggunaan rambut jagung untuk produk konsumsi seperti teh herbal, bahkan potensi medis lainnya. Namun, Rosalina menekankan bahwa pengembangan tersebut masih berada dalam tahap riset awal.
“Kami juga sedang mengkaji kemungkinan penggunaan rambut jagung secara langsung, misalnya untuk teh herbal, namun ini masih dalam tahap riset lebih lanjut,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar