iklan periskop
Komoditas

Harga Minyak Dunia Naik, Brent ke US$89,63 per Barel

Harga minyak Brent dan WTI menguat Rabu pagi akibat ketegangan AS-Iran dan serangan kapal di Selat Hormuz, meski persediaan minyak AS justru melonjak.

12 jam yang lalu · 2 mnt baca
Harga Minyak Dunia Tertekan Kekhawatiran Pasokan, Meski Permintaan AS Masih Kuat
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia kembali menguat pada Rabu (12/8) pagi. Kenaikan ini dipicu meningkatnya keraguan atas tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, serta serangan terhadap dua kapal di kawasan Timur Tengah.

Berdasarkan data yang dilansir Reuters pukul 00.53 GMT, harga minyak Brent untuk kontrak berjangka naik 72 sen atau 0,81% menjadi US$89,63 per barel. Sementara itu, WTI menguat 71 sen atau 0,85% ke level US$83,91 per barel, melanjutkan tren penutupan tertinggi sejak 31 Juli pada perdagangan Selasa (11/8).

"Penambahan persediaan minyak mentah jauh melampaui ekspektasi dan, jika dikonfirmasi laporan EIA, dapat meredakan kekhawatiran pasar mengenai ketatnya pasokan," tulis Haitong Futures dalam catatan risetnya, Rabu (12/8).

Penguatan harga minyak sebenarnya sudah berlangsung sejak Senin (10/8), ketika Brent dan WTI melonjak sekitar 5% akibat memudarnya harapan terhadap kesepakatan damai AS-Iran. Kondisi itu diperparah oleh serangan terpisah terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb yang dilaporkan AS dan kelompok Houthi pada Selasa.

Kedua selat tersebut merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Selat Hormuz khususnya menjadi rute utama pengiriman minyak dan gas dari Teluk Persia ke pasar dunia.

Pejabat keamanan tinggi Iran Mohsen Rezaei menyatakan, Selat Hormuz akan tetap ditutup selama AS belum menerima persyaratan Iran untuk mengakhiri perang. Persyaratan itu mencakup pembebasan aset Iran yang dibekukan serta penghentian konflik di berbagai wilayah Timur Tengah, menurut Rezaei.

Dampaknya sudah terasa di lalu lintas pelayaran. Data menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz turun menjadi hanya enam unit pada Senin, jauh di bawah rata-rata 11 kapal dalam 10 hari terakhir.

Sebelum perang berlangsung, lalu lintas harian di jalur tersebut rata-rata mencapai 125 hingga 140 kapal.

Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak berpotensi datang dari lonjakan persediaan minyak mentah AS. Jajak pendapat Reuters sebelumnya memperkirakan persediaan minyak mentah dan bahan bakar AS justru turun pada pekan lalu.

Namun sumber pasar yang mengutip data American Petroleum Institute (API) menyebut persediaan minyak mentah AS melonjak sekitar 9,1 juta barel untuk pekan yang berakhir 7 Agustus. Stok bensin tercatat turun sekitar 1,5 juta barel dan persediaan distilat berkurang sekitar 596.000 barel dibandingkan pekan sebelumnya.

Kenaikan persediaan minyak mentah itu jauh lebih besar dibandingkan perkiraan pasar. Laporan resmi Energy Information Administration (EIA), badan statistik Departemen Energi AS, dijadwalkan terbit Rabu pukul 10.30 waktu AS atau 14.30 GMT.

Untuk jangka panjang, EIA memperkirakan gangguan pasokan minyak mentah dari Timur Tengah sekitar 600.000 barel per hari masih akan berlangsung hingga akhir 2027, meski kenaikan stok AS bisa menekan harga dalam jangka pendek.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai American Petroleum Institute (API), Administrasi Informasi Energi (EIA), harga minyak dunia hari ini, West Texas Intermediate (WTI), dan Brent Crude dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.