iklan periskop
Komoditas

Harga Minyak Turun, Stok AS Melonjak ke Level Tertinggi

Harga minyak Brent dan WTI turun pada Kamis, tertekan lonjakan stok AS dan proyeksi permintaan global yang melemah, meski masih disokong ketegangan di Selat Hormuz.

57 menit yang lalu · 2 mnt baca
Harga Minyak Dunia Tertekan Kekhawatiran Pasokan, Meski Permintaan AS Masih Kuat
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia turun pada Kamis (13/8), tertekan proyeksi melemahnya permintaan global tahun ini dan lonjakan stok minyak mentah Amerika Serikat (AS). Penurunan ini memangkas tren kenaikan yang sempat terjadi dalam beberapa sesi sebelumnya.

Kontrak berjangka Brent tercatat turun US$1,54 atau 1,7%, menjadi US$87,44 per barel pada pukul 11.40 GMT. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) merosot US$1,61 atau 1,9%, ke level US$81,66 per barel setelah sempat menguat selama lima sesi beruntun.

"Selat tersebut berada di bawah kendali dan pengelolaan Iran," ujar kepala unit paramiliter Basij Iran yang baru dilantik, Kamis (13/8).

Pernyataan itu muncul sehari setelah Presiden AS Donald Trump mengklaim negaranya memegang "kendali penuh" atas jalur perairan strategis tersebut. Data pelayaran Kpler menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz, tidak termasuk kapal peti kemas, turun menjadi lima unit pada Rabu, angka terendah dalam tiga pekan terakhir.

Analis UBS Giovanni Staunovo menyebutkan, lonjakan besar stok minyak mentah AS pekan lalu jadi faktor penekan utama bagi harga. Ia menambahkan, penurunan harga kemungkinan tetap terbatas selama arus lalu lintas di Selat Hormuz masih terhambat.

Inventaris komersial minyak mentah AS mencatat kenaikan mingguan terbesar sejak Januari 2023 akibat penurunan ekspor, menurut data Energy Information Administration (EIA) yang dirilis Rabu. Stok minyak mentah naik 17,4 juta barel menjadi 424,4 juta barel pada pekan yang berakhir 7 Agustus, level tertinggi sejak 5 Juni.

Angka tersebut jauh di atas proyeksi. Survei analis Reuters sebelumnya memperkirakan stok justru turun 1,4 juta barel.

Di sisi permintaan, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dalam laporan pasar minyak bulanannya menurunkan perkiraan pertumbuhan permintaan minyak dunia untuk 2026 menjadi 580.000 barel per hari. International Energy Agency (IEA) bahkan memproyeksikan kontraksi konsumsi sebesar 1,6 juta barel per hari tahun ini, naik dari perkiraan 1 juta barel per hari pada bulan sebelumnya.

IEA menyebutkan, permintaan tertekan oleh harga yang lebih tinggi dan pasokan terbatas di tengah konflik AS-Israel dan Iran. Gangguan pasokan di Timur Tengah dan kawasan Laut Hitam disebut masih menopang harga, diiringi klaim yang saling bertentangan antara AS dan Iran soal Selat Hormuz.

Di kawasan lain, Rusia melancarkan serangan ke kawasan pelabuhan Izmail di wilayah Odesa, Ukraina selatan, pada malam hari. Serangan pesawat nirawak (drone) juga memicu kebakaran di kawasan industri Salavat, Republik Bashkortostan, Rusia, lokasi berdirinya sebuah kilang minyak besar.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Giovanni Staunovo, UBS, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC+), International Energy Agency (IEA), Administrasi Informasi Energi (EIA), harga minyak dunia, West Texas Intermediate (WTI), dan Brent Crude dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.