iklan periskop
Komoditas

Harga Minyak Dunia Naik ke US$91,87 di Tengah Ketegangan AS-Iran

Harga minyak Brent naik tipis ke US$91,87 per barel, sementara pasar masih menanti kejelasan soal keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

1 jam yang lalu · 3 mnt baca
Harga Minyak Dunia Tertekan Kekhawatiran Pasokan, Meski Permintaan AS Masih Kuat
Ilustrasi harga minyak dunia. Foto: Envato
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Harga minyak dunia bergerak menguat tipis pada perdagangan Kamis (20/8), dipicu perhatian pasar terhadap perkembangan perang Amerika Serikat (AS)-Iran serta keamanan pelayaran di Selat Hormuz. Brent kontrak pengiriman Oktober naik 25 sen atau 0,3% menjadi US$91,87 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS kontrak September justru turun tipis 2 sen menjadi US$85,81 per barel. Kontrak WTI Oktober yang lebih aktif diperdagangkan naik 14 sen atau 0,2% ke level US$84,53 per barel.

Brent dan WTI sama-sama mencatat penguatan untuk sesi keempat berturut-turut pada Rabu (19/8), dan ditutup di level tertinggi sejak 24 Juli. Kontrak WTI September dijadwalkan berakhir pada Kamis (20/8).

Chief Strategist Nissan Securities Investment Hiroyuki Kikukawa menilai kenaikan harga minyak masih bertahan karena pasar tertopang serangan sporadis di Timur Tengah. "Harga minyak tetap tinggi karena pasar didukung oleh serangan sporadis di Timur Tengah, tetapi belum memiliki momentum baru tanpa eskalasi besar," kata Kikukawa, dikutip dari Reuters, Kamis (20/8).

Menurutnya, tren kenaikan harga minyak berpotensi berlanjut secara bertahap seiring ketidakpastian pembicaraan damai dan meningkatnya ketegangan yang melibatkan Uni Emirat Arab (UEA), Oman, dan Iran.

Ketegangan tersebut kian terlihat setelah UEA memutuskan menangguhkan seluruh transaksi keuangan dan ekonomi dengan Iran hingga waktu yang belum ditentukan. Langkah itu menegaskan hubungan yang memanas antara salah satu produsen minyak utama Teluk dengan Iran.

Di sisi lain, kondisi Selat Hormuz masih jadi sorotan utama pelaku pasar. Presiden AS Donald Trump pada Selasa (18/8) menyebut tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung dengan Iran, dan menyatakan Selat Hormuz dalam kondisi terbuka.

Klaim tersebut dibantah Iran. Pemerintah Iran menegaskan jalur perairan strategis itu masih tertutup.

Data pelayaran pada Rabu (19/8) memperlihatkan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz melambat. Sebagian besar pemilik kapal disebut masih menghindari jalur tersebut karena belum ada sinyal jelas soal pembukaan kembali jalur yang sempat diblokade selama perang Iran.

Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi perdagangan minyak global. Gangguan pada lalu lintas kapal di kawasan itu berisiko menghambat pasokan energi dan mengerek harga minyak lebih tinggi.

Dari Amerika Serikat, data Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS naik 4,4 juta barel pada pekan yang berakhir 14 Agustus. Angka ini berbanding terbalik dengan proyeksi pasar yang memperkirakan penurunan sekitar 600 ribu barel.

Selain minyak mentah, stok bensin AS turut meningkat pada periode yang sama, sementara persediaan produk sulingan justru menyusut. Kenaikan stok minyak mentah AS ini menjadi salah satu faktor yang membatasi penguatan harga minyak, di tengah sentimen pasar yang masih dibayangi konflik Timur Tengah dan ketidakpastian keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Hiroyuki Kikukawa, Administrasi Informasi Energi (EIA), harga minyak dunia, West Texas Intermediate (WTI), dan Brent Crude dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.