Periskop.id - Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno mengimbau masyarakat untuk mewaspadai penyebaran penyakit demam berdarah dengue (DBD), pada masa pancaroba yang sudah tiba.  Pria yang biasa disapa Bang Doel itu meminta warga agar menerapkan "3M (menguras, menutup dan mengubur)" sebagai upaya antisipasi penyakit tersebut.

"Ini menjadi warning (peringatan) bagi kita semua. Biasa itu, pancaroba setelah musim hujan, akan muncul DBD. Saya ingatkan saja, penting untuk menerapkan 3M. Itu jangan sampai kita lupa," ujar Rano saat mengunjungi Kantor Pemerintah Kota Jakarta Barat, Senin (5/1). 

Dia pun meminta agar Kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) bergerak lebih optimal, untuk menyidak kebiasaan masyarakat yang berpotensi meningkatkan kasus DBD. “Kita kan sudah punya Tim Jumantik, dan itu harus lebih dioptimalkan lagi," kata Rano.

Pencegahan DBD
Sementara itu, Praktisi Kesehatan Masyarakat Dokter Ngabila Salama menyarankan, agar masyarakat rajin membersihkan rumahnya dari jentik, debu atau kotoran, agar tidak terjangkit penyakit rutin musim pancaroba, salah satunya DBD.

"Kalau kita tidak rajin bersih-bersih lingkungan, rumah, dan juga tentunya kalau demam berdarah tidak PSN (Pemberantasan Sarang Nyamuk), 3M+, terus juga kita membuat perindukan nyamuk maupun jentik, ya, otomatis itu juga akan membuat menjadi lebih mudah virus demam berdarah melalui perantaraan nyamuk Aedes Aegypti," tutur Ngabila.

Menurut dia, nyamuk penyebab demam berdarah lebih mudah menjangkiti masyarakat pada musim pancaroba. "Pada musim itu, ada banyak tempat yang jadi lahan jentik nyamuk Aedes Aegypti berkembang biak, seperti di ember-ember atau kaleng-kaleng bekas," terang Ngabila.

Dalam kondisi tersebut, dia menyarankan agar masyarakat lebih bisa memproteksi diri dengan mengonsumsi vitamin atau makanan yang kaya antioksidan, di antaranya sayur dan buah. "Tapi kalau seandainya kita memang butuh dengan cepat, itu kita bisa minum vitamin C sekali sehari," ungkap Ngabila.

Pola Hidup Sehat
Tak kalah penting, ia juga mengingatkan masyarakat agar selalu menjalankan pola hidup bersih dan sehat. "Kalau terkait demam berdarah, ada yang namanya Gerakan Satu Rumah, Satu Kader Jumantik. Jadi, silakan di rumah ditunjuk, apakah ibu, apakah bapak, apakah anak, apakah asisten rumah tangga, itu dijadikan satu orang Kader Jumantik," tuturnya. 

Lebih lanjut, dia menjelaskan pada pukul 10.00 WIB, pemantauan jentik dapat dilakukan selama 10 menit saja, namun pemantauan itu dilakukan selama 10 minggu. "Jadi, setiap Jumat pagi, kita lakukan dengan 3x10, yaitu 10 pertama adalah pukul 10 pagi, saat nyamuknya aktif, pukul 8-10 pagi atau pukul 3-5 sore," pungkasnya.

Sekadar catatan, Dinas Kesehatan DKI Jakarta menangani 9.362 kasus DBD hingga pertengahan November 2025. Jakarta Barat menjadi wilayah kasus DBD tertinggi di Jakarta dengan 2.676 kasus.