Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo menginstruksikan jajarannya, tidak hanya melaksanakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah Jakarta, tetapi juga di sekitar ibu kota seperti Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi.

“Kemarin kami juga menyampaikan kepada BMKG untuk konsentrasi (OMC) jangan hanya Jakarta, kiri-kanannya juga dilakukan modifikasi cuaca terutama,Tangerang, Bekasi kemudian Bogor, Depok dan sebagainya," kata dia saat dijumpai Jakarta Barat, Kamis (22/1).

Hari ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pun masih melakukan operasi modifikasi cuaca. Pramono mengatakan, hari ini akan dilakukan dua kali penerbangan untuk OMC di Jakarta.

"Dari jam 7.30 WIB tadi kami sudah melakukan modifikasi cuaca. Dalam hari ini, kita akan menerbangkan dua kali. Jadi Jakarta juga mudah-mudahan curah hujannya tidak seperti yang diprediksi oleh BMKG," ungkap Pramono.

Pramono menyebutkan, Jakarta diprediksi akan turun hujan selama delapan jam. Ia berharap hal tersebut tidak akan terjadi setelah dilakukan OMC. Ia juga berharap agar banjir tidak terjadi di Jakarta.  

Namun jika banjir, Pramono akan mengeluarkan imbauan bekerja dari rumah (Work From Home/WFH) apabila terjadi indikasi banjir seperti akhir pekan lalu.

Tak hanya bagi pekerja, Pramono mengatakan, kebijakan pembelajaran jarak jauh (PJJ) bagi dunia pendidikan juga akan diberikan apabila situasi banjir di Jakarta dinilai cukup parah. Kendati demikian, WFH dan PJJ tak akan dilakukan jika tidak terjadi banjir di Jakarta.

Selat Sunda
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi DKI Jakarta, menebar 2,4 ton bahan semai berupa natrium klorida (NaCl) dan kalsium oksida (CaO) pada hari keenam, Rabu (21/1) OMC. Operasi ini dilakukan untuk mitigasi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi.

"Operasi modifikasi cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan dan analisis meteorologi secara berkelanjutan untuk mengurangi potensi hujan ekstrem," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kebencanaan BPBD Mohamad Yohan, di Jakarta, Rabu.

Yohan mengatakan, pelaksanaan OMC pada hari keenam ini adalah langkah mitigasi untuk menghadapi cuaca ekstrem dan potensi bencana hidrometeorologi di DKI Jakarta dan sekitarnya. Menurut dia, pelaksanaan OMC hari keenam dilakukan melalui tiga kali penerbangan pesawat CASSA 212 A-2105 yang berpangkalan di Bandara Halim Perdanakusuma, dengan menyemai sebanyak 2,4 ton NaCl dan CaO.

Ia menjelaskan, pada penerbangan pertama, penyemaian awan difokuskan di wilayah Perairan Selat Sunda, pada ketinggian 10.000–11.000 kaki dengan target awan cumulus mediocris yang memiliki basis sekitar 5.000 kaki dan puncak hingga 12.000 kaki.

"Penyemaian menggunakan 800 kilogram NaCl dengan tujuan meluruhkan awan hujan yang bergerak menuju daratan Jabodetabek agar presipitasi terkonsentrasi di perairan," ujarnya.

Penerbangan kedua lanjut Yohan, dilaksanakan pada siang hari dengan area semai di atas perairan Selat Sunda pada radial 250–300 dan jarak 80–110 mil laut dari Halim. Penerbangan dilakukan pada ketinggian 8.000–12.000 kaki dengan bahan semai NaCl sebanyak 800 kilogram.

"Ini bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan awan hujan di wilayah perairan barat agar hujan tidak terkonsentrasi di daratan Jakarta," imbuhnya. 

Selanjutnya, penerbangan ketiga difokuskan pada wilayah di atas Kabupaten Bekasi. Penyemaian dilakukan pada ketinggian 5.000–7.000 kaki dengan menggunakan 800 kilogram kalsium oksida (CaO). Upaya tersebut ditujukan untuk menekan intensitas awan hujan di wilayah timur yang berpotensi mempengaruhi kondisi cuaca di DKI Jakarta.

Sementara itu, Deputi Modifikasi Cuaca BMKG Budi Harsoyo menyampaikan bahwa kondisi atmosfer pada Rabu ini menunjukkan potensi cuaca yang lebih ekstrem. "Hari ini, 21 Januari, prediksi cuaca lebih ekstrem dibandingkan tanggal 12 dan 18 Januari lalu pada saat terjadinya banjir di Jakarta," ucapnhya. 

Ia menyampaikan, berdasarkan prakiraan cuaca ke depan, risiko masih berada pada kategori menengah sehingga pelaksanaan OMC sementara direncanakan hingga 22 Januari 2026.

Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menjelaskan penyemaian awan diprioritaskan pada sistem awan hujan yang masih berada di wilayah perairan sebelum memasuki daratan Jakarta dan sekitarnya.

“Tujuannya agar curah hujan dapat diturunkan lebih awal dan tidak terkonsentrasi di wilayah daratan yang padat penduduk,” ujar Handoko.