periskop.id - Pasar kripto menguat signifikan setelah Bitcoin kembali menembus level US$96.232 atau sekitar Rp1,64 miliar (kurs Rp16.875 per dolar AS) pada perdagangan Kamis (14/1). Kenaikan ini didorong oleh kombinasi sentimen positif dari data inflasi Amerika Serikat yang lebih moderat serta kemajuan pembahasan regulasi aset kripto di Negeri Paman Sam.
Berdasarkan data perdagangan global, Bitcoin sempat naik sekitar 3,6% ke level US$96.876. Ethereum (ETH) turut menguat 4,8%, sementara XRP mencatat kenaikan sekitar 1,4%. Reli ini terjadi setelah rilis data Indeks Harga Konsumen (CPI) AS bulan Desember yang menunjukkan inflasi inti lebih terkendali, memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga dalam waktu dekat.
CPI AS tercatat naik 0,3% secara bulanan dan 2,7% secara tahunan, sementara inflasi inti hanya naik 0,2% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan. Data ini meningkatkan optimisme pasar terhadap pelonggaran kondisi likuiditas ke depan, yang secara historis berdampak positif bagi aset berisiko termasuk kripto.
Dari sisi kebijakan, sentimen pasar turut diperkuat oleh diperkenalkannya draf RUU “Digital Asset Market CLARITY Act” oleh Senator AS menjelang pembahasan di Senate Banking Committee. RUU ini bertujuan memperjelas klasifikasi aset kripto sebagai sekuritas atau komoditas, sekaligus memberikan kewenangan lebih luas kepada Commodity Futures Trading Commission (CFTC) untuk mengawasi pasar spot kripto.
Analis Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai kombinasi faktor makroekonomi dan regulasi ini menjadi katalis penting bagi pergerakan harga Bitcoin.
“Pasar melihat adanya sinyal yang semakin jelas bahwa tekanan kebijakan moneter mulai mereda, sementara regulasi kripto di AS bergerak ke arah yang lebih konstruktif. Kepastian regulasi adalah faktor krusial bagi masuknya modal institusional, dan ini yang saat ini mulai diantisipasi oleh pasar,” ujarnya, Kamis (15/1).
Secara teknikal, Bitcoin telah keluar dari fase konsolidasi yang cukup panjang sejak akhir 2025. Penembusan area US$94.000 yang kini menjadi support kuat menunjukkan dominasi pembeli semakin solid.
“Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang untuk menguji kembali area psikologis US$100.000 tetap terbuka,” imbuh Fyqieh.
Selain faktor regulasi dan inflasi, arus dana institusional juga menjadi pendorong utama. Tercatat, ETF Bitcoin spot di AS mencatat arus masuk dana bersih lebih dari US$750 juta dalam satu hari, tertinggi sejak Oktober 2025. Di saat yang sama, terjadi rotasi modal dari pasar saham dan emas, seiring meningkatnya volatilitas di pasar keuangan tradisional.
Namun demikian, Fyqieh mengingatkan bahwa volatilitas tetap menjadi karakter utama pasar kripto. Meski tren Bitcoin masih bullish, pasar kini memasuki fase yang kerap disebut sebagai bagian tersulit dalam reli. Setelah breakout terjadi, pergerakan berikutnya biasanya tidak seatraktif lonjakan awal karena harga cenderung melambat di area-level tinggi.
Bitcoin Menuju US$100.000: Mungkinkah Terwujud Bulan Ini?
Menurutnya, jika Bitcoin sempat terkoreksi atau turun kembali di bawah US$100.000, kondisi itu tidak otomatis menandakan pelemahan. Pergerakan tersebut bisa saja mencerminkan fase konsolidasi yang wajar, seiring pasar menyesuaikan diri terhadap peningkatan likuiditas dan aksi ambil untung.
Sebaliknya, apabila Bitcoin mampu menembus dan bertahan stabil di atas US$100.000, level psikologis itu berpotensi berubah dari hambatan menjadi pijakan baru. Dalam skenario ini, peluang terjadinya percepatan “price discovery” atau penemuan harga menuju area yang lebih tinggi bisa terbuka lebih lebar.
“Karena itu, dalam jangka pendek investor perlu mengantisipasi volatilitas yang lebih tinggi, pergerakan yang sensitif terhadap berita, serta tarik-menarik harga di sekitar US$100.000 sampai permintaan benar-benar melampaui tekanan jual atau pasar membutuhkan waktu untuk membangun momentum,” ujar Fyqieh.
Meskipun prospeknya positif, investor tetap perlu mencermati risiko jangka pendek, seperti potensi lonjakan inflasi lanjutan atau sentimen risk-off global. Pasar kripto sangat responsif terhadap perubahan ekspektasi likuiditas.
Ke depan, pelaku pasar akan mencermati hasil pembahasan lanjutan RUU kripto di Senat AS serta dinamika kebijakan moneter The Fed. Dengan dukungan fundamental yang semakin kuat, Bitcoin dinilai masih memiliki ruang pertumbuhan sepanjang 2026, terutama jika kepastian regulasi global terus membaik dan likuiditas kembali longgar.
Tinggalkan Komentar
Komentar