periskop.id – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai hingga kini belum terlihat sosok sepadan yang mampu menantang Presiden Prabowo Subianto pada Pemilu 2029 mendatang.
Ia menyebut penerimaan publik terhadap Prabowo masih relatif tinggi, sementara poros oposisi belum memunculkan tokoh kuat.
"Prabowo hingga saat ini masih diterima dengan baik. Program-program seperti MBG (Makan Bergizi Gratis) masih disukai oleh masyarakat," kata pria yang akrab disapa Hensa itu dalam keterangan tertulis di Jakarta, dikutip Sabtu (7/2).
Pendiri Lembaga Survei KedaiKOPI ini memaparkan dua alasan utama di balik penilaian tersebut. Pertama, respons masyarakat terhadap kepemimpinan Prabowo sejauh ini masih positif, terutama terkait program yang berdampak langsung.
Alasan kedua, belum ada figur alternatif yang muncul secara konsisten dengan daya saing tinggi. Partai oposisi pun terlihat belum memanaskan mesin politik untuk memperkenalkan kandidat baru.
"Bahkan, oposisi seperti PDI Perjuangan belum ada geliat akan mengeluarkan jagoannya per hari ini ya," ujarnya.
Di sisi lain, Hensa justru menyoroti pembahasan mengenai sosok pendamping Prabowo di masa depan. Pilihan wakil presiden akan sangat menentukan stabilitas pemerintahan sekaligus memengaruhi peta kompetisi pemilu.
Menurutnya, ada tiga kriteria ideal untuk mendampingi Prabowo nanti. Opsinya berkisar pada kader internal Gerindra, kalangan profesional non-partai, atau figur yang tidak memiliki ambisi menjadi calon presiden.
Hensa menyarankan figur dari internal Partai Gerindra sebagai opsi strategis. Langkah ini penting untuk mencegah efek politik yang justru membesarkan partai lain di dalam koalisi.
"Pak Prabowo akan rugi jika ia memilih calon wapres dari partai lain, karena itu sama saja memberikan panggung bagi partai lain untuk bersinar," katanya.
Selain itu, ia juga memperingatkan risiko memilih sosok dengan ambisi politik tinggi. Figur seperti ini dikhawatirkan lebih sibuk membangun citra pribadi ketimbang fokus membantu kinerja presiden.
"Kalau dia berambisi jadi capres, dia akan sibuk mencari panggung dan tidak fokus membantu kerja presiden," tutur Hensa.
Terkait peluang Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Hensa memberikan catatan khusus. Jika Gibran memiliki orientasi kuat maju sebagai calon presiden pada 2034, Prabowo sebaiknya tidak memilihnya kembali sebagai pendamping.
"Kalau Gibran berambisi jadi capres 2034, sebaiknya Prabowo enggak pilih," tuturnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar