MBG Positif Bakteri, 707 Siswa Semarang Keracunan
Uji lab Dinkes Kota Semarang memastikan menu MBG yang bikin 707 siswa dan guru SMKN 6 keracunan positif tiga jenis bakteri berbahaya.

Periskop.id - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Semarang mengungkap hasil uji laboratorium menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga menyebabkan 707 siswa dan guru SMKN 6 Semarang keracunan. Sampel makanan tersebut dipastikan positif mengandung tiga jenis bakteri berbahaya.
Kepala Dinkes Kota Semarang Mochamad Abdul Hakam menyampaikan, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan itu sudah keluar sejak pekan lalu. Ia menyebutkan, bakteri ditemukan pada lauk rendang dan telur puyuh yang dibagikan pada 31 Juli 2026.
"E.coli positif. Salmonella juga positif. Dan staphylococcus. Sudah tiga itu," kata Hakam saat dihubungi di Semarang, Selasa (11/8).
Dinkes Kota Semarang disebut bakal memperketat pengawasan menu MBG usai insiden tersebut. Instansi itu telah menyepakati rencana sampling mikrobiologi harian bersama Satuan Tugas dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"Ini sudah disepakati kemarin sama Satgas, sama SPPG, ke depan itu kita kepingin melakukan sampling di SPPG setiap hari, yang kita sampling mikrobiologi," ujar Hakam.
Hakam menegaskan, jajarannya siap turun langsung ke lapangan untuk memeriksa kondisi mikrobiologi makanan MBG. Namun, ia menyebutkan pemeriksaan rutin itu masih menunggu izin dari Badan Gizi Nasional (BGN).
"Kami siap, yang melakukan pemeriksaan siap. Tapi yang diperiksa ini bagaimana? Kan kita tetap harus izin ke BGN dulu," ucap Hakam.
Menurut Hakam, Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti sudah mendorong pemeriksaan mikrobiologi pada menu MBG sejak tiga bulan lalu. Ia menyebutkan, pembiayaan pemeriksaan itu nantinya ditanggung SPPG, bukan Dinkes.
"Tinggal sekarang bola panasnya itu BGN kapan mintanya? Karena mereka kan harus membayar pemeriksaan itu SPPG-nya," kata dia.
Hakam merinci, biaya pengujian satu jenis bakteri sekitar Rp100 ribu. Artinya, pengujian tiga jenis bakteri seperti kasus SMKN 6 menelan biaya sekitar Rp300 ribu. Ia menambahkan, jika hasil pemeriksaan mikrobiologi menunjukkan hasil positif, Dinkes bakal merekomendasikan inspeksi kesehatan lingkungan ke SPPG penyalur.
Saat ini terdapat 180 SPPG yang beroperasi di Kota Semarang. Seluruhnya, menurut Hakam, sudah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
"Sebetulnya ini memudahkan dan membuat aman para kawan-kawan BGN," ujar Hakam.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Badan Gizi Nasional (BGN) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.