iklan periskop
Nasional

Gempa M7 Guncang NTT, Tsunami Terjang 10 Wilayah

Gempa M7 di Nagekeo, NTT memicu tsunami hingga 0,94 meter di sejumlah wilayah. BMKG catat puluhan gempa susulan sebelum peringatan dini dicabut.

1 hari yang lalu · 3 mnt baca
Kenali Megatsunami, Fenomena Gelombang Besar yang Menghantam Wilayah Greenland
Ilustrasi realistis megatsunami. AI Generated Image
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Gempa bumi bermagnitudo 7 mengguncang wilayah Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (15/8) dini hari. Guncangan tersebut memicu gelombang tsunami di sejumlah wilayah pesisir dengan ketinggian tertinggi mencapai 0,94 meter.

Direktur Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wijayanto menjelaskan, status ancaman tsunami terbagi dalam dua kategori. Ia memaparkan, level siaga dengan potensi gelombang 0,5 hingga 3 meter berlaku di Manggarai bagian utara, Ngada bagian utara, Ende, Flores Timur, dan Jeneponto.

"Peringatan dini tsunami BMKG menunjukkan gempa bumi ini berpotensi tsunami dengan tingkat status ancaman siaga (0,5-3 meter) terjadi di wilayah Manggarai Bagian Utara, Ngada Bagian Utara, Ende, Flores Timur, Jeneponto. Waspada (0,5 meter) terjadi di wilayah Flores Timur, Bima, Dompu, Wajo," kata Wijayanto dalam keterangan resmi BMKG, Sabtu (15/8/2026).

Selain dua daerah berstatus siaga, level waspada dengan potensi gelombang 0,5 meter juga ditetapkan di Flores Timur, Bima, Dompu, dan Wajo. Status tersebut ditetapkan tak lama usai gempa terjadi sebagai dasar evakuasi warga di kawasan pesisir.

Hasil observasi lapangan BMKG mencatat kenaikan muka air laut di 10 titik pemantauan. Sikka jadi lokasi pertama yang terdampak pada pukul 05.03 WIB dengan ketinggian 0,2 meter, disusul Pelabuhan Kewapante-Sikka pukul 05.16 WIB setinggi 0,38 meter.

Gelombang juga tercatat di Flores Timur pukul 05.24 WIB (0,25 meter), Labuan Bajo pukul 05.26 WIB (0,36 meter), dan Maurole-Ende pukul 05.27 WIB dengan ketinggian tertinggi 0,94 meter. Tiga wilayah lain turut terdampak, yakni Dompu pukul 05.29 WIB (0,17 meter), Bakalang-Alor pukul 05.41 WIB (0,14 meter), dan Baubau pukul 05.47 WIB (0,30 meter).

Dua lokasi terakhir yang tercatat mengalami kenaikan muka air adalah Bulukumba pukul 05.58 WIB setinggi 0,54 meter dan Kolaka pukul 06.27 WIB setinggi 0,23 meter. Dari seluruh titik pemantauan, tidak ada laporan gelombang yang melampaui level siaga.

Setelah memantau perkembangan di lapangan, BMKG akhirnya mencabut status peringatan dini tsunami. Wijayanto menerangkan, keputusan itu diambil karena tidak ditemukan lagi kenaikan muka air laut yang membahayakan.

"Dengan memperhatikan kondisi terkini, terkait dengan hasil observasi tinggi muka laut di wilayah terdampak, tidak ada lagi kenaikan muka air laut signifikan yang membahayakan, maka peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pada pukul 07.30 WIB," jelasnya.

Meski peringatan tsunami sudah dicabut, ancaman gempa susulan belum sepenuhnya reda. Hingga pukul 08.00 WIB, BMKG mencatat 52 aktivitas gempa susulan dengan magnitudo antara 3,6 hingga 6,2, dan satu di antaranya dirasakan warga.

Banyaknya gempa susulan ini membuat BMKG meminta masyarakat tetap waspada, terutama warga yang tinggal di sekitar bangunan yang sudah retak akibat guncangan sebelumnya. Wijayanto turut mengimbau publik agar tidak mudah percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya.

"Himbauan kepada masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Menghindari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi. Mewaspadai gempa bumi susulan yang masih terjadi," pungkas Wijayanto.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Wijayanto, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.