DKI Siapkan Bantuan Gempa NTT, Posko Distribusi Jalur Udara di Halim Diaktifkan
Pemprov DKI menyiapkan bantuan pangan dan perlengkapan bagi korban gempa NTT. Posko jalur udara di Halim diaktifkan untuk mempercepat distribusi

Periskop.id - Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyiapkan bantuan pangan dan perlengkapan pengungsian bagi korban gempa magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT). Agar bantuan yang dikirim tidak menumpuk atau justru tidak sesuai kebutuhan, BPBD DKI terlebih dahulu menginventarisasi kebutuhan aktual di lapangan bersama BNPB dan BPBD NTT.
Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan koordinasi dilakukan mulai dari penentuan jenis dan jumlah bantuan hingga cara pengiriman. Jalur udara menjadi salah satu opsi utama untuk mempercepat distribusi menuju wilayah terdampak di Flores.
“Koordinasi juga dilakukan untuk menentukan metode pengiriman bantuan yang paling efektif, termasuk melalui jalur udara, sehingga bantuan dapat segera diberangkatkan dan diterima oleh masyarakat yang membutuhkan,” kata Marulitua dalam keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (16/8/2026).
Bantuan yang disiapkan terdiri atas logistik pangan berupa makanan siap saji, biskuit dan air mineral. Sementara bantuan nonpangan mencakup kasur lipat, bantal, selimut, family kit, kidsware hingga terpal. Perlengkapan tersebut diprioritaskan untuk mendukung kebutuhan dasar pengungsi, termasuk keluarga dan anak-anak.
“Jumlah dan jenis bantuan juga akan menyesuaikan dengan update data dari Pemprov NTT,” ujarnya.
Posko di Halim Jadi Jalur Distribusi Bantuan
Untuk mempercepat pengiriman, Posko gabungan TNI AU, BNPB dan BPBD DKI Jakarta di Bandara Halim Perdanakusuma mulai diaktifkan pada Minggu, 16 Agustus 2026. Bantuan dari Jakarta nantinya masuk ke sistem distribusi nasional sebelum diterbangkan ke wilayah terdampak.
Skema tersebut sejalan dengan langkah BNPB yang membuka Posko Logistik Nasional di Halim Perdanakusuma. Posko berfungsi sebagai titik penerimaan sekaligus distribusi bantuan dari kementerian, lembaga, BUMN, swasta maupun masyarakat sebelum dikirim melalui jalur udara ke Labuan Bajo atau Maumere.
BNPB juga telah membentuk Posko Nasional Pendampingan Provinsi di Labuan Bajo dan Posko Taktis di Maumere. Pembagian titik operasi itu dilakukan agar bantuan dan penanganan dapat menjangkau kabupaten terdampak di Flores bagian barat maupun timur dengan lebih cepat.
Pemprov DKI melalui Korpri Provinsi DKI Jakarta turut mengajak perangkat daerah dan BUMD berpartisipasi memberikan bantuan atau donasi. BPBD DKI akan terus berkoordinasi agar lokasi tujuan dan mekanisme pendistribusian disesuaikan dengan kondisi terbaru di NTT.
“Ketika saudara-saudara kita mengalami bencana, kepedulian dan solidaritas dari seluruh daerah sangat dibutuhkan,” ujar Marulitua.

9.290 Warga Masih Berada di Pengungsian
Kebutuhan bantuan masih cukup besar. Berdasarkan pemutakhiran BNPB hingga Minggu pukul 00.00 WIB, sebanyak 9.290 warga masih bertahan di lokasi pengungsian setelah gempa mengguncang Flores. Konsentrasi terbesar tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 3.356 jiwa dan Kabupaten Manggarai 2.078 jiwa.
Di Sikka, sebanyak 1.356 warga mengungsi di GOR Samador dan sekitar 2.000 lainnya berada di 10 titik pengungsian mandiri. BNPB menyebut kebutuhan mendesak, khususnya di Manggarai, antara lain puluhan tenda darurat, 30 ton beras, obat-obatan, 1.000 selimut, 1.000 velbed, 1.000 tikar, air bersih, tandon hingga genset.
Besarnya kebutuhan membuat pemerintah mengintegrasikan berbagai sumber bantuan. Hingga Minggu, pemerintah telah menyalurkan sekitar 27 ton logistik menuju wilayah gempa NTT. TNI AU secara terpisah juga membantu distribusi sekitar 13 ton bantuan menggunakan pesawat Hercules menuju Maumere sebelum diteruskan ke daerah terdampak lainnya.
Bantuan dari daerah lain juga mulai bergerak. Pemerintah Provinsi Jawa Timur mengirim personel BPBD untuk membantu operasi kemanusiaan di NTT, sementara PMI Nusa Tenggara Barat menyalurkan 300 paket bantuan bagi masyarakat terdampak.
DKI Punya Pengalaman Kirim Bantuan ke Daerah Bencana
Dukungan lintas daerah bukan kali pertama dilakukan Jakarta. Ketika gempa Cianjur berkekuatan M5,6 terjadi pada 2022, Pemprov DKI mengirim Satgas Kolaborasi yang melibatkan 154 personel dari sejumlah perangkat daerah. DKI juga mengirim empat truk bantuan yang antara lain membawa 30 ton beras dan 1.500 dus mi instan.
Pengalaman tersebut kini kembali digunakan dalam penanganan gempa NTT, tetapi dengan distribusi yang terlebih dahulu disesuaikan berdasarkan asesmen kebutuhan. Pendekatan ini dibutuhkan untuk menghindari bantuan terkonsentrasi pada satu wilayah sementara daerah terdampak lainnya mengalami kekurangan.
Dengan posko logistik di Halim telah beroperasi, Pemprov DKI tinggal memfinalisasi jenis, volume dan titik tujuan bantuan berdasarkan pembaruan BNPB serta Pemerintah Provinsi NTT. Fokus utamanya bukan hanya mempercepat keberangkatan bantuan dari Jakarta, melainkan memastikan barang yang dikirim benar-benar sesuai kebutuhan dan sampai kepada pengungsi yang membutuhkan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai BPBD DKI jakarta, bantuan kemanusiaan, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.