Berkah Rezeki di Tengah Demonstrasi: Cerita Pedagang yang Raup Cuan Berlipat Tanpa Naikkan Harga
Aksi unjuk rasa di Dukuh Atas membawa berkah bagi pedagang kecil. Omzet harian para pedagang kaki lima melonjak drastis hingga dua kali lipat dari biasa.

Periskop.id – Di tengah padatnya massa yang menyuarakan aspirasi di kawasan Dukuh Atas, Jakarta Pusat, geliat para pedagang kaki lima tampak sibuk melayani pembeli. Keramaian aksi unjuk rasa membawa berkah bagi para pedagang kecil yang mengalami lonjakan omzet hingga dua kali lipat dibanding hari biasa.
Salah seorang penjual bakso bakar keliling, Jaelani, sengaja berpindah tempat dari lokasi mangkal hariannya di Stasiun Sudirman menuju titik konsentrasi massa di Dukuh Atas.
Meskipun dagangannya diserbu pembeli, Jaelani memilih untuk tidak menaikkan harga jual demi menyesuaikan kondisi kantong para mahasiswa yang sedang berdemonstrasi.
“Harganya engga berani naikin karena ini kan biasanya yang demo mahasiswa juga. jadi kita sesuaikan dengan kantong mereka,” kata Jaelani, di kawasan Dukuh Atas, kepada Periskop.id, Selasa (18/8).
Jaelani mengatakan, pendapatannya meningkat drastis saat berjualan di tengah kerumunan massa aksi dari sore hari. Jika pada hari biasa ia hanya mengantongi Rp700.000 hingga Rp800.000, momen unjuk rasa mampu mendongkrak pemasukannya hingga Rp1,5 juta per hari.
“Alhamdulillah bersyukur bukan karena demo. tapi karena ramai (dagangan saya), saya sangat bersyukur banget karena dagangan saya ramai,” ujar dia.
Kondisi serupa dialami oleh Arsat, pedagang minuman es keliling yang biasa mangkal di kawasan Monas. Memanfaatkan momen keramaian di Dukuh Atas, volume penjualan minumannya melonjak dari rata-rata 50 cup menjadi 100 cup dalam sehari.
“Naik pasti. Yang tadi biasanya cuma jual 50, sekarang bisa jadi 100. Jadi naik dua kali lipat,” ujar Arsat.
Peningkatan penjualan tersebut turut mendongkrak omzet harian Arsat dari yang biasanya berkisar Rp800.000 menjadi Rp1,3 juta.
Bagi para pedagang kecil, keramaian di ruang publik menjadi kesempatan penting untuk memastikan barang dagangan mereka laku terjual. Kesempatan ini dimanfaatkan untuk menopang kebutuhan harian mereka.
“Harapan pedagang mah pengennya laris sih, yang penting jualan kita lariskarena lagi ramai,” ungkap Arsat.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai pedagang kaki lima (PKL), dan DKI Jakarta dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.