Periskop.id - Raksasa baterai asal China, Contemporary Amperex Technology Co. Limited atau CATL, memperkirakan 10.000 hingga 20.000 kendaraan listrik akan menggunakan baterai natrium-ion buatannya pada 2026. Target ini menjadi sinyal, teknologi baterai alternatif mulai masuk tahap komersialisasi yang lebih nyata, setelah selama ini industri kendaraan listrik sangat bergantung pada baterai berbasis litium.

Pimpinan CATL, Ni Jun, mengatakan, baterai natrium-ion menjadi bagian dari strategi jalur ganda perusahaan yang menggabungkan teknologi litium dan natrium. Strategi ini ditempuh di tengah volatilitas harga litium dan kebutuhan produsen kendaraan listrik untuk memiliki pilihan teknologi baterai yang lebih beragam.

Baterai natrium-ion dinilai menarik karena bahan bakunya lebih melimpah secara global dibanding litium. Teknologi ini juga disebut lebih tahan terhadap suhu rendah, sehingga berpotensi digunakan di wilayah dengan musim dingin ekstrem.

CATL Siapkan Kendaraan Listrik Berbaterai Natrium-Ion

Menurut laporan CarNewsChina, CATL memperkirakan 10.000 sampai 20.000 mobil listrik akan memakai baterai natrium-ion pada tahun ini. Salah satu model yang dikaitkan dengan teknologi tersebut adalah kendaraan dari Changan.

Pada Februari 2026, CATL dan Changan meluncurkan kendaraan listrik penumpang produksi massal pertama yang menggunakan baterai natrium-ion. Dalam keterangan resmi CATL, baterai Naxtra sodium-ion memiliki kepadatan energi hingga 175 Wh/kg dan mampu mendukung jarak tempuh lebih dari 400 kilometer melalui sistem Cell-to-Pack dan Battery Management System yang dikembangkan perusahaan.

CATL menyebut, seiring berkembangnya rantai pasok natrium-ion, jarak tempuh kendaraan listrik murni berpeluang meningkat ke kisaran 500-600 kilometer. Sementara untuk kendaraan range-extended atau hybrid, jarak berbasis baterai diproyeksikan berada di kisaran 300-400 kilometer.

Data tersebut menunjukkan baterai natrium-ion mulai mendekati kebutuhan kendaraan listrik harian, terutama untuk mobil komuter, kendaraan entry-level, armada niaga ringan, dan pasar yang tidak selalu menuntut jarak tempuh sangat panjang.

Tahan Suhu Ekstrem Jadi Keunggulan

Salah satu keunggulan utama baterai natrium-ion CATL adalah kemampuan beroperasi pada suhu sangat rendah. Ni Jun menyebut baterai itu dirancang tetap berfungsi normal pada suhu antara minus 20 derajat Celsius hingga minus 30 derajat Celsius.

Kemampuan ini membuka peluang pasar di wilayah dengan musim dingin keras seperti bagian utara Amerika Utara, Kanada, dan beberapa wilayah Jepang. Di daerah seperti itu, performa baterai litium-ion, terutama jenis tertentu, dapat menurun saat suhu sangat dingin.

Pada Februari 2026, pengujian di fasilitas uji kendaraan di Yakeshi, Mongolia Dalam, menunjukkan kendaraan Changan mampu melintasi jalan bersalju dan tanjakan curam menggunakan teknologi natrium-ion CATL.

Calvin Quek, Executive Director Nature Finance di Oxford Sustainable Finance Group, yang menyaksikan pengujian tersebut, menyebutnya sebagai “momen terobosan” bagi teknologi natrium-ion di sektor kendaraan listrik.

Kinerja suhu dingin menjadi nilai jual penting karena salah satu kekhawatiran konsumen EV adalah penurunan jarak tempuh dan performa saat cuaca ekstrem. Jika baterai natrium-ion dapat mempertahankan performa lebih stabil dalam kondisi dingin, teknologi ini bisa mengisi celah pasar yang selama ini sulit dijangkau oleh beberapa baterai litium.

CATL Luncurkan Tener Sodium untuk Penyimpanan Energi

Selain kendaraan listrik, CATL juga memperkenalkan Tener Sodium, sistem penyimpanan energi baru berbasis baterai natrium-ion. Perusahaan berencana memulai pengiriman awal di China pada September 2026, sementara pengiriman global dijadwalkan pada Juni 2027.

Langkah ini memperlihatkan bahwa CATL tidak hanya mengincar pasar kendaraan listrik. Baterai natrium-ion juga dinilai cocok untuk sistem penyimpanan energi atau energy storage system, terutama karena bahan bakunya lebih melimpah dan tidak terlalu terpapar gejolak harga litium.

Pasar penyimpanan energi menjadi semakin penting seiring meningkatnya kebutuhan listrik dari energi terbarukan, pusat data, kecerdasan buatan, dan penguatan jaringan listrik. Dalam konteks ini, baterai dengan biaya lebih stabil dan pasokan bahan baku lebih aman bisa menjadi pilihan strategis.

Reuters sebelumnya melaporkan CATL menandatangani kesepakatan besar pertama untuk baterai natrium-ion di sektor penyimpanan energi. Kontrak tiga tahun itu mencakup pengiriman 60 GWh baterai natrium-ion kepada Beijing HyperStrong Technology, perusahaan sistem penyimpanan energi.

Kesepakatan tersebut menjadi bukti bahwa natrium-ion tidak hanya menjadi eksperimen laboratorium, tetapi mulai mendapat tempat dalam proyek komersial berskala besar.

Investasi Riset Hampir Rp26,39 Triliun

CATL telah menginvestasikan hampir 10 miliar yuan atau sekitar Rp26,39 triliun untuk penelitian baterai natrium-ion selama satu dekade terakhir. Perusahaan juga menambah lebih dari 300 anggota dalam tim riset dan pengembangannya.

Chief Technology Officer CATL Gao Huan mengatakan inovasi perusahaan telah meningkatkan kepadatan energi hingga 50 persen. CATL menilai teknologinya kini berada pada tahap tonggak penting atau milestone stage, dengan produksi massal dijadwalkan dimulai pada kuartal keempat 2026.

Sebelumnya dilaporkan, CATL menyebut teknologi natrium-ion sudah melewati sejumlah tantangan manufaktur utama. Tantangan itu mencakup pengendalian kelembapan pada elektroda karbon keras atau hard carbon, pembentukan gas selama produksi, dan kendala densitas energi.

CATL juga menargetkan baterai natrium-ion dapat mencapai biaya yang setara dengan baterai litium-ion pada akhir 2026. Jika target ini tercapai, natrium-ion bisa menjadi opsi yang lebih kompetitif untuk segmen tertentu.

Mengapa Natrium-Ion Muncul Sekarang?

Minat terhadap baterai natrium-ion meningkat karena harga litium sangat fluktuatif. Data yang dikutip dalam laporan CarNewsChina menunjukkan harga litium karbonat di China melonjak hampir 190% antara Juni tahun lalu hingga 20 April 2026.

Kenaikan tajam ini menekan biaya bahan baku bagi produsen baterai dan kendaraan listrik. Ketika bahan utama baterai berubah-ubah harganya, produsen menghadapi ketidakpastian margin, harga jual kendaraan, dan rencana produksi.

CATL memosisikan baterai natrium-ion sebagai alat manajemen risiko alternatif. Dengan sumber daya natrium yang melimpah secara global, perusahaan dapat mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan baku yang selama ini mendominasi baterai kendaraan listrik.

Strategi ini bukan berarti natrium-ion langsung menggantikan litium-ion. Lebih tepat, CATL sedang membangun portofolio kimia baterai yang lebih beragam. Litium-ion tetap unggul untuk banyak kebutuhan berperforma tinggi, sementara natrium-ion bisa masuk ke segmen yang lebih sensitif terhadap biaya, suhu ekstrem, dan pasokan bahan baku.

Masih Punya Keterbatasan

Meski menjanjikan, baterai natrium-ion belum bebas tantangan. International Energy Agency mencatat teknologi natrium-ion masih dibatasi oleh kepadatan energi yang lebih rendah dibandingkan teknologi litium-ion.

IEA menyebut sel natrium-ion terbaru dapat mencapai sekitar 175 Wh/kg, sementara generasi terbaru LFP bisa mencapai 205 Wh/kg dan NMC sekitar 265 Wh/kg. Artinya, natrium-ion masih kalah dalam hal daya simpan energi per berat baterai.

Keterbatasan itu membuat baterai natrium-ion belum ideal untuk semua jenis kendaraan listrik, terutama kendaraan jarak jauh atau model premium yang membutuhkan kepadatan energi tinggi. Namun, untuk kendaraan komuter, kendaraan perkotaan, armada fleet, kendaraan ringan, dan penyimpanan energi statis, teknologi ini bisa lebih menarik.

Dengan kata lain, natrium-ion kemungkinan akan menjadi pelengkap, bukan pengganti total litium-ion. Posisi ini juga sejalan dengan strategi jalur ganda CATL yang mengombinasikan litium dan natrium sesuai kebutuhan pasar.

Potensi Dampak ke Industri EV

Jika 10.000 hingga 20.000 kendaraan listrik benar-benar menggunakan baterai natrium-ion pada 2026, industri EV akan mendapat bukti komersial yang penting. Produsen otomotif dapat melihat performa baterai ini dalam penggunaan nyata, bukan hanya uji laboratorium.

Dampaknya bisa meluas ke beberapa arah.

Pertama, produsen mobil punya alternatif bahan baku selain litium. Ini bisa membantu menekan risiko ketika harga litium naik tajam.

Kedua, kendaraan listrik di wilayah dingin bisa lebih mudah dikembangkan jika teknologi natrium-ion terbukti stabil pada suhu rendah.

Ketiga, harga kendaraan entry-level bisa lebih kompetitif jika biaya baterai natrium-ion benar-benar mendekati atau menyamai litium-ion.

Keempat, rantai pasok baterai bisa lebih beragam. Ketergantungan pada litium, nikel, kobalt, dan grafit dapat dikurangi untuk aplikasi tertentu.

Namun, semua itu tetap bergantung pada pembuktian di pasar. Konsumen dan produsen perlu melihat umur pakai, keamanan, performa pengisian, biaya aktual, ketersediaan pasokan, dan daya tahan baterai setelah digunakan dalam jangka panjang.

Changan Jadi Uji Pasar Awal

Changan disebut menjadi salah satu mitra awal CATL dalam penggunaan baterai natrium-ion untuk kendaraan listrik. Model Changan Nevo A06 atau Qiyuan A06 di China telah dikaitkan dengan baterai Naxtra 45 kWh.

Laporan teknologi otomotif menyebut mobil tersebut menawarkan jarak tempuh sekitar 400 kilometer dalam siklus CLTC dan dapat mengisi daya hingga 80 persen dalam waktu sekitar 15 menit. Meski klaim siklus CLTC biasanya lebih optimistis dibandingkan kondisi nyata, angka ini tetap menunjukkan kemajuan besar bagi baterai natrium-ion.

Jika model seperti ini diterima pasar, produsen lain bisa lebih percaya diri mengadopsi teknologi serupa. Sebaliknya, jika performa atau biaya tidak sesuai ekspektasi, adopsinya bisa lebih lambat dan terbatas pada segmen tertentu.

Karena itu, 2026 menjadi tahun pembuktian bagi CATL. Baterai natrium-ion harus melewati ujian produksi massal, integrasi kendaraan, performa cuaca ekstrem, dan penerimaan konsumen.

Penyimpanan Energi Bisa Jadi Pasar Lebih Cepat

Meski headline besar datang dari mobil listrik, pasar penyimpanan energi bisa menjadi jalur komersialisasi yang lebih cepat bagi natrium-ion. Alasannya, sistem penyimpanan energi statis tidak terlalu menuntut kepadatan energi setinggi kendaraan listrik.

Dalam energy storage system, ukuran dan berat baterai tidak sekrusial mobil. Yang lebih penting adalah biaya, keamanan, umur pakai, kestabilan pasokan, dan kemampuan bekerja dalam skala besar.

Karena itu, kontrak 60 GWh CATL dengan HyperStrong menjadi sinyal penting. Permintaan penyimpanan energi meningkat karena energi terbarukan membutuhkan baterai untuk menyeimbangkan pasokan, sementara pusat data dan beban listrik dari AI membutuhkan sistem daya yang lebih andal.

Jika natrium-ion bisa menawarkan biaya lebih stabil dan keamanan lebih baik, teknologi ini dapat tumbuh cepat di sektor penyimpanan energi, bahkan sebelum menjadi umum di kendaraan listrik.

Apa Artinya bagi Indonesia?

Bagi Indonesia, perkembangan baterai natrium-ion perlu dipantau serius. Selama ini, strategi kendaraan listrik Indonesia banyak bertumpu pada nikel dan rantai pasok baterai litium berbasis nikel.

Munculnya baterai natrium-ion tidak otomatis membuat nikel kehilangan peran. Baterai NMC, LFP, dan litium-ion lain masih akan tetap dominan dalam banyak segmen. Namun, natrium-ion menunjukkan bahwa teknologi baterai terus berubah dan rantai pasok masa depan bisa lebih beragam.

Indonesia perlu membaca tren ini sebagai pengingat bahwa hilirisasi baterai tidak boleh hanya bergantung pada satu jenis kimia baterai. Selain memperkuat nikel, Indonesia juga perlu membangun kemampuan riset, manufaktur komponen, daur ulang baterai, sistem penyimpanan energi, dan teknologi alternatif. Jika tidak, Indonesia berisiko hanya kuat di bahan baku tertentu, tetapi tertinggal ketika pasar bergerak ke kimia baterai baru untuk segmen yang berbeda. 

Bagi industri EV global, 2026 bisa menjadi tahun penting. Jika baterai natrium-ion berhasil membuktikan diri dalam produksi massal dan penggunaan nyata, peta persaingan baterai kendaraan listrik bisa menjadi lebih beragam, tidak lagi terlalu bertumpu pada litium.