iklan periskop
Pendidikan

Alasan 60 Ribu Camaba Urung Daftar Ulang di PTN

Ketua SNPMB Prof Eduart Wolok meluruskan angka 60 ribu camaba PTN yang tak daftar ulang. Bukan dari satu jalur, dan bukan semata soal biaya kuliah.

1 bulan yang lalu · 2 mnt baca
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT)
Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) 2026 di Unesa, Surabaya, Selasa (21/4/2026). dok. Humas Unesa
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB Prof Eduart Wolok meluruskan data 60 ribuan calon mahasiswa baru (camaba) yang tidak melakukan daftar ulang di perguruan tinggi negeri (PTN). Angka tersebut bukan berasal dari satu jalur, melainkan akumulasi dari seluruh jalur penerimaan.

Eduart menegaskan, total kuota yang tidak terisi itu mencakup tiga jalur seleksi, yakni Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT), serta jalur mandiri yang digelar masing-masing PTN.

"Jadi perlu diluruskan pertama, 60 ribu siswa yang tidak daftar ulang itu bukan dari satu jalur. Tapi, itu sebenarnya total, total kuota yang tidak terisi dari seluruh jalur," ujar Eduart usai acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta, Jumat (26/6).

Menurut Eduart, ada beragam faktor yang melatarbelakangi kondisi tersebut. Kendala biaya memang masuk dalam daftar penyebab, namun bukan satu-satunya.

Banyak camaba yang memilih absen daftar ulang meski sudah dinyatakan lulus, karena program studi yang diperoleh bukan pilihan pertama mereka. Mereka kemudian mencoba peruntungan lewat jalur seleksi berikutnya demi mengejar prodi impian.

"Dan itu disebabkan oleh banyak hal. Bukan hanya soal biaya, tetapi juga oleh yang lulus tidak pada pilihannya, lantas dia tetap berusaha pada pilihan satu misalnya, lewat jalur berikutnya itu yang menyebabkan terjadinya posisi itu," ujar Eduart.

Soal pembiayaan, Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang dirasa terlalu tinggi juga turut disebut sebagai pemicu camaba urung mendaftar. Eduart memaparkan, penetapan UKT di setiap kampus sudah dilakukan secara objektif berdasarkan profiling dan kemampuan ekonomi masing-masing calon mahasiswa.

"Karena penentuan UKT itu berdasarkan profiling daripada data mahasiswa itu sendiri. Dan apabila tidak mungkin dengan profiling yang mendapatkan kategori 1, 2, 3, atau 4 akan dikasih kategori 7, 8, 9, gak mungkin," jelasnya.

Namun apabila camaba tetap keberatan setelah UKT ditetapkan, Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG) itu memastikan kampus membuka ruang untuk memproses permintaan keringanan. Ia menyebut peluang tersebut nyata dan akan benar-benar dipertimbangkan.

"Tapi kalau pun memang penetapannya biasanya misalnya ada keberatan, kita masih membuka ruang untuk mahasiswa misalnya meminta keringanan dan sebagainya. Iya, kasih kesempatan," tegasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Eduart Wolok, Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB), dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.