Periskop.id - Piala Dunia 2026 sudah memecahkan berbagai rekor industri taruhan olahraga, bahkan sebelum babak gugur bergulir. Lembaga riset Macquarie memproyeksikan total nilai taruhan global ajang ini bakal menembus US$50 miliar, atau sekitar Rp820 triliun.

Angka itu tumbuh signifikan dari US$35 miliar yang tercatat pada Piala Dunia Qatar 2022. Pertumbuhan ini, menurut Macquarie, dipicu oleh perubahan regulasi perjudian di Amerika Serikat, perluasan format turnamen, serta skala bisnis yang masif di negara tuan rumah.

Flutter Entertainment, raksasa judi online yang menaungi merek-merek besar seperti FanDuel, Paddy Power, dan Betfair, menegaskan optimisme tersebut. "Kami memperkirakan Piala Dunia ini akan menjadi acara taruhan terbesar sepanjang sejarah berkat perluasan format dan keuntungan pelaksanaan di pasar utama kami, AS," ujar juru bicara Flutter dalam pernyataan yang dilansir Reuters, Kamis (25/6).

Perusahaan memperkirakan sekitar 10 juta pelanggan akan menggunakan berbagai platform Flutter selama turnamen berlangsung. Pada momen puncak pertandingan, lalu lintas taruhan diprediksi menyentuh 100.000 taruhan per menit.

Flutter juga memproyeksikan lonjakan nilai staking yang jauh lebih besar dibanding edisi sebelumnya. "Secara keseluruhan, kami memperkirakan nilai taruhan setidaknya akan berlipat ganda dibandingkan yang kami alami di Qatar," tambah juru bicara yang sama.

Salah satu pendorong utama lonjakan ini adalah perubahan lanskap regulasi di AS. Saat ini, akses ke taruhan legal telah menjangkau 65% dari total populasi AS, naik dari sekitar 40% pada 2022.

Angka itu tercermin langsung pada kinerja perusahaan-perusahaan besar. FanDuel dan DraftKings sama-sama membukukan rekor volume taruhan serta jumlah pelanggan aktif tertinggi dalam sejarah masing-masing perusahaan, terutama saat laga pembuka tim AS dan Brasil. DraftKings bahkan mencatat lonjakan handle hingga lima kali lipat dibanding fase awal Piala Dunia 2022.

Deutsche Bank memproyeksikan perputaran uang taruhan khusus di pasar AS saja bisa mencapai US$3,3 miliar, hampir dua kali lipat dari proyeksi ajang Super Bowl tahun ini, dengan FanDuel dan DraftKings sebagai pemimpin pasar.

Di balik euforia angka-angka itu, industri taruhan menghadapi tantangan tersendiri. Macquarie mencatat turnamen sepanjang 39 hari ini lebih berperan sebagai sarana menjaring konsumen baru ketimbang mesin pendapatan jangka pendek. Untuk menarik minat pemain, banyak perusahaan menawarkan promo agresif seperti peningkatan nilai kemenangan (odds boosts) dan fitur transfer taruhan jika pemain pilihan diganti di tengah laga.

Agresivitas promo tersebut berbuah pembayaran klaim yang besar. Bet365 asal Inggris melaporkan telah membayar klaim taruhan sebesar £30 juta (sekitar US$39,5 juta) hanya dalam 11 hari pertama turnamen, dipicu oleh skema pergantian pemain yang menghasilkan gol dari Crysencio Summerville (Belanda) dan Marcus Rashford (Inggris). William Hill juga mencatat pembayaran jutaan poundsterling dalam waktu singkat, antara lain akibat gol pertama Lionel Messi dan gol perdana Meksiko melawan Afrika Selatan. Laga Inggris kontra Kroasia (4-2) bahkan menjadi acara taruhan terbesar dalam sejarah perusahaan itu.

Piala Dunia 2026 menggunakan format baru yang mempertemukan 48 negara dalam 104 pertandingan, naik dari 32 tim dan 64 laga di edisi sebelumnya. Waktu kickoff yang ramah pasar Amerika Utara juga disebut turut mendongkrak keterlibatan pengguna di pasar-pasar utama Flutter, termasuk Inggris, Spanyol, Brasil, Australia, dan Kanada.

"Dampak finansial jangka panjang bagi emiten taruhan akan sangat bergantung pada kemampuan mereka mengubah para pemain musiman ini menjadi petaruh multi-olahraga yang loyal setelah Piala Dunia usai," tulis riset Macquarie.