Periskop.id - Belanda menunjukkan kelasnya pada laga terakhir Grup F Piala Dunia 2026. Menghadapi Tunisia di Kansas City Stadium, Jumat (26/6/2026) pagi WIB, tim asuhan Ronald Koeman menang 3-1 lewat awal pertandingan yang sangat agresif.

Oranje tidak memberi Tunisia banyak waktu untuk bernapas. Belanda sudah unggul saat laga baru berjalan tiga menit melalui gol bunuh diri Ellyes Skhiri. Tekanan dari sisi kanan yang dibangun Denzel Dumfries membuat pertahanan Tunisia panik, sebelum bola sapuan Skhiri justru masuk ke gawang sendiri.

Start cepat itu langsung mengubah arah pertandingan. Tunisia yang sejak awal memasang lima bek untuk menahan tekanan Belanda malah harus bermain dalam posisi tertinggal. Kondisi semakin berat ketika Brian Brobbey menggandakan keunggulan Oranje pada menit ketujuh.

Gol kedua Belanda bermula dari situasi bola mati. Tijjani Reijnders mengirim bola ke area berbahaya, Virgil van Dijk meneruskannya ke depan gawang, lalu Brobbey menyelesaikan peluang dengan tembakan keras untuk menaklukkan Aymen Dahmen.

Dua gol dalam tujuh menit awal membuat Belanda berada di atas angin. Reuters mencatat start kilat Oranje itu menjadi awalan tercepat dalam laga Piala Dunia sejak 2002. Dominasi tersebut sekaligus memperlihatkan betapa efektifnya Belanda ketika mampu menekan lawan sejak menit pertama.

Tunisia mencoba keluar dari tekanan setelah tertinggal dua gol. Peluang hadir pada menit ke-12 melalui tandukan Anis Ben Slimane dari situasi sepak pojok, tetapi kiper Bart Verbruggen masih sigap mengamankan bola.

Belanda tetap menjadi tim yang lebih berbahaya. Pada menit ke-19, Tijjani Reijnders nyaris menambah keunggulan lewat tembakan dari luar kotak penalti, tetapi Dahmen masih mampu menepis bola.

Oranje terus mengontrol tempo pertandingan dengan mengandalkan lini tengah yang diisi Reijnders, Frenkie de Jong, dan Ryan Gravenberch. Kombinasi tiga pemain itu membuat aliran bola Belanda lebih rapi, sementara Tunisia lebih banyak bertahan dan menunggu kesempatan serangan balik.

Donyell Malen juga mendapatkan peluang pada menit ke-31 melalui tembakan jarak jauh, tetapi bola masih melambung di atas gawang. Ryan Gravenberch mencoba peruntungan dengan cara serupa pada menit ke-39, namun belum menghasilkan gol tambahan.

Menjelang turun minum, Denzel Dumfries hampir mencatatkan namanya di papan skor. Ia mendapat ruang di kotak penalti Tunisia pada menit ke-44, tetapi tembakannya masih bisa diamankan Dahmen. Skor 2-0 untuk Belanda bertahan hingga babak pertama selesai.

Tunisia mencoba bangkit pada babak kedua. 

Tunisia Mengejar Ketertinggalan

Tim berjuluk Elang Kartago mulai bermain lebih berani dan akhirnya mendapatkan gol pada menit ke-54. Hazem Mastouri menanduk bola kiriman Hannibal Mejbri dari sepak pojok dan mengarahkannya ke sudut kiri gawang. Verbruggen tidak mampu menjangkau bola tersebut.

Gol Mastouri sempat membuka harapan Tunisia untuk mengejar ketertinggalan. Namun, momentum itu tidak bertahan lama. Belanda kembali menjauh delapan menit kemudian, juga dari situasi sepak pojok.

Pada menit ke-62, Tijjani Reijnders mengirim bola ke area kotak penalti. Jan Paul van Hecke memenangi duel udara dan menanduk bola ke arah gawang Tunisia. Bola sempat mengenai pemain lawan sebelum masuk ke gawang Dahmen. Belanda kembali unggul dua gol dengan skor 3-1.

Gol Van Hecke praktis membunuh momentum Tunisia. Setelah itu, Belanda kembali mengatur tempo dan tidak terlalu memaksakan serangan. Koeman bahkan mulai menarik beberapa pemain kunci untuk menjaga kebugaran jelang fase gugur.

Frenkie de Jong, Tijjani Reijnders, Cody Gakpo, Donyell Malen, dan Brian Brobbey ditarik keluar pada babak kedua. Memphis Depay masuk pada menit ke-77 dan hampir menambah gol lewat tendangan salto, tetapi usahanya belum berbuah hasil.

Kemenangan ini membuat Belanda finis sebagai juara Grup F dengan tujuh poin dari tiga pertandingan. Oranje mengungguli Jepang yang menempati posisi kedua setelah bermain imbang 1-1 melawan Swedia pada laga lain.

Belanda selanjutnya akan menghadapi Maroko di babak 32 besar. Duel ini menjadi ujian menarik bagi Oranje karena Maroko datang sebagai salah satu tim Afrika yang punya reputasi kuat dalam bertahan dan menyerang cepat.

Sementara itu, Tunisia harus mengakhiri perjalanan di Piala Dunia 2026 dengan hasil mengecewakan. Mereka finis sebagai juru kunci Grup F tanpa meraih poin. Reuters mencatat Tunisia kebobolan 12 gol dari tiga pertandingan, sebuah catatan yang kontras dengan reputasi mereka sebelum turnamen.

Tunisia Solid di Fase Kualifikasi

Tunisia datang ke Piala Dunia 2026 dengan status tim yang solid di fase kualifikasi. Mereka bahkan tidak kebobolan sepanjang babak kualifikasi. Namun, fase grup berjalan buruk. Tunisia kalah 1-5 dari Swedia, lalu tumbang 0-4 dari Jepang, sebelum menyerah 1-3 dari Belanda.

Pergantian pelatih juga tidak mampu mengubah nasib Tunisia. Herve Renard masuk menggantikan Sabri Lamouchi setelah kekalahan besar dari Swedia, tetapi ia tidak punya banyak waktu untuk membenahi struktur permainan tim.

Di sisi lain, kemenangan atas Tunisia membuat Belanda semakin percaya diri. Sebelum turnamen dimulai, Koeman sempat menegaskan bahwa Oranje bukan tim yang bisa diremehkan.

"Mungkin kami tidak diperhitungkan sebagai favorit untuk menjuarai Piala Dunia. Namun kami adalah tim yang bisa memberikan kejutan bagi semua orang," ujar Koeman dikutip Antara dari laman resmi FIFA.

Pernyataan itu mulai menemukan konteksnya di fase grup. Belanda membuka turnamen dengan hasil imbang 2-2 melawan Jepang, lalu menghancurkan Swedia 5-1, sebelum menutup Grup F dengan kemenangan 3-1 atas Tunisia.

Secara permainan, Belanda juga memperlihatkan kedalaman skuad yang menjanjikan. Brian Brobbey kembali mencetak gol dan menunjukkan ketajamannya di kotak penalti. Reijnders menjadi motor bola mati dan progresi serangan, sementara Van Dijk tetap menjadi pemimpin utama lini belakang.

Namun, Koeman tetap punya pekerjaan rumah. Gol Tunisia dari situasi sepak pojok menunjukkan bahwa konsentrasi pertahanan Belanda masih bisa diganggu. Hal itu perlu diperbaiki karena fase gugur tidak memberi banyak ruang untuk kesalahan.

Format Piala Dunia 2026 juga membuat persaingan fase gugur lebih panjang dibanding edisi sebelumnya. Turnamen kali ini diikuti 48 tim yang terbagi ke dalam 12 grup. Dua tim teratas tiap grup lolos otomatis ke babak 32 besar, sementara delapan tim peringkat ketiga terbaik ikut melaju.

Dengan status juara grup, Belanda setidaknya berhasil melewati fase pertama dengan cara ideal. Mereka tampil produktif, menguasai klasemen, dan punya kesempatan merotasi pemain sebelum laga hidup-mati melawan Maroko.

Bagi Tunisia, kekalahan ini menjadi penutup pahit. Gol Hazem Mastouri hanya menjadi hiburan kecil dalam kampanye yang berakhir tanpa poin. Sebaliknya bagi Belanda, kemenangan 3-1 atas Tunisia menjadi sinyal bahwa Oranje siap masuk ke fase gugur dengan kepercayaan diri tinggi.

Susunan Pemain

Tunisia: Aymen Dahmen; Ali Abdi, Mohamed Amine Ben Hamida, Ellyes Skhiri, Montassar Talbi, Yan Valery; Hannibal Mejbri, Rani Khedira, Ismael Gharbi, Anis Ben Slimane; Hazem Mastouri.

Belanda: Bart Verbruggen; Nathan Ake, Virgil van Dijk, Jan Paul van Hecke, Denzel Dumfries; Tijjani Reijnders, Frenkie de Jong, Ryan Gravenberch; Cody Gakpo, Brian Brobbey, Donyell Malen.