Perikop.id - Timnas Turki akhirnya bisa meninggalkan Piala Dunia 2026 dengan sedikit senyum. Meski sudah dipastikan tersingkir sebelum laga terakhir Grup D, skuad asuhan Vincenzo Montella tetap menunjukkan perlawanan sengit dan sukses menaklukkan Amerika Serikat (AS) dengan skor 3-2.

Kemenangan itu tidak mengubah nasib Turki di klasemen. Mereka tetap finis di dasar Grup D dengan tiga poin. Namun, hasil tersebut menjadi penutup yang penting secara mental, terutama setelah kampanye mereka sebelumnya jauh dari harapan.

Sebaliknya, AS tetap melaju ke babak 32 besar sebagai juara Grup D. Tim tuan rumah mengakhiri fase grup dengan enam poin dan tetap berada di posisi teratas, meski harus menelan kekalahan perdana mereka di turnamen ini.

Laga berjalan panas sejak menit awal. Amerika Serikat yang menurunkan banyak pemain pelapis langsung membuka keunggulan saat pertandingan baru berjalan tiga menit. Auston Trusty memanfaatkan situasi sepak pojok Sebastian Berhalter dan membawa AS unggul cepat 1-0.

Keputusan Mauricio Pochettino merotasi skuad memang cukup mencolok. Dengan status juara grup yang sudah aman, pelatih asal Argentina itu melakukan sembilan perubahan dari susunan pemain yang sebelumnya memastikan kelolosan AS usai mengalahkan Australia.

Namun, keunggulan cepat AS tidak membuat Turki runtuh. Justru sebaliknya, tim berjuluk Bintang Bulan Sabit itu bereaksi dengan cepat. Pada menit ke-10, Arda Guler menyamakan kedudukan setelah bekerja sama dengan Baris Yilmaz untuk membongkar pertahanan AS.

Gol itu menjadi salah satu momen paling penting bagi Guler. Selain menghidupkan kembali permainan Turki, pemain muda Real Madrid tersebut juga mencatatkan diri sebagai pencetak gol termuda Turki di putaran final Piala Dunia.

Turki semakin percaya diri setelah gol penyama kedudukan. Tekanan mereka terhadap lini belakang AS membuat pertahanan tuan rumah terlihat goyah. Memasuki menit ke-31, Baris Yilmaz membawa Turki berbalik unggul 2-1 setelah memanfaatkan kelengahan barisan belakang Amerika Serikat.

AS mencoba merespons sebelum turun minum, tetapi serangan mereka belum cukup tajam untuk kembali menyamakan skor. Babak pertama pun ditutup dengan keunggulan 2-1 untuk Turki.

Babak Kedua AS Tampil Agresif

Memasuki babak kedua, Amerika Serikat kembali tampil agresif. Hanya tiga menit setelah jeda, Sebastian Berhalter menebus assistnya di babak pertama dengan gol dari tepi kotak penalti. Tembakan kerasnya membuat skor berubah menjadi 2-2.

Gol tersebut mengembalikan energi publik tuan rumah di Los Angeles. Pochettino kemudian mulai memasukkan beberapa pemain utama untuk mengejar kemenangan, termasuk Christian Pulisic yang baru kembali bermain.

Masuknya Pulisic membuat serangan AS lebih hidup. Ia beberapa kali memberi ancaman dan membuat lini belakang Turki bekerja lebih keras. Namun, Turki tetap mampu bertahan sambil menunggu celah untuk melakukan serangan balik.

Ketika laga tampak akan berakhir imbang, drama terjadi pada masa tambahan waktu. Kaan Ayhan, yang masuk sebagai pemain pengganti, muncul sebagai pahlawan Turki dengan mencetak gol pada menit ke-90+8. Gol tersebut memastikan kemenangan 3-2 untuk Turki.

Hasil ini menjadi kemenangan pertama sekaligus satu-satunya Turki di Piala Dunia 2026. Meski gagal melaju ke fase gugur, kemenangan atas juara grup membuat mereka pulang dengan kepala tegak.

Arda Guler terpilih sebagai pemain terbaik pertandingan. Kontribusinya bukan hanya terlihat dari gol penyama kedudukan, tetapi juga dari perannya dalam menghidupkan transisi serangan Turki.

Dari sisi statistik, AS tetap punya catatan positif. Dengan delapan gol sepanjang putaran final edisi 2026, Amerika Serikat mencatat kampanye tersubur mereka dalam sejarah Piala Dunia. Jumlah itu melampaui catatan tujuh gol yang pernah dibuat pada edisi 1930 dan 2002.

Meski kalah, AS tetap membawa modal penting ke babak 32 besar. Mereka finis sebagai pemuncak Grup D dengan enam poin, sementara Australia menyusul sebagai runner-up setelah bermain imbang 0-0 melawan Paraguay. Paraguay yang finis ketiga masih harus menunggu perhitungan tim peringkat ketiga terbaik, sedangkan Turki dipastikan tersingkir.

Di babak 32 besar, AS dijadwalkan menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Kekalahan dari Turki menjadi alarm bagi Pochettino, terutama karena pertahanan AS terlihat rapuh saat menghadapi serangan cepat dan bola-bola transisi.

Memasuki Fase Gugur

Weston McKennie, gelandang AS, menilai, kekalahan itu tidak akan merusak momentum AS. Menurutnya, hasil tersebut justru bisa menjadi bahan bakar tambahan sebelum memasuki fase gugur.

“Turki tampil sangat efektif dan mampu memaksimalkan peluang mereka. Momentum kami pasti masih akan tetap terjaga untuk pertandingan Babak 32 Besar,” ujarnya.

Menurutnya, semua orang tentu ingin memasuki pertandingan berikutnya setelah meraih kemenangan. “Tetapi saya rasa hasil ini justru akan semakin memotivasi kami. Seluruh 26 pemain dalam skuad ini siap tampil dan menjalankan tugasnya. Kami percaya kepada semua pemain dan yakin setiap orang akan memberikan kontribusi bagi tim,” ucap Weston McKennie.

Bagi Turki, kemenangan ini lebih dari sekadar tiga poin. Hasil tersebut menjadi cara mereka menjaga martabat setelah tersingkir lebih awal dari turnamen.

“Kami memang tidak puas, tetapi kemenangan ini sangat penting bagi kami karena kami ingin menjaga nama baik kami. Kami tahu bahwa kami memiliki tim yang sangat berkualitas dan kami ingin menunjukkan kepada dunia bahwa kami lebih baik daripada yang telah kami tampilkan,” tutur Orkun Kokcu, gelandang Turki.

“Bagi kami semua, ini adalah Piala Dunia FIFA pertama. Kami harus belajar dari pengalaman ini dan bekerja lebih keras. Di Piala Dunia FIFA berikutnya, kami berharap bisa meraih kesuksesan yang lebih besar. Masyarakat di tanah air pantas mendapatkan ini karena mereka selalu mendukung kami ke mana pun kami perg,” lanjutnya. 

Hasil mengejutkan di laga terakhir fase grup juga terjadi di grup lain. Seperti dilaporkan sebelumnya, Jerman kalah 1-2 dari Ekuador pada laga terakhir Grup E, meski tetap lolos ke babak 32 besar sebagai juara grup. Kapten Jerman Joshua Kimmich mengakui timnya kehilangan kendali setelah sempat unggul cepat.

“Kami memulai pertandingan dengan baik, tetapi kemudian terlalu mudah kehilangan bola dan terus mengundang mereka menyerang,” ucapnya. 

Kisah Turki dan AS menunjukkan dinamika khas fase akhir grup Piala Dunia 2026. Tim yang sudah aman bisa terpeleset karena rotasi, sementara tim yang sudah tersingkir justru tampil lepas tanpa beban. Bagi AS, kekalahan ini menjadi peringatan sebelum memasuki laga hidup-mati. Bagi Turki, kemenangan ini menjadi penutup yang setidaknya menyelamatkan harga diri.