Periskop.id - Uruguay harus mengakhiri perjalanan mereka di Piala Dunia 2026 lebih cepat. Tim berjuluk La Celeste itu dipastikan gagal lolos ke babak 32 besar setelah takluk 0-1 dari Spanyol pada laga terakhir Grup H.
Pertandingan yang berlangsung di Stadion Akron, Guadalajara, Meksiko, itu menjadi laga hidup-mati bagi Uruguay. Mereka membutuhkan kemenangan untuk menjaga peluang lolos. Namun, tekanan besar tersebut tidak mampu mereka ubah menjadi hasil positif.
Spanyol keluar sebagai pemenang lewat gol tunggal Alex Baena pada menit ke-42. Hasil itu membuat La Roja menutup fase grup dengan tujuh poin dan berhak lolos sebagai juara Grup H.
Sebaliknya, Uruguay finis di posisi ketiga dengan hanya dua poin dari tiga pertandingan. Mereka kalah bersaing dari Tanjung Verde, yang pada laga lain menahan Arab Saudi 0-0 dan mengunci posisi runner-up Grup H dengan tiga poin.
Bagi Uruguay, kegagalan ini menjadi catatan pahit. Mereka mengulang sejarah buruk seperti pada Piala Dunia 1962, 1974, dan 2002, ketika gagal melewati fase grup.
Spanyol Kuasai Bola, Uruguay Kehabisan Ide
Spanyol tetap tampil dengan gaya khas mereka, yakni menguasai bola, membangun serangan lewat umpan pendek, dan mengontrol tempo pertandingan. Berdasarkan catatan FIFA , penguasaan bola Spanyol mencapai 53%.
La Roja juga mencatat 635 umpan sepanjang laga, dengan 575 operan sukses. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan Uruguay yang hanya melepaskan 299 umpan, dengan 227 di antaranya berhasil.
Secara permainan, Uruguay tidak sepenuhnya pasif. Mereka mencoba menekan dan menutup ruang, terutama karena sadar hanya kemenangan yang bisa menjaga harapan. Namun, tekanan Spanyol membuat Uruguay kesulitan mengembangkan serangan secara konsisten.
Uruguay hanya mampu membuat enam percobaan tembakan, dan cuma satu yang tepat sasaran. Spanyol sendiri sebenarnya juga tidak terlalu efektif. Dari tujuh percobaan tembakan, hanya dua yang mengarah ke gawang. Namun, satu peluang mereka cukup untuk menjadi pembeda.
Gol Baena Jadi Pembeda
Gol penentu Spanyol lahir pada menit ke-42 dari situasi serangan di sisi kanan. Lamine Yamal membawa bola dan sempat terjatuh setelah berbenturan dengan pemain lawan. Bola kemudian dikuasai Marcos Llorente, yang mengirim umpan ke dalam kotak penalti Uruguay.
Alex Baena yang berada di posisi ideal mampu menerima bola dengan baik. Ia lalu melepaskan tendangan kaki kanan ke arah gawang Uruguay.
Kiper Uruguay Fernando Muslera sempat mencoba menghalau tembakan tersebut. Namun, bola tetap bergulir masuk ke gawang dan membawa Spanyol unggul 1-0.
Gol itu menjadi momen paling menentukan dalam pertandingan. Uruguay yang sudah berada dalam tekanan klasemen semakin dipaksa keluar menyerang, tetapi penyelesaian akhir mereka tetap bermasalah.
Baena menyebut gol tersebut sebagai salah satu momen paling membahagiakan dalam kariernya.
“Ini mungkin salah satu gol yang paling membuat saya bahagia,” kata Baen kepada televisi lokal.
Ia juga mengakui Spanyol tidak tampil dalam bentuk terbaiknya, tetapi tetap mampu bersaing dalam pertandingan yang ketat. “Kami tidak menunjukkan performa terbaik kami, tetapi kami berkompetisi dengan sangat baik,” tambahnya.
Uruguay Gagal Memanfaatkan Peluang
Uruguay sebenarnya sempat mendapatkan beberapa momentum. Salah satu peluang terbaik pada babak pertama datang ketika Federico Valverde menekan Rodri dan memaksa gelandang Spanyol itu melakukan kesalahan pada menit ke-27.
Valverde kemudian mengirim bola kepada Darwin Nunez di area berbahaya. Namun, peluang itu gagal dimaksimalkan karena Nunez memilih mencoba sentuhan tumit, bukan langsung menembak.
Pada babak kedua, Uruguay mencoba meningkatkan intensitas serangan. Federico Vinas masuk untuk menambah daya gedor dan sempat mendapat peluang lewat tembakan kaki kiri setelah menerima umpan silang Maxi Araujo. Namun, bola masih melambung.
Spanyol juga memiliki kesempatan untuk menggandakan keunggulan. Ferran Torres hampir mencetak gol kedua lewat tembakan kaki kanan dari dalam kotak penalti setelah menerima umpan Fabian Ruiz, tetapi bola membentur mistar.
Menjelang akhir laga, Uruguay terus berusaha menekan. Namun, kiper Spanyol Unai Simon mampu menjaga gawangnya tetap aman, termasuk saat menggagalkan upaya Mathias Olivera dan Nicolas de la Cruz.
Frustrasi Uruguay mencapai puncaknya pada masa tambahan waktu. Agustin Canobbio mendapat kartu merah setelah melakukan pelanggaran keras terhadap Pau Cubarsi. Momen itu menutup malam buruk Uruguay di Guadalajara.
Tanjung Verde Jadi Kejutan, Uruguay Pulang
Kekalahan dari Spanyol terasa semakin menyakitkan karena pada saat bersamaan Tanjung Verde berhasil menahan Arab Saudi 0-0. Hasil itu cukup membawa debutan Piala Dunia tersebut finis sebagai runner-up Grup H.
Tanjung Verde mengakhiri fase grup dengan tiga poin dari tiga hasil imbang. Mereka bermain 0-0 melawan Spanyol, menahan Uruguay 2-2, lalu kembali imbang tanpa gol melawan Arab Saudi.
Uruguay dan Arab Saudi sama-sama menutup grup dengan dua poin, tetapi Uruguay berada di posisi ketiga, sedangkan Arab Saudi menjadi juru kunci.
Dengan format Piala Dunia 2026 yang menghadirkan babak 32 besar, dua tim teratas dari setiap grup lolos otomatis. Namun, peringkat ketiga tidak selalu aman karena harus bersaing dengan tim peringkat ketiga dari grup lain. Dalam kasus Uruguay, dua poin tidak cukup untuk menjaga peluang.
Kondisi ini membuat Grup H menjadi salah satu cerita paling menarik di fase grup. Spanyol lolos sebagai favorit, tetapi Tanjung Verde menjadi kejutan terbesar. Debutan yang awalnya tidak banyak diperhitungkan justru menyingkirkan Uruguay, negara dengan sejarah panjang di Piala Dunia.
Spanyol Menatap Fase Gugur
Bagi Spanyol, kemenangan atas Uruguay memastikan posisi puncak Grup H. Meski tidak tampil dominan dalam hal jumlah peluang, La Roja menunjukkan kedewasaan dalam mengelola pertandingan.
Spanyol tetap belum terkalahkan di fase grup. Mereka membuka turnamen dengan hasil imbang 0-0 melawan Tanjung Verde, lalu menang 4-0 atas Arab Saudi, sebelum menutup grup dengan kemenangan tipis atas Uruguay.
Hasil ini menjadi modal penting bagi tim asuhan Luis de la Fuente untuk melangkah ke babak 32 besar. Spanyol akan menghadapi runner-up Grup J pada 2 Juli di Stadion SoFi, Inglewood, California, Amerika Serikat.
Grup J sendiri berisi Argentina, Austria, Aljazair, dan Yordania. Dengan begitu, Spanyol masih harus menunggu kepastian lawan dari grup tersebut.
Di sisi lain, kemenangan ini menjaga mimpi Spanyol untuk kembali meraih gelar Piala Dunia setelah terakhir kali menjadi juara pada 2010.
Evaluasi Berat untuk Uruguay
Kegagalan Uruguay di Piala Dunia 2026 akan menjadi bahan evaluasi besar. Dengan materi pemain yang cukup kuat, La Celeste datang dengan ekspektasi untuk setidaknya melewati fase grup.
Namun, performa mereka sepanjang Grup H tidak cukup meyakinkan. Uruguay gagal menang dalam tiga pertandingan dan hanya mengumpulkan dua poin. Mereka juga kesulitan mencetak gol dalam laga penentuan melawan Spanyol.
Masalah utama Uruguay terlihat pada efektivitas serangan. Dalam pertandingan yang wajib dimenangkan, mereka hanya mencatat satu tembakan tepat sasaran. Tekanan dan intensitas ada, tetapi tidak diikuti ketajaman di sepertiga akhir.
Selain itu, kekalahan dari Spanyol memperlihatkan Uruguay kurang mampu mengambil keuntungan dari momen penting. Peluang Darwin Nunez pada babak pertama, tekanan akhir laga, dan sejumlah situasi bola mati tidak menghasilkan gol yang mereka butuhkan.
Kartu merah Canobbio pada akhir pertandingan juga menggambarkan frustrasi yang tak mampu mereka kendalikan.
Piala Dunia yang Berakhir Terlalu Cepat
Uruguay punya sejarah besar di Piala Dunia, termasuk dua gelar juara dunia. Namun, pada 2026, perjalanan mereka berhenti di fase grup. Kegagalan ini terasa ironis karena mereka tidak berada di grup yang sepenuhnya mustahil. Spanyol memang menjadi favorit, tetapi Uruguay tetap diunggulkan untuk bersaing memperebutkan satu tiket otomatis.
Kenyataannya, Tanjung Verde yang berstatus debutan justru mengambil tempat kedua. Hasil ini menunjukkan bahwa reputasi tidak cukup di turnamen besar. Tim dengan sejarah panjang tetap bisa tersingkir jika gagal menjaga efektivitas, konsistensi, dan ketenangan dalam laga-laga krusial.
Bagi Spanyol, kemenangan ini menjadi bukti bahwa mereka bisa menang meski tidak tampil dalam performa terbaik. Bagi Tanjung Verde, hasil di Guadalajara membuka jalan sejarah. Namun bagi Uruguay, gol Alex Baena menjadi tanda akhir perjalanan yang pahit.
La Celeste kini pulang lebih cepat. Bukan karena kalah telak, tetapi karena gagal menemukan cara menang saat kemenangan menjadi satu-satunya jalan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar