Periskop.id - Kroasia akhirnya mengamankan tempat di fase gugur Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Vatreni itu menang 2-1 atas Ghana dalam pertandingan terakhir Grup L yang berlangsung ketat hingga menit-menit akhir.

Kemenangan ini membawa Kroasia finis sebagai runner-up Grup L dengan enam poin dari tiga pertandingan. Mereka berada di bawah Inggris yang keluar sebagai juara grup setelah mengalahkan Panama 2-0.

Laga melawan Ghana menjadi ujian penting bagi Kroasia. Setelah kalah 2-4 dari Inggris pada laga pembuka, Kroasia bangkit dengan kemenangan 1-0 atas Panama, lalu memastikan kelolosan lewat kemenangan dramatis atas Ghana.

Pelatih Kroasia Zlatko Dalic menilai kemenangan ini menjadi bukti bahwa timnya mampu menjawab keraguan setelah awal turnamen yang tidak sepenuhnya meyakinkan.

“Saya ingin mengucapkan selamat kepada para pemain karena berhasil melaju ke fase gugur. Ini pertandingan yang sulit, tetapi saya pikir Kroasia memainkan pertandingan yang sangat baik secara taktik dan menempatkan diri dengan baik,” kata Dalic.

Ia juga menegaskan Kroasia tidak ingin larut dalam kegembiraan berlebihan meski sudah mencapai target pertama. “Kami tidak akan terlalu euforia soal ini,” ujar Dalic.

Petar Sucic Buka Keunggulan Kroasia

Kroasia membuka pertandingan dengan lebih terstruktur. Luka Modric dan Mateo Kovacic menjadi pengatur ritme di lini tengah, sementara Petar Sucic beberapa kali bergerak di antara ruang pertahanan Ghana.

Gol pertama akhirnya datang pada menit ke-31. Petar Sucic menerima umpan Mateo Kovacic, lalu melepaskan tembakan keras dari luar kotak penalti. Bola meluncur ke sudut bawah gawang Ghana dan membuat Kroasia unggul 1-0.

Gol itu memberi Kroasia kontrol lebih besar atas pertandingan. Mereka tidak selalu bermain cepat, tetapi mampu mengelola bola dan menjaga tempo agar Ghana tidak mudah melakukan transisi.

Ghana sempat mencoba merespons melalui Antoine Semenyo dan Jordan Ayew. Namun, peluang yang mereka bangun belum cukup tajam untuk mengalahkan Dominik Livakovic pada babak pertama. Skor 1-0 untuk Kroasia bertahan hingga turun minum.

Ghana Bangkit Setelah Jeda

Memasuki babak kedua, Ghana tampil lebih agresif. Pelatih Carlos Queiroz melakukan dua pergantian pemain untuk menambah tenaga dan intensitas serangan.

Perubahan itu membuat Ghana lebih berani menekan. Mereka mulai lebih sering mengirim bola ke area pertahanan Kroasia, terutama melalui sisi lapangan dan situasi bola mati.

Derrick Luckassen mengakui Ghana tidak cukup efektif pada babak pertama, tetapi membaik setelah jeda.

“Saya pikir pada babak pertama, kami menguasai bola tetapi tidak melakukan banyak hal dengannya. Kami hanya memutar bola. Pada babak kedua, kami lebih menekan ke depan, mencoba mengirim bola ke area lawan, dan permainan kami jauh lebih baik,” kata Luckassen.

Tekanan Ghana akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-73. Ernest Nuamah mengirim tendangan bebas ke area berbahaya. Luckassen menyambut bola dan menaklukkan Livakovic untuk membuat skor menjadi 1-1.

Gol tersebut sempat dianulir karena dugaan offside. Namun, setelah meninjau VAR, wasit mengesahkan gol itu karena Luckassen dinilai berada dalam posisi sah dan pemain Ghana lain yang berada di posisi offside tidak mengganggu jalannya permainan.

Vlasic Muncul sebagai Penentu

Kegembiraan Ghana tidak berlangsung lama. Kroasia kembali mengambil kendali lewat situasi bola mati.

Pada menit ke-83, Luka Modric mengirim sepak pojok ke arah tiang jauh. Nikola Vlasic memenangi duel udara dan menyundul bola ke arah gawang. Bola sempat membentur tiang sebelum masuk ke gawang Benjamin Asare.

Gol itu mengubah skor menjadi 2-1 untuk Kroasia dan menjadi momen paling menentukan dalam pertandingan. Bagi Vlasic, gol tersebut menjadi pembuktian penting. Ia mendapat kesempatan tampil sejak awal setelah tidak bermain melawan Panama, lalu menjawab kepercayaan pelatih dengan gol kemenangan.

Dalic mengatakan, dirinya memang sudah memberi pesan khusus kepada Vlasic sebelum pertandingan. “Beginilah cara dia bermain sepanjang musim,” kata Dalic.

“Ia menunjukkan hal itu juga malam ini. Sebelum pertandingan saya berkata kepadanya: ‘Ini pertandinganmu.’ Dan ternyata memang seperti itu,” ujarnya.

Ghana mencoba mengejar gol penyeimbang pada sisa laga. Namun, Kroasia bertahan dengan disiplin dan tidak memberi banyak ruang di area berbahaya. Skor 2-1 bertahan hingga peluit panjang.

Modric Kembali Jadi Jantung Kroasia

Kemenangan Kroasia juga tidak lepas dari peran Luka Modric. Gelandang berusia 40 tahun itu memainkan 90 menit penuh untuk pertama kalinya di turnamen ini dan menjadi pengatur utama permainan Vatreni.

Modric juga mencetak sejarah sebagai pemain tertua yang memberikan assist di Piala Dunia dalam data yang tercatat sejak 1966. Assist tersebut lahir dari sepak pojok yang disundul Vlasic menjadi gol kemenangan.

Dalic memberikan pujian khusus untuk kaptennya itu. “Luka benar-benar fantastis. Seperti sepanjang kariernya, malam ini ia kembali seperti itu. Saya sangat senang hasilnya seperti ini,” kata Dalic.

Menurut Dalic, Modric sadar bahwa Piala Dunia 2026 bisa menjadi turnamen terakhirnya di panggung dunia, sehingga ia berusaha memberi segalanya untuk Kroasia. “Luka benar-benar fantastis. Itulah karakter dan energinya,” ujar Dalic.

“Ia sadar, ini adalah Piala Dunia terakhirnya dan ia berusaha melakukan yang terbaik. Saya berharap ia tetap sehat dan bersama Kroasia selama mungkin,” imbuhnya.

Ghana Tetap Menjaga Peluang Fase Gugur

Kekalahan ini membuat Ghana finis di posisi ketiga Grup L. Dalam laporan awal, Ghana masih disebut harus menunggu hasil dari grup lain untuk memastikan nasibnya lewat jalur peringkat ketiga terbaik.

Namun, laporan Reuters setelah pertandingan menyebut Ghana sudah dipastikan lolos sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik dan akan menghadapi juara Grup K pada babak 32 besar.

Bagi Ghana, kekalahan dari Kroasia tetap menyakitkan karena mereka sempat berada dalam posisi cukup baik untuk minimal meraih hasil imbang.

Luckassen, yang mencetak gol penyama kedudukan, mengaku senang bisa mencetak gol, tetapi kecewa dengan hasil akhir. “Rasanya menyenangkan,” kata Luckassen. “Namun, saya sedikit kecewa dengan kekalahan ini," serunya. 

Ghana juga mendapat kabar kurang ideal setelah Antoine Semenyo sempat terlihat mengalami masalah pada pergelangan kaki pada fase akhir pertandingan. Namun, ia masih bisa kembali dan menyelesaikan laga.

Jalur Kroasia di 32 Besar

Dengan finis sebagai runner-up Grup L, Kroasia akan menghadapi runner-up Grup K pada babak 32 besar. Lawan mereka kemungkinan berasal dari persaingan antara Portugal dan Kolombia, tergantung hasil akhir grup tersebut.

Duel itu akan menjadi tantangan besar bagi Kroasia. Namun, kemenangan atas Ghana memberi modal psikologis penting setelah mereka sempat diragukan pada awal turnamen.

Dalic bahkan menyebut Kroasia mulai kembali ke identitas lama yang membawa mereka tampil kuat di Piala Dunia 2018 dan 2022.

“Saya pikir kami sudah kembali ke posisi kami sebelumnya, seperti sembilan tahun lalu. Tetapi ini sekali lagi baru langkah kecil untuk mencapai tujuan pertama, yaitu melaju ke fase gugur,” kata Dalic.

Ia juga menyinggung kritik yang sempat diarahkan kepada Kroasia setelah dua laga awal. Menurutnya, tim nasional Kroasia layak mendapat apresiasi lebih besar karena telah memberi banyak hal kepada negara.

“Tim nasional ini pantas mendapatkan yang lebih baik karena begitu banyak penggemar yang mendukung Kroasia,” kata Dalic.

“Baik saat kalah maupun menang, mereka harus dicintai karena semua yang telah mereka lakukan untuk rakyat dan negara. Ini perlu dihargai dan tidak malah dilawan ketika mereka kalah,” ujarnya.

Kroasia Menang karena Pengalaman

Kemenangan atas Ghana memperlihatkan salah satu kekuatan terbesar Kroasia: pengalaman. Mereka mungkin tidak selalu tampil eksplosif, tetapi tahu cara bertahan dalam tekanan dan memanfaatkan momen penting.

Gol Petar Sucic menunjukkan keberanian lini tengah Kroasia mengambil keputusan dari jarak jauh. Gol Vlasic memperlihatkan efektivitas bola mati, sesuatu yang sering menjadi pembeda dalam pertandingan ketat.

Di sisi lain, Ghana menunjukkan bahwa mereka punya intensitas dan energi, terutama pada babak kedua. Namun, kelengahan dalam situasi sepak pojok membuat mereka kehilangan kesempatan untuk setidaknya mengamankan satu poin.

Bagi Kroasia, tiket ke 32 besar menjadi bukti bahwa mereka masih relevan sebagai tim turnamen. Dengan Modric yang masih memimpin, Kovacic yang menjaga keseimbangan, dan pemain seperti Sucic serta Vlasic yang muncul pada momen penting, Kroasia tetap menjadi lawan berbahaya di fase gugur.

Kini, Vatreni tinggal menunggu siapa runner-up Grup K yang akan menjadi lawan mereka. Tantangan berikutnya jelas lebih berat, tetapi Kroasia sudah melewati ujian pertama: bangkit dari keraguan dan memastikan diri tetap hidup di Piala Dunia 2026.

Susunan Pemain

Kroasia: Dominik Livakovic; Josip Stanisic, Josip Sutalo, Marin Pongracic, Ivan Perisic; Luka Modric, Mateo Kovacic, Nikola Vlasic, Petar Sucic, Martin Baturina, Ante Budimir.

Ghana: Benjamin Asare; Marvin Senaya, Jonas Adjetey, Derrick Luckassen, Gideon Mensah; Kwasi Sibo, Elisha Owusu, Thomas Partey; Kamaldeen Sulemana, Jordan Ayew, Antoine Semenyo.