iklan periskop
Sepak Bola

Disambut Baik, Liga Putri Indonesia Kembali Setelah 7 Tahun Vakum, Kick-off 17 Oktober

Liga Putri Indonesia kembali setelah vakum tujuh tahun. Indonesia Women's League 2026/27 kick-off 17 Oktober dengan enam klub dan format triple round-robin

7 jam yang lalu · 6 mnt baca
Liga Putri Indonesia
Ilustrasi - Liga Putri Indonesia (Indonesia Women's League/IWL) 2026/2027 . dok. Periskop.id
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Penantian panjang pesepak bola putri Indonesia akhirnya berakhir. Setelah vakum selama tujuh tahun, kompetisi sepak bola putri nasional kembali digelar melalui Indonesia Women's League (IWL) 2026/27 yang akan dimulai pada 17 Oktober 2026. Enam klub ambil bagian pada musim perdana, dengan seluruh pertandingan dipusatkan di Lapangan Soemantri Brodjonegoro, Jakarta.

Kembalinya liga disambut antusias para pemain yang selama bertahun-tahun tidak memiliki kompetisi profesional reguler di dalam negeri. Kapten Timnas Putri Indonesia Safira Ika menilai kompetisi menjadi fondasi penting agar pesepak bola perempuan memiliki jalur karier yang lebih jelas.

“Senang sekarang ada wadah yang lebih profesional untuk berkarier di sepak bola di dalam negeri, sehingga kami bisa berkembang dari sisi permainan dan skill,” kata Safira yang akan bermain untuk Dewa United.

Menurut Safira, kompetisi reguler tidak hanya membantu perkembangan teknik, tetapi juga menjaga kondisi fisik pemain melalui rangkaian latihan dan pertandingan yang konsisten. Sistem kontrak yang diterapkan klub juga menjadi langkah awal menuju kepastian karier bagi pemain putri.

“Terima kasih kepada Pak Erick Thohir, Bu Vivin, dan para Exco yang telah memperjuangkan ini,” ujar Safira.

Antusiasme serupa disampaikan Zahra Muzdalifah yang bergabung dengan FC Bekasi City. Meski masih menjalani pemulihan cedera dan diperkirakan baru dapat bermain pada putaran kedua, Zahra melihat lahirnya IWL sebagai perkembangan besar setelah kompetisi putri terakhir kali digelar pada 2019.

“Meski masih enam klub dan bermain dengan model centralized, bagi saya it’s better than nothing. Ini membuat mimpi kami sebagai pemain profesional benar-benar menjadi kenyataan,” tutur Zahra.

Enam Klub, Triple Round-Robin hingga Semifinal

Indonesia Women's League 2026/27 diikuti enam tim, yakni Persija Jakarta, Persita Tangerang, Dewa FC Banten, FC Bekasi City, Persikad Depok, dan Garudayaksa FC. Laga pembuka akan mempertemukan Persija dan Persita pada 17 Oktober.

Musim pertama menggunakan sistem triple round-robin. Artinya, setiap klub akan bertemu tiga kali sehingga masing-masing memainkan sedikitnya 15 pertandingan pada fase awal. Empat tim terbaik kemudian maju ke semifinal sebelum dua pemenang memperebutkan gelar juara di partai final.

Seluruh laga akan dimainkan secara terpusat di Soemantri Brodjonegoro. I.League menyebut sistem terpusat dipilih untuk efisiensi penyelenggaraan sekaligus membangun atmosfer kompetisi yang lebih terintegrasi pada musim perdana.

Operator kompetisi juga membawa konsep sports festival. Pertandingan sepak bola akan dikombinasikan dengan berbagai aktivitas di sekitar venue untuk membuat liga lebih menarik bagi suporter, keluarga, dan masyarakat.

CEO Indonesia Women's League Teddy Tjahjono mengatakan, sistem drafting pemain juga digunakan untuk mencegah kekuatan terlalu terkonsentrasi pada klub tertentu.

"Kami menerapkan konsep sports festival yang menggabungkan pertandingan putri dengan beberapa modifikasi menarik. Sistem drafting pemain juga telah kami lakukan untuk memastikan pemerataan kekuatan di antara enam tim peserta, sehingga kompetisi berjalan kompetitif sejak hari pertama," jelas Teddy.

Masing-masing klub juga akan diperkuat pemain Timnas Putri Indonesia. Zahra menilai penyebaran pemain tim nasional melalui mekanisme drafting dapat membantu menjaga keseimbangan kompetisi sekaligus memberi kesempatan kepada pemain non-timnas untuk menunjukkan kemampuan. Setiap klub juga diperbolehkan mendaftarkan maksimal empat pemain asing.

Pemain Berharap Liga Tak Lagi Berhenti

Lebih dari sekadar format kompetisi, tantangan terbesar IWL adalah keberlanjutan. Pengalaman tujuh tahun tanpa liga membuat pemain berharap kompetisi kali ini tidak berhenti setelah satu atau dua musim.

Gelandang FC Bekasi City Hanipa Halimatusyadiah mengaku para pemain sudah lama menunggu kehadiran liga nasional. Selama kompetisi vakum, sejumlah pesepak bola putri harus mencari kesempatan bertanding ke luar negeri atau mengandalkan turnamen yang sifatnya tidak reguler.

"Pasti ini yang ditunggu-tunggu ya sama semua pemain, termasuk aku sendiri. Mungkin kadang kita ngerasa, 'Kapan nih Indonesia ada liga?' gitu, sampai yang harus nyari-nyari link untuk main di luar negeri. Pasti ini excited banget dan nggak sabar," kata Hanipa.

Hanipa merasakan langsung masa tanpa kompetisi reguler. Ia bermain pada Liga 1 Putri 2019 bersama PS Tira Persikabo ketika masih berusia 16 tahun. Setelah liga berhenti, ia tetap menjaga karier melalui PON 2021 di Papua dan PON 2024 Aceh-Sumatera Utara, ketika Jawa Barat meraih medali emas.

"Aku berharap emang konsisten dan bisa jadi hal yang pasti untuk masa depan kita sebagai pemain. Karena kita sudah memutuskan untuk jadi pemain bola dan pasti ada hal-hal yang dikorbankan," kata Hanipa.

"Entah itu waktu atau pendidikan, yang kita kuliah jarang masuk atau pusing sendiri ngurusinnya. Kita korbanin itu untuk sepak bola. Aku berharap ini konsisten dan bisa jadi ekosistem yang mungkin sama kayak (sepak bola) cowok lah," cetusnya.

Untuk membantu keberlanjutan itu, I.League menyatakan telah menyiapkan skema subsidi bagi enam klub peserta agar biaya mengikuti kompetisi tidak sepenuhnya menjadi beban tim. Direktur Utama I.League Ferry Paulus mengatakan, kesehatan finansial klub menjadi salah satu perhatian sejak awal pembangunan liga.

"Kami di I.League berkomitmen penuh memastikan IWL berjalan profesional. Kami telah menyiapkan skema subsidi yang proporsional agar klub peserta dapat mengarungi kompetisi dengan sehat secara finansial," ujar Ferry.

Liga Putri Terakhir Bergulir pada 2019

Kompetisi sepak bola putri nasional terakhir digelar pada 2019. Ketika itu, Persib Bandung Putri keluar sebagai juara setelah mengalahkan Tira Persikabo Kartini 3-1 pada leg kedua final di Stadion Pakansari. Hasil itu melengkapi kemenangan 3-0 pada leg pertama sehingga Persib menjadi juara dengan agregat 6-1.

Setelah musim tersebut, liga tidak berlanjut. Situasi itu membuat jalur pembinaan pemain putri memiliki kesenjangan antara kompetisi usia muda, tim daerah, tim nasional, dan jenjang profesional.

Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengatakan kembalinya liga kali ini harus ditempatkan sebagai program jangka panjang, bukan sekadar penyelenggaraan simbolis.

"Kami punya komitmen bahwa sepak bola wanita itu tidak pernah dinomorduakan oleh kepengurusan PSSI saat ini. Saya rasa tidak ada periode-periode, di mana kita bisa lihat tim nasional putri berjalan seiring dengan tim nasional putra," kata Erick.

Ia menegaskan kompetisi harus mampu bertahan setelah musim pertama.

"Jangan sampai liga itu juga hanya dilahirkan hanya untuk pencitraan yang akhirnya berhenti pada kemudian hari," kata Erick.

Pelatih sekaligus Manajer Persikad Depok Diego Tobing juga melihat musim pertama IWL sebagai kesempatan mengukur kedalaman talenta sepak bola putri nasional.

“Dengan IWL, sudah pasti lebih menantang karena kompetisi pertama ini akan menjadi tolok ukur baru bagi kelayakan pemain-pemain putri potensial di masa depan,” ucap Diego.

Pembinaan Usia Muda Ikut Diperkuat

Kembalinya liga senior berjalan bersamaan dengan penguatan kompetisi kelompok umur. PSSI bersama Bakti Olahraga Djarum Foundation menggelar Srikandi Merdeka Cup 2026 pada 14-23 Agustus di Supersoccer Arena, Kudus, Jawa Tengah. Turnamen U-16 tersebut melibatkan delapan tim dari tujuh negara.

Indonesia menurunkan dua tim, Garuda Pertiwi yang ditangani Timo Scheunemann dan Putri Nusantara di bawah Takumi Taniguchi. Mereka menghadapi tim dari Malaysia, Singapura, Thailand, Hong Kong, Yordania, dan Arab Saudi. Turnamen tersebut sekaligus menjadi ajang pemantauan pemain menuju pembentukan Timnas Putri U-17 untuk Kualifikasi AFC U-17 2027.

Erick melihat pembinaan kelompok umur dan kehadiran liga senior harus berjalan dalam satu ekosistem.

"Srikandi Cup sebagai bukti, kami juga menggulirkan lagi komitmen, bagaimana kelompok umur di bawah 16 tahun bisa terus meningkatkan prestasi. Hadir negara-negara besar dalam sepak bola," tuturnya.

Dengan demikian, 17 Oktober bukan hanya menandai kembalinya sebuah kompetisi setelah tujuh tahun. IWL akan menjadi ujian apakah sepak bola putri Indonesia mampu membangun jalur karier yang berkelanjutan, dari pembinaan usia muda hingga level profesional.

Bagi para pemain, ukuran keberhasilannya tidak sekadar siapa yang menjadi juara pada musim pertama. Yang lebih penting adalah memastikan kompetisi kembali bergulir pada musim berikutnya, klub memiliki model bisnis yang sehat, dan pesepak bola perempuan dapat menjadikan sepak bola sebagai karier profesional yang memiliki masa depan.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Erick Thohir, Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), dan sepak bola putri dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.