Apa Itu Social Engineering? Kenali Modus Penipuan Online yang Sering Bikin Korban Tertipu
Kenali apa itu social engineering, modus penipuan online seperti phishing, vishing, smishing, dan cara menjaga data pribadi.

Periskop.id - Pernahkah Anda menerima pesan mencurigakan yang meminta informasi pribadi atau mengarahkan untuk mengikuti instruksi tertentu? Kejahatan siber di era digital berkembang semakin beragam, dan tindakan semacam itu merupakan salah satu bentuk manipulasi psikologis yang populer disebut social engineering.
Social engineering adalah teknik manipulasi psikologis yang digunakan pelaku untuk memperoleh informasi penting milik korban dengan cara membuat korban mengikuti instruksi yang diberikan. Pelaku memanfaatkan kelengahan serta tingkat kepercayaan calon korban agar mau menyerahkan data sensitif secara sukarela.
Beragam Jenis dan Modus Social Engineering
Untuk mengelabuhi korban, pelaku kerap memanfaatkan berbagai saluran komunikasi modern. Berikut adalah beberapa jenis dan modus social engineering yang kerap melanda masyarakat:
- Phishing, yaitu upaya memperoleh data pribadi melalui tautan, situs web, email, atau formulir palsu yang dibuat menyerupai layanan resmi. Korban biasanya diminta memasukkan username, password, PIN, maupun data kartu pembayaran dengan alasan pembaruan data atau verifikasi akun.
- Vishing (voice phishing) dan smishing, yaitu modus di mana pelaku menghubungi korban melalui telepon atau pesan SMS. Pesan yang dikirim biasanya berisi tautan atau permintaan untuk segera melakukan tindakan tertentu dengan alasan tawaran hadiah, pembaruan data, hingga ancaman pemblokiran akun.
- Impersonation atau penyamaran, di mana pelaku menyamar sebagai pihak tertentu seperti pegawai bank, petugas layanan pelanggan, aparat penegak hukum, hingga keluarga atau teman korban. Modus ini bertujuan memperoleh kepercayaan korban agar bersedia memberikan data pribadi atau mentransfer sejumlah uang.
- Penyalahgunaan Identitas (identity theft), di mana data pribadi yang sudah bocor dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan baru. Misalnya, data identitas korban digunakan tanpa izin untuk membuka rekening bank baru, mengajukan pinjaman online, atau melakukan transaksi tertentu tanpa sepengetahuan pemilik data.
Pentingnya Kewaspadaan dan Jangan Mudah Percaya
Dalam menjalankan aksinya, pelaku dapat menggunakan berbagai media komunikasi seperti email, SMS, sambungan telepon, aplikasi pesan singkat chat, maupun situs web. Pola utama yang sering muncul adalah menciptakan urgensi palsu agar korban merasa panik atau tergiur secara instan.
Mengingat risikonya yang besar, masyarakat diimbau untuk tidak mudah percaya pada pihak mana pun yang secara tiba-tiba meminta data rahasia. Selalu bersikap waspada terhadap pesan atau komunikasi yang meminta informasi penting, serta lakukan konfirmasi ulang ke kanal resmi lembaga terkait sebelum mengambil keputusan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Penipuan Daring dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.