periskop.id - Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso mengatakan kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) dioptimalkan demi mendongkrak perekonomian nasional.

Langkah strategis itu diambil untuk memastikan keuntungan penjualan komoditas benar-benar masuk ke pasar domestik.

Ia menjelaskan, aturan tersebut mewajibkan seluruh pendapatan ekspor dari sektor-sektor unggulan masuk ke dalam sistem keuangan dalam negeri.

Adapun sektor yang diwajibkan mencakup bidang pertambangan, perkebunan, kehutanan, hingga perikanan.

"Fundamental ekonomi kita sebenarnya sangat kuat," kata Sesmenko Susiwijono, Kamis (25/6).

Menurutnya, penguatan likuiditas valuta asing (valas) domestik menjadi salah satu fokus utama dari kebijakan ini. Langkah tersebut dinilai efektif untuk menjaga stabilitas nilai tukar mata uang kita.

Ia menambahkan, cadangan devisa negara dipastikan bakal semakin kokoh lewat skema penyimpanan tersebut.

Pembiayaan untuk berbagai proyek pembangunan nasional juga disebut akan mendapat sokongan modal yang kuat.

Susiwijono memaparkan, regulasi DHE SDA ini bukan merupakan sebuah kebijakan yang benar-benar baru di Indonesia.

Pemerintah disebut hanya melakukan peningkatan dan penyempurnaan dari aturan yang sudah berjalan sebelumnya.

Melalui optimalisasi pengelolaan devisa ini, ia berharap kontribusi positif terhadap pertumbuhan ekonomi nasional bisa segera terwujud.

Ketahanan ekonomi domestik juga diyakini akan semakin tangguh menghadapi gejolak pasar internasional.

Kebijakan ini sekaligus menjadi langkah pemerintah dalam mengantisipasi berbagai risiko dan tantangan global yang dinamis.

Penguatan modal dalam negeri dipandang sebagai benteng utama pertahanan ekonomi nasional.

Upaya ini juga diharapkan mampu menjawab isu sentimen pasar yang berkembang belakangan ini.

Susiwijono menilai pemulihan kepercayaan investor sangat bergantung pada transparansi kondisi riil di lapangan.

"Kalau sekarang ada permasalahan terkait trust atau kepercayaan investor, maka kita perlu bersama-sama menjelaskan kondisi yang sebenarnya dan membangun optimisme terhadap perekonomian Indonesia ke depan," pungkas Susiwijono.