Periskop.id - Harga minyak dunia kembali tertekan pada perdagangan Jumat (26/6), bersiap mencatat koreksi mingguan sekitar 7%. Kekhawatiran gangguan pasokan mulai mereda setelah lebih banyak kapal tanker berhasil melintasi Selat Hormuz, meski insiden baru di dekat Oman masih membayangi pasar.
Berdasarkan data yang dilansir Reuters, minyak mentah Brent melemah 19 sen atau 0,25% ke level US$75,07 per barel. Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat turut tergerus 13 sen atau 0,18% menjadi US$71,79 per barel.
"Pasar akan mencermati apakah lalu lintas kapal tanker dapat kembali normal atau justru hambatan terbaru ini memaksa produsen menunda rencana peningkatan produksi," tutur Analis IG Tony Sycamore, Jumat (27/6).
Tony Sycamore menilai premi risiko geopolitik mulai kembali terhitung ke dalam harga minyak. Pernyataan itu muncul setelah sebuah kapal kargo terkena proyektil yang belum diketahui asalnya di dekat Oman pada Kamis (25/6), mendorong kedua kontrak acuan sempat melonjak lebih dari 2%.
Insiden tersebut membuat badan pelayaran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghentikan sementara skema evakuasi sukarela bagi kapal-kapal di kawasan itu. Dua pejabat Amerika Serikat menyampaikan kepada Reuters bahwa kapal itu ditembaki Iran saat hendak melintasi Selat Hormuz.
Otoritas Iran, di sisi lain, menegaskan keamanan kapal yang berlayar di luar jalur resmi Selat Hormuz tidak bisa dijamin.
Meski tekanan geopolitik belum sepenuhnya reda, data terbaru menunjukkan pengiriman minyak mentah melalui Selat Hormuz naik ke level tertinggi sejak konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran meletus pada Februari. Pemulihan ini terjadi setelah kesepakatan gencatan senjata membuka kembali jalur pelayaran di kawasan tersebut.
Namun volumenya masih jauh dari kondisi normal. Sebelum konflik dimulai pada 28 Februari, sekitar 125 kapal melintasi Selat Hormuz setiap hari.
Tekanan pasar tak berhenti di situ. Gempa bumi yang mengguncang Venezuela pada Kamis turut memunculkan kekhawatiran baru terhadap pasokan minyak global. Penilaian awal menunjukkan sebagian besar fasilitas produksi minyak, gas, kilang, jaringan pipa, dan terminal ekspor Venezuela tidak mengalami kerusakan berarti karena letaknya jauh dari pusat gempa.
Gangguan pasokan listrik pascagempa, menurut sejumlah sumber Reuters, menimbulkan ketidakpastian soal kemampuan Venezuela mempertahankan produksinya di kisaran 1,2 juta barel per hari. Pelaku pasar kini terus memantau perkembangan Selat Hormuz dan kondisi produksi Venezuela sebagai dua faktor utama yang berpotensi menggerakkan harga minyak dalam jangka pendek.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar