periskop.id - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 2% dalam perdagangan Senin (8/6). Pemicunya adalah serangan baru Israel ke Lebanon, meski kedua pihak sudah menyepakati gencatan senjata.

Kenaikan itu terjadi di dua patokan utama pasar global. Kontrak berjangka minyak Brent melonjak US$2,33 atau 2,5% ke posisi US$95,42 per barel, sementara kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS terkerek US$2,10 atau 2,32% menjadi US$92,64 per barel.

Advertisement

"Dalam kondisi pasar saat ini, dampak fisik dari keputusan tersebut hampir nol," ujar Kepala Analisis Geopolitik Rystad Energy Jorge Leon dalam catatannya dikutip Reuters, Senin (8/6).

Leon merujuk pada keputusan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC+) yang pada Minggu lalu menyepakati kenaikan produksi untuk keempat kalinya dalam empat bulan terakhir. Menurutnya, langkah tersebut minim dampak nyata karena sebagian besar anggota OPEC+ tidak sanggup memenuhi target produksi mereka di tengah penutupan Selat Hormuz.

Lonjakan harga ini juga membalikkan sebagian besar pelemahan yang terjadi pada Jumat pekan lalu. Kala itu, harga minyak terkoreksi akibat tumbuhnya harapan bahwa perang Iran dan Amerika Serikat (AS) akan mereda.

Serangan terbaru Israel ke Lebanon dinilai menjadi batu sandungan bagi tercapainya kesepakatan damai AS-Iran. Iran sendiri menjadikan gencatan senjata di Lebanon sebagai salah satu prasyarat sebelum bersedia berdamai dengan Washington, sekaligus syarat pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dunia.

Sebagai respons atas serangan Israel, Iran meluncurkan rudal ke Israel pada hari yang sama. Presiden AS Donald Trump menyatakan bakal meminta Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk tidak membalas serangan tersebut.

Agresi Israel ke Lebanon pertama kali dilancarkan pada Maret lalu dengan dalih memberantas kelompok Hizbullah yang didukung Iran. Pada 3 Juni, Lebanon dan Israel mengumumkan telah mencapai kesepakatan gencatan senjata setelah menjalani serangkaian perundingan di Washington.

Ini bukan pertama kalinya gencatan gagal bertahan. Pada April lalu, kedua negara juga sempat menyetujui penghentian permusuhan, namun kekerasan tetap berlanjut setelahnya.

Kapasitas produksi minyak Rusia pun turut tergerus dalam situasi ini. Serangan Ukraina terhadap sejumlah infrastruktur energi Moskow disebut telah membatasi kemampuan produksi negara itu secara signifikan, sehingga kenaikan produksi OPEC+ semakin sulit terealisasi di lapangan.