periskop.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah Iran menegaskan sikap keras terhadap Amerika Serikat, Israel, dan sekutunya. Juru bicara Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ali Mohammad Naini, menyatakan bahwa Teheran tidak akan membiarkan “setetes pun minyak” diekspor dari kawasan tersebut selama konflik masih berlangsung.
“Di tengah agresi yang terus berlangsung dari Amerika Serikat dan rezim Zionis terhadap rakyat Iran serta infrastruktur sipil kami, angkatan bersenjata Iran tidak akan membiarkan setetes pun minyak diekspor dari kawasan ini kepada pihak yang bermusuhan dan mitra mereka hingga pemberitahuan lebih lanjut,” tegas Naini, dikutip dari Antara, Rabu (11/3).
Ia menambahkan, upaya pihak lawan untuk menekan harga minyak dan gas hanya akan bersifat sementara. Menurutnya, Iran memegang kendali atas jalannya konflik dan akan menentukan kapan pertempuran berakhir. Naini juga membantah klaim Washington bahwa kemampuan rudal Iran melemah. Sebaliknya, ia menegaskan bahwa Teheran akan meluncurkan rudal dengan hulu ledak berbobot sedikitnya satu ton.
Pernyataan keras ini muncul setelah serangan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari yang menghantam sejumlah target di Iran, termasuk di Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan fasilitas dan korban sipil. Iran kemudian membalas dengan meluncurkan rudal ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah.
Washington dan Tel Aviv awalnya menyebut serangan itu sebagai langkah “pencegahan” terhadap ancaman nuklir Iran. Namun, belakangan keduanya juga menyuarakan keinginan melihat perubahan kekuasaan di Teheran. Situasi semakin dramatis ketika Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan syahid pada hari pertama operasi militer. Pemerintah Iran menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.
Reaksi internasional pun bermunculan. Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran hukum internasional. Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak penghentian permusuhan dan deeskalasi segera.
Konteks ini semakin mempertegas posisi strategis Iran di kawasan. Selat Hormuz, jalur vital ekspor minyak dunia, berada di bawah pengawasan militer Iran. Sekitar 20% pasokan minyak global melewati jalur tersebut, sehingga ancaman Iran untuk menutup akses ekspor berpotensi mengguncang pasar energi internasional. Sejarah mencatat, setiap kali Iran mengeluarkan ancaman terkait Selat Hormuz, harga minyak dunia langsung melonjak.
Tinggalkan Komentar
Komentar