Periskop.id - Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan yang menyebut pasokan amunisi negaranya menipis akibat perang melawan Iran. Ia menegaskan AS memiliki amunisi jauh melebihi kebutuhan.

Bantahan itu muncul setelah sejumlah komandan senior militer AS mengakui stok amunisi kian menipis. Sekutu-sekutu AS di kawasan Teluk juga menyuarakan kekhawatiran soal kekurangan sistem pertahanan udara.

"Saat ini, perusahaan-perusahaan pertahanan kita memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus memperluas pabrik dan peralatan mereka hingga mencapai tingkat rekor," kata Trump dalam keterangan resmi yang dirilis Gedung Putih, Rabu (5/8).

CNN melaporkan militer AS telah memakai hampir 80% stok rudal pencegat dan sekitar separuh rudal Patriot sejak perang dengan Iran dimulai akhir Februari lalu. Kekurangan sistem Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) yang sebelumnya tidak dilaporkan turut memperparah kekhawatiran terhadap pasokan rudal Patriot.

Para komandan senior AS, menurut sumber yang dikutip CNN, secara pribadi menggambarkan cadangan amunisi keseluruhan Pentagon berada pada level sangat rendah hingga berbahaya.

Center for Strategic and International Studies (CSIS) memperkirakan sebelum perang meletus, Washington memiliki sekitar 2.200 unit varian rudal Patriot paling modern dan 452 rudal THAAD.

Negara-negara Teluk yang bergantung pada pasokan sistem pertahanan udara AS memperingatkan bahwa kekurangan tersebut bisa melemahkan kemampuan mencegat rudal dan drone Iran. Kondisi ini dinilai makin rawan jika mereka menghadapi serangan balasan menyusul serangan AS.

Reuters melaporkan hal serupa, mengutip tiga sumber yang mengetahui data tersebut. Militer AS disebut telah menggunakan sebagian besar pasokan rudal jarak jauh berakurasi tinggi selama lima bulan perang melawan Iran.

Rudal jarak jauh yang dimaksud mencakup rudal darat-ke-darat jenis Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Dua sumber yang dikutip Reuters menyebutkan AS telah menghabiskan hampir semua persenjataan tersebut.

Menipisnya pasokan rudal presisi jarak jauh secara drastis itu membuat Trump kemungkinan harus lebih mengandalkan misi pengeboman berawak yang lebih berisiko, jika kembali melancarkan serangan berskala besar terhadap Iran.

Laporan mengenai menipisnya amunisi AS ini pertama kali diungkap para komandan senior militer, sebagaimana dilansir Anadolu Agency dan Reuters pada Rabu (5/8). Perang antara AS dan Iran sendiri telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

"Saat ini, perusahaan-perusahaan pertahanan kita memproduksi amunisi dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya, sekaligus memperluas pabrik dan peralatan mereka hingga mencapai tingkat rekor," tegas Trump.