Periskop.id - Cadangan devisa terbesar dunia hari ini tidak terbentuk dalam ruang kosong. Di balik tumpukan aset valas yang kini dimiliki banyak negara, ada pelajaran besar dari krisis yang mengguncang Asia hampir tiga dekade lalu.

Krisis Keuangan Asia 1997 menjadi titik balik penting. Saat itu, banyak negara menyadari betapa rentannya perekonomian jika terlalu bergantung pada aliran modal asing, terutama ketika pasar keuangan sedang bergejolak. 

Sejak krisis tersebut, sejumlah pemerintah mulai memperkuat cadangan devisa sebagai bentuk perlindungan mandiri bagi stabilitas ekonomi nasional.

Mengacu pada data International Reserves and Foreign Currency Liquidity (IRFCL) milik Dana Moneter Internasional (IMF), seperti dihimpun Visual Capitalist, peringkat ini menyusun negara berdasarkan nilai cadangan devisa asing, tidak termasuk emas. 

Data yang digunakan merujuk pada periode pelaporan terbaru yang tersedia, mulai pertengahan 2025 hingga kuartal II 2026.

Daftar Negara dengan Cadangan Devisa Terbesar

China menempati posisi teratas dengan cadangan devisa asing sebesar US$3.410,5 miliar. Nilai tersebut jauh meninggalkan Jepang yang berada di peringkat kedua dengan US$1.259,2 miliar.

Swiss menjadi satu-satunya negara Eropa Barat yang masuk tiga besar, dengan cadangan devisa asing sebesar US$932,3 miliar. Sementara itu, Taiwan, India, Arab Saudi, Hong Kong, Rusia, Korea Selatan, dan Singapura melengkapi daftar 10 besar.

Indonesia berada di peringkat ke-20 dengan cadangan devisa asing sebesar US$146,2 miliar.

Data di bawah ini menunjukkan negara-negara dengan kepemilikan cadangan devisa terbesar:

PeringkatNegaraCadangan Devisa Asing (US$ miliar)Kawasan
1China3.410,5Asia
2Jepang1.259,2Asia
3Swiss932,3Eropa
4Taiwan602,5Asia
5India543,0Asia
6Arab Saudi458,6Timur Tengah
7Hong Kong442,1Asia
8Rusia434,5Eropa/Eurasia
9Korea Selatan423,1Asia
10Singapura419,3Asia
20Indonesia146,2Asia

Asia Mendominasi Cadangan Devisa Global

Pola paling menonjol dari peringkat tersebut adalah dominasi Asia. Dari 10 pemegang cadangan devisa terbesar dunia, tujuh di antaranya berada di kawasan Asia.

Negara-negara Asia dalam daftar teratas tersebut secara kolektif menyumbang sekitar dua pertiga dari total cadangan devisa global. Besarnya porsi ini menunjukkan bagaimana kawasan Asia selama puluhan tahun membangun kekuatan ekonomi melalui pertumbuhan berbasis ekspor, surplus perdagangan yang konsisten, serta kebijakan yang menempatkan stabilitas keuangan sebagai prioritas.

Strategi tersebut membuat banyak negara Asia memiliki bantalan keuangan yang besar. Cadangan devisa menjadi alat penting untuk menjaga kepercayaan pasar, menahan tekanan eksternal, dan memperkuat posisi ekonomi ketika terjadi gejolak global.

Mengapa Negara Mengumpulkan Cadangan Devisa Besar?

Cadangan devisa dapat dipahami sebagai dana darurat bagi sebuah negara. Dalam kondisi normal, cadangan ini menjadi penyangga stabilitas ekonomi. Namun, perannya menjadi jauh lebih penting ketika pasar keuangan global mengalami tekanan.

Bank sentral dapat menggunakan cadangan devisa untuk menstabilkan nilai mata uang saat terjadi pelemahan tajam. Selain itu, cadangan ini juga dapat dipakai untuk membayar impor penting, memenuhi kewajiban utang luar negeri, serta menjaga kepercayaan investor ketika terjadi arus modal keluar.

Semakin besar cadangan yang dimiliki suatu negara, semakin besar pula ruang gerak pemerintah dan bank sentral dalam merespons guncangan eksternal. Negara dengan cadangan devisa besar cenderung tidak mudah bergantung pada bantuan asing ketika menghadapi tekanan ekonomi.

Pelajaran ini menjadi sangat jelas setelah Krisis Keuangan Asia 1997. Pada masa itu, sejumlah negara Asia mengalami kejatuhan nilai mata uang secara drastis dan terpaksa mencari dukungan eksternal. 

Setelah krisis berlalu, banyak pemerintah di kawasan ini memilih membangun cadangan devisa besar sebagai strategi perlindungan ekonomi jangka panjang.

Manfaat dan Biaya dari Cadangan Devisa Besar

Cadangan devisa yang besar memberikan banyak keuntungan. Negara dengan bantalan valas kuat biasanya memiliki posisi lebih baik untuk menghadapi krisis eksternal. Keberadaan cadangan yang besar juga dapat membantu menjaga kepercayaan investor, terutama ketika pasar sedang dilanda ketidakpastian.

Namun, menyimpan cadangan devisa dalam jumlah besar juga memiliki konsekuensi. Sebagian besar dana cadangan biasanya ditempatkan pada aset yang relatif aman, seperti surat utang pemerintah dengan imbal hasil rendah. Artinya, dana tersebut tidak digunakan untuk kebutuhan lain yang mungkin lebih produktif di dalam perekonomian.

Karena itu, pembuat kebijakan perlu menjaga keseimbangan. Di satu sisi, cadangan devisa memberikan rasa aman dan memperkuat ketahanan ekonomi. Di sisi lain, ada biaya peluang karena dana dalam jumlah besar disimpan dalam instrumen dengan imbal hasil rendah, bukan dialokasikan untuk investasi atau belanja produktif lainnya.

Cadangan Devisa dan Peta Kekuatan Ekonomi Dunia

Peringkat cadangan devisa ini menunjukkan bahwa pengaruh keuangan global tidak hanya ditentukan oleh ukuran ekonomi suatu negara. Amerika Serikat tetap menjadi pusat sistem moneter internasional karena dominasi dolar AS dalam perdagangan dan keuangan global. 

Namun, besarnya cadangan devisa negara-negara Asia menunjukkan bahwa kawasan ini memiliki peran sangat penting dalam arus perdagangan, manufaktur, dan pergerakan modal lintas negara.

Dominasi Asia dalam daftar pemegang cadangan devisa terbesar dunia juga mencerminkan perubahan peta ekonomi global. Kawasan ini bukan hanya menjadi pusat produksi dan ekspor, tetapi juga menjadi salah satu penopang utama stabilitas keuangan dunia.

Bagi Indonesia, posisi di peringkat ke-20 dengan cadangan devisa asing sebesar US$146,2 miliar menunjukkan bahwa cadangan valas tetap menjadi indikator penting dalam membaca ketahanan ekonomi nasional. 

Meski nilainya masih jauh di bawah raksasa seperti China, Jepang, atau India, keberadaan cadangan devisa tetap berfungsi sebagai bantalan penting untuk menghadapi tekanan eksternal dan menjaga stabilitas ekonomi.