Iran: 'Economic D-Day' Trump Pengalihan Isu dari Krisis Utang dan Bunga AS
Iran membalas ancaman Economic D-Day Donald Trump dengan menyoroti utang dan beban bunga AS. Washington mengancam negara yang membantu Teheran

Periskop.id – Pemerintah Iran membalas ancaman perang ekonomi besar-besaran Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan menyerang kondisi fiskal Washington. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut kampanye “Economic D-Day” terhadap Teheran sebagai upaya mengalihkan perhatian dari utang dan beban bunga Amerika yang terus membesar.
Pernyataan Araghchi muncul sehari setelah Trump mengancam akan memperluas tekanan ekonomi tidak hanya terhadap Iran, tetapi juga negara, lembaga keuangan, perusahaan hingga entitas pemerintah yang membantu Teheran. Trump menyebut langkah tersebut sebagai perang ekonomi dan isolasi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Reuters melaporkan Washington sejauh ini belum menjelaskan secara terperinci instrumen ekonomi baru apa yang akan diterapkan.
“‘Hari-H Ekonomi’ yang disebut-sebut itu merupakan pengalihan perhatian dari krisis yang dihadapi Amerika sendiri: utang yang belum pernah terjadi sebelumnya dan biaya bunga yang terus melonjak,” kata Araghchi melalui media sosial X, Kamis (20/8/2026).
Menurut dia, dengan melanjutkan kebijakan yang telah gagal hanya akan membawa kekalahan dan permusuhan yang lebih besar dari rakyat Iran,” ujarnya.
Araghchi juga menyebut kebijakan tekanan Washington sebagai “terorisme ekonomi” yang tidak hanya berdampak terhadap Iran, tetapi berpotensi mengganggu ekonomi global serta kedaulatan negara lain. Anadolu Agency mencatat Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi juga menyampaikan kritik serupa dan menilai Washington beralih menuju perang ekonomi setelah dinilai gagal mencapai tujuan melalui pendekatan militer.
Trump Ancam Negara yang Bantu Iran
Trump pada Rabu (19/8/2026) mengumumkan apa yang ia sebut sebagai “operasi ekonomi paling menghancurkan yang pernah dilakukan terhadap negara mana pun”.
Washington berencana meningkatkan upaya untuk memutus jalur perdagangan dan keuangan yang menopang perekonomian Iran. Trump bahkan mengancam negara ketiga yang memberikan bantuan kepada Teheran dengan konsekuensi ekonomi besar.
Ancaman tersebut menjadi signifikan karena perdagangan Iran tetap terhubung dengan sejumlah negara besar meski telah menghadapi sanksi AS selama puluhan tahun. Berdasarkan data Kpler yang dikutip Reuters, China membeli lebih dari 80% minyak Iran yang dikirim melalui laut pada 2025.
China pun memilih menyerukan jalur diplomasi. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian mengatakan, “Sanctions and pressure will not solve the problem.” Beijing meminta pihak-pihak terkait menyelesaikan perselisihan melalui pendekatan politik dan diplomatik.
Uni Emirat Arab mengambil langkah berbeda. Negara Teluk tersebut pada 18 Agustus menghentikan aktivitas perdagangan, pertukaran komersial, dan transaksi keuangan dengan Iran hingga pemberitahuan selanjutnya setelah muncul ketegangan baru terkait dugaan peluncuran rudal Iran. Teheran membantah tuduhan tersebut.
Utang dan Bunga AS Memang Sedang Tinggi
Serangan Araghchi terhadap kondisi fiskal Amerika bukan muncul tanpa konteks. Data Congressional Budget Office (CBO) menunjukkan, pemerintah federal AS diproyeksikan mencatat defisit sekitar US$1,9 triliun pada tahun fiskal 2026, setara 5,8% dari produk domestik bruto (PDB).
Utang federal yang dipegang publik diperkirakan mencapai 101% PDB pada 2026 dan terus meningkat hingga 120% pada 2036. Sementara pembayaran bunga bersih pemerintah diproyeksikan menembus US$1 triliun pada 2026, naik sekitar US$69 miliar atau 7% dibandingkan 2025.
CBO bahkan menyebut pembayaran bunga bersih setara sekitar 3,3% PDB pada 2026, level yang sangat tinggi secara historis. Pada 2036, angka itu diproyeksikan meningkat menjadi 4,6% PDB atau sekitar US$2,1 triliun.
International Monetary Fund (IMF) juga memproyeksikan utang bruto pemerintah AS mencapai 125,8% PDB pada 2026, sementara defisit pemerintah secara umum diperkirakan sekitar 7,5% PDB. IMF menilai beban fiskal AS tetap tinggi dan utang berpotensi terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang.
Namun, data tersebut hanya mengonfirmasi bahwa AS memang menghadapi tekanan fiskal yang besar. Data itu tidak dengan sendirinya membuktikan tuduhan Iran bahwa kebijakan “Economic D-Day” dibuat untuk mengalihkan perhatian dari persoalan domestik Amerika.
Iran Sendiri Hadapi Inflasi 66%
Di sisi lain, Iran juga berada dalam tekanan ekonomi jauh lebih berat akibat perang, sanksi, kerusakan infrastruktur, pelemahan mata uang dan gangguan perdagangan.
Reuters melaporkan tingkat inflasi tahunan Iran mencapai 66% pada Juli 2026, sementara harga konsumen berada 87,9% lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Inflasi pangan bahkan mencapai 128% yoy.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian sebelumnya mengakui, tekanan terhadap perekonomian negaranya meningkat. Pendapatan dari penjualan minyak turun, penerimaan pajak terdampak pelemahan aktivitas usaha, sementara jalur perdagangan darat menjadi semakin panjang dan mahal akibat konflik.
Kondisi inilah yang kemungkinan menjadi sasaran utama strategi ekonomi Trump. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan pada 13 Agustus telah memberi sinyal bahwa Washington menyiapkan langkah terhadap Iran dalam skala yang menurutnya belum pernah diterapkan sebelumnya.
Konflik Mulai Tekan Harga Minyak Dunia
Perang ekonomi AS-Iran juga memiliki konsekuensi lebih luas karena konflik berlangsung di sekitar Selat Hormuz, salah satu jalur perdagangan energi paling penting dunia. Sebelum perang, kawasan tersebut dilewati sekitar seperlima perdagangan minyak global.
Ketidakpastian terbaru kembali mendorong harga minyak. Reuters mencatat harga Brent pada Kamis sempat menyentuh sekitar US$94,06 per barel, level tertinggi dalam tiga minggu, sedangkan WTI September mencapai US$87,67 per barel. Kekhawatiran utama pasar adalah gangguan pasokan yang berkepanjangan apabila konflik AS-Iran terus berlarut.
Iran dan AS sebelumnya telah dua kali mengumumkan kesepakatan gencatan senjata pada April dan Juni, tetapi keduanya tidak bertahan. Upaya diplomasi kembali memburuk setelah tenggat kesepakatan sementara berakhir pada 17 Agustus. Trump kemudian mengatakan tidak ada pembicaraan yang sedang berlangsung maupun dijadwalkan dengan Teheran.
Dengan diluncurkannya narasi “Economic D-Day”, pertarungan Washington dan Teheran kini semakin bergeser ke medan ekonomi. Trump mencoba meningkatkan biaya bagi Iran sekaligus menekan negara lain agar menjauh dari Teheran, sementara Iran membalas dengan mempertanyakan ketahanan fiskal Amerika dan memperingatkan dampak tekanan tersebut terhadap perekonomian global.
Seberapa jauh ancaman Trump diterapkan masih belum jelas. Washington belum mengumumkan bentuk sanksi baru, besaran tarif, maupun daftar negara yang dapat terkena konsekuensi. Hal tersebut akan menentukan apakah “Economic D-Day” hanya menjadi peningkatan tekanan politik atau benar-benar berkembang menjadi babak baru perang ekonomi yang berdampak jauh di luar Iran.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Abbas Araghchi, iran, Donald Trump, dan Ekonomi AS dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.