Internasional

Sekitar 590 WNA Hilang Usai Banjir Nepal, 51 WNI Dipastikan Aman

Sekitar 590 warga asing dari 39 negara masih hilang akibat banjir bandang Nepal. Kemlu RI memastikan 51 WNI yang dipantau dalam kondisi aman

1 hari yang lalu · 5 mnt baca
nepal
Petugas SAR dari Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) China melakukan operasi pascabencana di wilayah terdampak banjir bandang dekat Pelabuhan Gyirong, Gyirong County, Daerah Otonom Xizang, China barat daya, Jumat (28/8/2026). dok. XINHUA/Cui Yunhong
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Operasi pencarian korban banjir bandang dahsyat di Nepal terus diperluas setelah sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara dilaporkan masih hilang. Di tengah besarnya jumlah korban tersebut, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI memastikan warga negara Indonesia (WNI) yang dipantau di Nepal berada dalam kondisi baik.

Kementerian Luar Negeri Nepal menyampaikan data terbaru pada Senin (31/8/2026). Selain ratusan warga asing yang belum ditemukan, lebih dari 4.200 orang secara keseluruhan masih belum diketahui keberadaannya.

"Sekitar 590 warga negara asing yang berasal dari 39 negara masih dinyatakan hilang," demikian pernyataan Kemlu Nepal.

Sejauh ini, Pemerintah Nepal mencatat lebih dari 10.000 orang berhasil diselamatkan, termasuk sedikitnya 323 warga negara asing. Sementara itu, 903 jenazah telah ditemukan dari berbagai kawasan terdampak. Pemerintah memperingatkan angka tersebut masih dapat berubah seiring proses pencarian dan verifikasi yang terus berlangsung.

Krisis tersebut menjadi salah satu bencana paling mematikan yang menghantam Nepal dalam beberapa tahun terakhir. Operasi pencarian tidak hanya dilakukan terhadap penduduk lokal dan wisatawan, tetapi juga ratusan pekerja yang dikhawatirkan terjebak di kompleks proyek pembangkit listrik tenaga air.

Ratusan Warga Asing Masih Dicari

Jumlah warga asing yang dilaporkan hilang meningkat signifikan dibandingkan data beberapa hari sebelumnya. Pada Sabtu (29/8), otoritas pariwisata Nepal masih mencatat 261 wisatawan asing berhasil diselamatkan, sementara ratusan lainnya belum dapat dihubungi. 

Pemerintah kemudian memperbarui data setelah informasi dari operator perjalanan, kedutaan, kepolisian, serta tim pencarian mulai dihimpun dan diverifikasi. Nepal Tourism Board bahkan membentuk pusat informasi khusus untuk menyatukan data wisatawan yang telah diselamatkan, masih hilang, maupun menjadi korban. Operator tur dan perjalanan juga diminta menyerahkan informasi terverifikasi kepada pemerintah dan berkoordinasi dengan kedutaan masing-masing negara.

Kementerian Luar Negeri Nepal kini mengoperasikan Emergency Control Room untuk berkomunikasi dengan keluarga warga asing yang masih hilang. Perwakilan diplomatik berbagai negara ikut terlibat dalam proses pencarian informasi, identifikasi jenazah hingga kemungkinan repatriasi korban.

Tim khusus dari India dan China juga diterjunkan untuk membantu operasi penyelamatan di kawasan terowongan pembangkit listrik. Korea Selatan ikut mengirimkan dukungan teknis, sedangkan tim forensik India membantu proses identifikasi korban melalui pemeriksaan DNA.

Kemlu Pastikan 51 WNI dalam Kondisi Baik

Di tengah laporan mengenai ratusan warga asing yang belum ditemukan, Pemerintah Indonesia memastikan belum ada WNI yang dilaporkan menjadi korban. Direktur Pelindungan WNI Kemlu RI Heni Hamidah mengatakan, pemerintah memantau sedikitnya 51 warga Indonesia di Nepal, terdiri atas 45 WNI yang menetap di negara tersebut dan enam wisatawan yang berada di wilayah Pokhara.

"Pantauan terhadap kondisi WNI seluruhnya dalam keadaan baik," kata Heni kepada media secara daring di Jakarta, Senin.

Sebagian besar WNI yang menetap di Nepal diketahui berdomisili di Kathmandu dan bekerja di sektor perhotelan. Pemantauan dilakukan melalui KBRI Dhaka, KBRI Beijing, Konsul Kehormatan RI di Kathmandu, serta jejaring masyarakat Indonesia di Nepal.

Kemlu sebelumnya juga meminta agen perjalanan yang membawa wisatawan Indonesia ke Nepal segera melaporkan keberadaan dan kondisi peserta perjalanan, khususnya mereka yang melakukan pendakian.

“Hingga saat ini, berdasarkan pemantauan dan komunikasi dengan pihak terkait, belum terdapat laporan mengenai WNI yang terdampak,” ucap Heni dalam keterangan sebelumnya.

WNI tetap diimbau menghindari daerah terdampak serta mengikuti instruksi keselamatan dari otoritas setempat karena operasi darurat dan pencarian korban masih berlangsung.

Lebih dari 900 Orang Tewas, Pekerja Terjebak di Terowongan

Besarnya jumlah orang hilang tidak hanya disebabkan wisatawan maupun warga yang terputus komunikasi. Reuters melaporkan sekitar 933 pekerja proyek pembangkit listrik tenaga air termasuk dalam kelompok yang belum diketahui keberadaannya di distrik Rasuwa dan Nuwakot. Sebagian dikhawatirkan terjebak di terowongan sejumlah proyek PLTA setelah jalur masuk tertutup lumpur, bebatuan, dan material longsoran.

Tim penyelamat menggunakan ekskavator hingga peledakan terkendali untuk membuka akses menuju terowongan. Upaya tersebut berlangsung di tengah kondisi geografis yang sulit dan risiko bencana susulan.

Palang Merah memperkirakan lebih dari 90.000 orang terdampak bencana tersebut. Infrastruktur seperti jalan, jembatan, permukiman dan pembangkit listrik juga mengalami kerusakan berat.

WHO telah mengucurkan dana darurat US$150.000 sekaligus mengirim perlengkapan medis yang dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar kesehatan hingga sekitar 10.000 orang selama tiga bulan.

“Dana darurat tersebut akan mendukung prioritas respons segera. WHO berkomitmen untuk mendukung Nepal dalam upaya respons dan pemulihan,” kata Officer-in-Charge WHO South-East Asia Regional Office Dr Nilesh Buddha.

Bukan Gempa, Penyebab Banjir Mengarah ke Longsoran Es dan Batu

Ada satu perkembangan penting mengenai penyebab bencana. Sejumlah laporan awal menyebut banjir terjadi setelah gempa bumi memicu longsor. Namun, International Centre for Integrated Mountain Development (ICIMOD) menyatakan hingga kini belum ditemukan hubungan kausal antara aktivitas seismik dan banjir tersebut.

Kajian awal para ilmuwan justru mengarah pada kemungkinan longsoran besar es dan batu di kawasan pegunungan tinggi dekat perbatasan Nepal-Tibet. Material tersebut diduga masuk ke Lhende Khola, anak Sungai Bhote Koshi, kemudian menghasilkan lonjakan air, sedimen, dan batu dalam volume besar.

WHO juga menyebut informasi awal menunjukkan banjir di Rasuwa mengikuti lonjakan air secara tiba-tiba dari wilayah Tibet yang kemungkinan berkaitan dengan longsoran es di hulu serta terbentuknya bendungan sementara di Sungai Lhende. Penyebab detailnya masih diteliti.

Dahsyatnya aliran terlihat dari perubahan tinggi muka air. ICIMOD mencatat permukaan Sungai Trishuli di Galchhi sempat melonjak hingga sekitar sembilan meter hanya dalam 30 menit, sementara kenaikan sekitar tujuh meter tercatat di Malekhu pada rentang waktu serupa.

Bencana tersebut kemudian membawa air, lumpur, bongkahan es, batu dan puing melalui koridor Bhote Koshi-Trishuli hingga menghancurkan wilayah yang dilaluinya.

Nepal Minta Bantuan Internasional

Pemerintah Nepal kini menyatakan membutuhkan bantuan internasional untuk mempercepat operasi penyelamatan maupun pemulihan.

Kebutuhan mendesak antara lain teknologi penyelamatan di dalam terowongan, LiDAR, freezer untuk penanganan jenazah, peralatan DNA dan forensik hingga jembatan sementara. Bantuan telah datang dari India, China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, Korea Selatan dan sejumlah negara lainnya.

Pemerintah juga akan melakukan Post-Disaster Needs Assessment untuk menghitung kebutuhan rekonstruksi rumah, jalan, jembatan, pembangkit listrik dan berbagai infrastruktur yang rusak.

Di sisi lain, pencarian sekitar 590 warga asing dari 39 negara menjadi salah satu fokus operasi. Pemerintah Nepal mengingatkan data korban masih sangat dinamis dan meminta publik menggunakan informasi yang telah diverifikasi oleh otoritas.

Bagi Indonesia, kepastian bahwa 51 WNI yang dipantau berada dalam keadaan baik menjadi kabar melegakan. Namun, situasi Nepal masih berada dalam fase darurat karena ribuan orang belum ditemukan dan proses pencarian terus dilakukan di wilayah yang tertutup lumpur, longsoran, serta reruntuhan infrastruktur.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Nepal, Bencana Alam, dan banjir bandang dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.