Korban Banjir Bandang Nepal Capai 951 Orang, 590 WNA Masih Hilang
Korban banjir bandang dan longsor di Nepal mencapai 951 orang. Sebanyak 590 warga asing dari 39 negara masih dinyatakan hilang

Periskop.id - Jumlah korban meninggal akibat bencana banjir bandang dan longsor yang menerjang Nepal terus bertambah. Kepolisian Nepal mencatat sedikitnya 951 jenazah telah ditemukan, sementara ratusan warga negara asing masih dinyatakan hilang hingga awal September 2026.
Bencana bermula pada Rabu (26/8/2026) ketika aliran air, lumpur, batu, dan material es dalam jumlah besar menerjang kawasan utara Nepal, terutama sepanjang sistem Sungai Bhote Koshi dan Trishuli dekat perbatasan dengan Tibet, China.
Data Kepolisian Nepal menunjukkan 951 jenazah telah ditemukan dari sejumlah wilayah terdampak. Korban ditemukan antara lain di Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Chitwan, Gorkha, Tanahun, Nawalparasi, hingga wilayah India yang dialiri sungai dari Nepal.
Angka tersebut masih berpotensi berubah karena pencarian berlangsung di daerah pegunungan yang sulit dijangkau serta kawasan yang tertutup lumpur dan reruntuhan.
590 Warga Asing dari 39 Negara Masih Hilang
Besarnya skala bencana turut berdampak pada wisatawan dan warga asing yang berada di Nepal ketika banjir terjadi. Kementerian Luar Negeri Nepal pada Senin (31/8/2026) melaporkan sekitar 590 warga negara asing dari 39 negara belum ditemukan.
"Sekitar 590 warga negara asing yang berasal dari 39 negara masih dinyatakan hilang," demikian pernyataan Kemlu Nepal.
Dalam laporan resminya, pemerintah Nepal menyebut lebih dari 10.000 orang telah berhasil dievakuasi dan diselamatkan dari wilayah terdampak. Jumlah tersebut termasuk lebih dari 323 warga negara asing. Pada saat laporan itu diterbitkan, sekitar 4.200 orang secara keseluruhan masih belum diketahui keberadaannya.
Pemerintah Nepal juga membentuk Emergency Control Room khusus untuk menangani warga asing terdampak, termasuk proses pencarian, verifikasi informasi, komunikasi dengan keluarga, hingga bantuan konsuler dan identifikasi korban.
Operasi penyelamatan mendapat dukungan dari berbagai negara seperti India, China, Jepang, Amerika Serikat, Uni Emirat Arab, dan Korea Selatan. Bantuan yang dikirim mencakup perlengkapan darurat, jembatan sementara, alat pemeriksaan DNA, kebutuhan pengungsian, serta tenaga ahli untuk membantu pencarian korban.
Runtuhan Gletser Diduga Jadi Pemicu Banjir Dahsyat
Informasi awal setelah bencana sempat mengaitkan banjir dengan gempa bumi yang memicu longsor. Namun, penyelidikan berikutnya menunjukkan mekanisme bencana diduga justru bermula dari runtuhnya bagian gletser dan material batuan di kawasan Himalaya.
Reuters melaporkan citra satelit Planet Labs memperlihatkan sebagian besar ujung gletser runtuh dari ketinggian sekitar 5.200 meter dan jatuh sekitar 1.200 meter menuju dasar lembah. Runtuhan tersebut membawa batuan dan sedimen dalam jumlah besar hingga menciptakan aliran material yang menghantam kawasan di bawahnya.
US Geological Survey juga menyatakan, getaran yang sebelumnya dianggap sebagai gempa kemungkinan merupakan energi seismik yang dihasilkan oleh runtuhnya batuan dan es, disusul aliran puing dalam skala besar.
Badan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Nepal menyebut peristiwa tersebut sebagai banjir yang melibatkan material gletser. Geolog lembaga tersebut, Prakash Pokharel, menyatakan banjir bandang dipicu oleh longsoran es dan batu di sisi Nepal.
Dampaknya terjadi sangat cepat. International Centre for Integrated Mountain Development mencatat gelombang air, sedimen, dan batu menerjang sistem Sungai Bhote Koshi hingga Trishuli. Di kawasan Galchhi yang berada lebih jauh ke hilir, tinggi muka air dilaporkan melonjak hingga sekitar sembilan meter hanya dalam waktu 30 menit.
Ratusan Pekerja PLTA Masih Terjebak
Operasi penyelamatan kini juga difokuskan pada sejumlah proyek pembangkit listrik tenaga air yang terdampak langsung oleh banjir. Reuters melaporkan sekitar 600 orang masih terjebak di sejumlah fasilitas pembangkit listrik tenaga air. Sebanyak 279 pekerja telah berhasil diselamatkan dari proyek-proyek tersebut, sementara petugas terus menggali lumpur dan puing untuk mencapai terowongan yang terdampak.
Akses menuju beberapa daerah mulai pulih setelah tim penyelamat membangun jembatan sementara. Jalan menuju Nuwakot, salah satu wilayah yang mengalami kerusakan berat, juga telah kembali dapat dilalui sehingga distribusi bantuan dan proses pencarian dapat diperluas.
Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menilai bencana tersebut menunjukkan besarnya ancaman yang dihadapi wilayah Himalaya. "Banjir di Sungai Bhote Koshi di Rasuwa bukanlah banjir biasa," kata Balendra Shah, seperti diberitakan Koran Jakarta.
"Itu adalah salah satu bencana besar di wilayah tersebut, yang dipicu oleh longsoran salju dan es di wilayah Himalaya," lanjutnya.
Shah juga mendorong isu risiko bencana akibat perubahan iklim di Himalaya mendapatkan perhatian lebih besar dari masyarakat internasional. Reuters melaporkan Nepal telah menerima bantuan senilai lebih dari US$42 juta untuk penanganan bencana, sementara proses rehabilitasi dan rekonstruksi diperkirakan membutuhkan dukungan besar dalam jangka panjang.
Pemerintah Nepal masih melanjutkan pencarian korban, identifikasi jenazah, serta pemulihan akses transportasi dan komunikasi. Dengan ribuan orang masih belum ditemukan, jumlah korban bencana di Nepal dikhawatirkan masih dapat bertambah seiring tim penyelamat menjangkau wilayah yang sebelumnya terisolasi.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Nepal, banjir bandang, dan Bencana Alam dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.