Kesehatan

Kemenkes Dorong Ayah Siaga, Cegah Stunting Sejak 1.000 HPK

Kemenkes mendorong Gerakan Ayah Siaga untuk memperkuat 1.000 HPK, mencegah stunting, serta meningkatkan kesehatan ibu dan tumbuh kembang anak

3 jam yang lalu · 3 mnt baca
Kemenkes Dorong Ayah Siaga, Cegah Stunting Sejak 1.000 HPK
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono berinteraksi dengan perempuan dan bayi. dok. Kemenkes
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id – Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mendorong keterlibatan ayah dalam menjaga kesehatan dan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan hingga berusia dua tahun. Melalui Fatherhood Movement atau Gerakan Keayahan, pemerintah ingin mengubah anggapan bahwa pemenuhan kesehatan dan gizi anak hanya menjadi tanggung jawab ibu.

Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan, keterlibatan keluarga, termasuk ayah, menjadi bagian penting dalam keberhasilan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Periode tersebut berlangsung sejak sekitar 270 hari masa kehamilan hingga 730 hari setelah anak lahir atau mencapai usia dua tahun.

"Perkembangan otak justru terjadi paling besar itu di usia 0 sampai 2 tahun. Oleh karena itu, investasi early years ini sangat penting. Kita juga menginisiasi gerakan Fatherhood Movement agar ayah terlibat aktif dalam pemenuhan kesehatan anak. Kalau dulu kita kenal Suami Siaga saat persalinan, nanti di 1.000 HPK juga ada Ayah Siaga supaya anak-anaknya tumbuh sehat," ujar Dante.

Gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah mencegah stunting, menekan kematian ibu dan bayi, sekaligus memastikan perkembangan anak berlangsung optimal. Persiapan bahkan tidak hanya dimulai ketika seorang perempuan hamil, tetapi sejak masa remaja, calon pengantin hingga pasangan usia subur.

Kemenkes membagi intervensi 1.000 HPK ke dalam empat tahapan. Pertama, intervensi sebelum kehamilan melalui peningkatan kesehatan remaja dan pemeriksaan calon pengantin maupun pasangan usia subur. Kedua, pelayanan selama kehamilan, persalinan dan bayi baru lahir. 

Ketiga, pemenuhan kebutuhan anak di bawah dua tahun, termasuk ASI eksklusif, gizi, imunisasi serta pemantauan tumbuh kembang. Keempat, penguatan fasilitas dan pembiayaan layanan kesehatan di puskesmas maupun rumah sakit.

Dorongan tersebut muncul ketika persoalan stunting masih menjadi tantangan kesehatan nasional. Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) terakhir yang tersedia menunjukkan prevalensi stunting turun dari 21,5% pada 2023 menjadi 19,8% pada 2024. 

Pemerintah menargetkan angka tersebut terus turun hingga 14,2% pada 2029. Kemenkes menyatakan SSGI tidak dilaksanakan pada 2025 dan pengukuran berikutnya dilakukan pada 2026.

Tantangan pada kesehatan ibu dan bayi juga masih perlu mendapat perhatian. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan angka kematian bayi turun menjadi 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup, dibandingkan 16,85 pada Long Form Sensus Penduduk 2020. Angka kematian ibu juga turun dari 189 menjadi 144 kematian per 100.000 kelahiran hidup.

Peran Ayah Dibutuhkan Sejak Periode 1.000 HPK

Keterlibatan ayah sejak masa kehamilan sebenarnya telah lama dinilai penting. Sebelumnya, Peneliti Pusat Riset Kependudukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Oktriyanto menyebut, peran ayah sudah dibutuhkan sejak periode 1.000 HPK.

"Seorang ayah sebaiknya menjadi pendengar yang baik, dengan selalu mendengarkan keluhan atau kekhawatiran ibu terkait kesehatan dan kenyamanan selama masa kehamilan," kata Oktriyanto.

Persoalan pemenuhan gizi anak juga belum sepenuhnya selesai. UNICEF Indonesia mencatat tiga dari 10 bayi berusia di bawah enam bulan belum memperoleh ASI eksklusif. Selain itu, dua dari lima balita belum mendapatkan jumlah kelompok makanan yang direkomendasikan dan hanya sekitar 40% memperoleh pola makan minimum yang dinilai memadai untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan.

Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Veronica Tan menilai keberhasilan kebijakan kesehatan dan pendidikan pada akhirnya sangat bergantung pada praktik yang dilakukan keluarga di rumah. Menurutnya, kolaborasi lintas kementerian harus bertemu dengan pola pengasuhan yang baik dari kedua orang tua.

"Kualitas pendidikan dan kesehatan sangat bergantung pada fondasi keluarga. Terkadang orang tua sibuk, anak juga sibuk. Maka yang terpenting adalah membangun quality time (waktu berkualitas) antara bapak, ibu, dan anak. Kembalikan lagi kebiasaan makan masakan rumah, bukan makanan instan, sebagai fondasi hidup sehat yang kuat," kata Veronica.

Dengan Gerakan Keayahan, pemerintah ingin memperluas konsep Suami Siaga yang selama ini identik dengan pendampingan ibu saat persalinan menjadi Ayah Siaga yang terlibat sejak kehamilan, pemenuhan gizi, pemantauan kesehatan hingga pengasuhan anak. Pendekatan tersebut menempatkan ayah dan ibu sebagai mitra dalam memastikan periode 1.000 HPK dapat dimanfaatkan secara optimal.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Dante Saksono Harbuwono, Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dan Kesehatan Bayi dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.