Periskop.id - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DKI Jakarta menyebutkan, pelaku usaha, mikro, kecil dan menengah (UMKM) mendominasi penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) di Jakarta. Kondisi ini mencerminkan dukungan yang inklusif bagi pelaku usaha kecil.

"Saat ini banyak pedagang gerobak yang menggunakan QRIS. Ini menunjukkan bahwa QRIS itu inklusif, tidak hanya di mal-mal besar tapi juga di pedagang-pedagang kecil," kata Kepala KPw BI DKI Jakarta Iwan Setiawan di Jakarta, Senin.

Berdasarkan data yang ada, penggunaan QRIS pada 2025 mencapai 6,1 juta orang atau meningkat 3,87% dibandingkan tahun lalu yang mencapai 5,9 juta. Untuk pelaku UMKM, kata dia, saat ini juga mendominasi penggunaan QRIS di DKI Jakarta dengan totalnya mencapai 75,22%.

Selain meningkatnya pengguna pada sistem pembayaran digital tersebut, kata Iwan, merchant atau toko yang menggunakannya pun meningkat. Pada 2025 tercatat peningkatannya mencapai 13,90 % dari 5,7 juta menjadi 6,5 juta.

"Volume transaksi juga sudah mencapai Rp5,6 miliar atau 36 % dari volume transaksi nasional di angka Rp15,5 miliar," ujarnya.

Oleh karena itu, BI DKI Jakarta akan terus mendongkrak penggunaan QRIS pada semua transaksi di Jakarta, agar dapat terlaksana digitalisasi pembayaran. "Kami berharap ke depan kita terus mendorong upaya perluasan dan percepatan digitalisasi pembayaran," kata Iwan.

Penurunan ATM
Peningkatan penggunaan QRIS ini pun, tak ayal menurunkan fasiltas pembayaran lainnya. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sendiri memprediksi tren penurunan jumlah mesin anjungan tunai mandiri (ATM) masih akan terus berlanjut ke depan.

Fenomena ini terjadi karena semakin masifnya adopsi teknologi digital di sektor jasa keuangan yang mendorong perubahan perilaku dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan perbankan. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae di Jakarta, Senin, mengatakan, penurunan jumlah ATM pada dasarnya merupakan keputusan bisnis masing-masing bank.

Namun, perkembangan teknologi informasi di bidang keuangan menjadi faktor utama yang mempengaruhi arah kebijakan tersebut. Karena itu, lanjutnya, tak tertutup kemungkinan tren penurunan jumlah ATM akan terus berlanjut seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi informasi di bidang keuangan yang semakin massif. “Karena berdampak pada perubahan perilaku, ekspektasi, dan kebutuhan masyarakat terhadap layanan keuangan dari bank," ujar Dian beberapa waktu lalu.

Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia OJK, jumlah mesin ATM, Cash Deposit Machine (CDM), dan Cash Recycling Machine (CRM) di Indonesia hingga kuartal III-2025 tercatat sebanyak 89.774 unit.

Angka itu menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 91.173 unit. Artinya, terdapat 1.399 unit mesin ATM yang ditutup dalam kurun waktu satu tahun.

Menurut Dian, adopsi teknologi digital memungkinkan nasabah mengakses layanan perbankan kapan saja dan di mana saja tanpa harus bergantung pada infrastruktur fisik. Kemudahan akses inilah yang membuat kebutuhan terhadap layanan ATM semakin berkurang.

"Semakin mudahnya akses layanan melalui aplikasi dan platform daring, serta meningkatnya penggunaan pembayaran non tunai, maka kebutuhan penggunaan ATM menjadi semakin minimal," jelas Dian.

Di sisi lain, perbankan juga terus berupaya meningkatkan efisiensi operasional. Penguatan layanan digital dinilai dapat mendukung efisiensi melalui pengurangan biaya infrastruktur fisik serta optimalisasi proses layanan.

"Efisiensi tersebut pada akhirnya dapat memperkuat kinerja keuangan dan mendukung profitabilitas perbankan," kata Dian.

Selain berdampak pada efisiensi industri, Dian memandang pemanfaatan teknologi digital juga mendorong perluasan transaksi non-tunai atau cashless di masyarakat.

Sistem pembayaran non-tunai dinilai mampu membuat aktivitas ekonomi berjalan lebih efisien dan diharapkan dapat mendorong peningkatan aktivitas perekonomian secara lebih luas.

"Sistem cashless ini dapat mendukung transaksi ekonomi yang berjalan menjadi lebih efisien, sehingga diharapkan akan lebih mendorong peningkatan aktivitas perekonomian lebih lanjut," pungkasnya.