Harga Minyak Dunia Tembus US$90,49 usai AS Serang Iran
Serangan AS ke peluncur roket Iran di Pulau Larak memicu lonjakan harga minyak dunia, sementara Trump mengancam hancurkan terminal ekspor minyak Iran di Pulau Kharg.

Periskop.id - Harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Senin (31/8) waktu setempat setelah pasukan Amerika Serikat menyerang dua peluncur roket Iran di Pulau Larak. Serangan itu menandai kembalinya pertempuran terbuka antara Washington dan Teheran, sekaligus mengerek harga minyak Brent naik 2,7% ke level US$90,49 per barel.
Mengutip CNBC, Selasa (1/9) harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk kontrak terdekat turut menguat 2,8% menjadi US$85,76 per barel. Juru bicara Komando Pusat AS (CENTCOM) Kapten Angkatan Laut Tim Hawkins membenarkan serangan tersebut.
"Saya dapat mengonfirmasi bahwa sebelumnya hari ini pasukan AS menyerang dua peluncur Iran di Pulau Larak. Pasukan Korps Garda Revolusi Islam Iran terlihat sedang bersiap meluncurkan roket yang dilengkapi ranjau laut ke Selat Hormuz," kata Tim Hawkins dalam pernyataan resmi CENTCOM, Minggu.
Menurut laporan Associated Press, serangan pada Minggu tersebut merupakan aksi militer AS pertama yang secara terbuka diakui terhadap posisi Iran sejak akhir Juli. Korps Garda Revolusi Iran menyatakan serangan itu menyebabkan sejumlah tentara mereka tewas dan terluka.
Media Iran juga melaporkan Teheran telah membalas dengan menyerang pangkalan militer AS di Yordania. Ketegangan antara kedua negara pun kian meningkat.
Presiden AS Donald Trump memperluas ancaman militernya hingga menyasar Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran. Ancaman itu disampaikan Trump lewat unggahan di platform Truth Social pada Minggu malam.
"Akan dihancurkan hingga berkeping-keping!" tulis Trump dalam unggahannya, Minggu malam.
Ancaman tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap keamanan infrastruktur minyak Iran dan kelancaran distribusi energi dari Timur Tengah. Lalu lintas kapal di Selat Hormuz, salah satu jalur utama pengiriman energi dunia, juga mengalami gangguan parah akibat konflik yang kini memasuki bulan keenam itu.
Analis PVM Oil Associates Tamas Varga menilai risiko terhadap pasokan minyak diperkirakan masih berlangsung dalam beberapa pekan hingga bulan mendatang.
"Risiko pasokan akan terus berlanjut dan persediaan minyak akan terus berkurang dalam beberapa pekan dan bulan mendatang," kata Tamas Varga.
Selain risiko gangguan pengiriman lewat Selat Hormuz, serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak atau kilang di Timur Tengah dan Rusia turut membatasi kapasitas penyulingan global. Goldman Sachs menilai kondisi ini semakin memperketat pasokan produk olahan minyak dunia.
"Meningkatnya serangan terhadap kilang minyak di Timur Tengah dan Rusia semakin membatasi kapasitas penyulingan global yang sebelumnya sudah terbatas, sehingga mendorong margin produk olahan ke level tertinggi baru," tulis Goldman Sachs dalam catatannya.
Kenaikan harga minyak ini turut menjadi perhatian bagi perekonomian global. Biaya energi yang membengkak berpotensi memperbesar tekanan inflasi di berbagai negara jika gangguan pasokan berlangsung lebih lama.
"Krisis Iran kemungkinan telah mengubah status quo keamanan di Timur Tengah," pungkas Tamas Varga.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai harga minyak dunia, West Texas Intermediate (WTI), Brent Crude, dan konflik Iran - AS dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.