iklan periskop
Kota

Stasiun Manggarai Jadi Hub Transportasi, Layani 162 Ribu Pergerakan per Hari

Stasiun Manggarai melayani sekitar 162 ribu pergerakan pelanggan per hari. KAI menyiapkannya sebagai hub KRL, kereta bandara, TransJakarta hingga LRT Jakarta

8 jam yang lalu · 4 mnt baca
Suasana kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta.
Suasana kawasan Stasiun Manggarai, Jakarta. dok. KAI
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Stasiun Manggarai dipersiapkan semakin kuat sebagai salah satu simpul utama transportasi publik Jakarta. PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat sekitar 162 ribu pergerakan pelanggan berlangsung di stasiun tersebut setiap hari, dengan 700-750 perjalanan kereta yang melintas di tengah integrasi KRL, kereta bandara, TransJakarta hingga LRT Jakarta.

Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba mengatakan, besarnya mobilitas tersebut membuat Manggarai tidak lagi sekadar menjadi tempat transit. Kawasan ini diarahkan sebagai titik pertemuan berbagai layanan transportasi sekaligus bagian dari pengembangan perkotaan berbasis angkutan massal.

"KAI memandang Stasiun Manggarai memiliki peran strategis dalam perkembangan sistem transportasi publik Jakarta," kata Anne dalam keterangannya di Jakarta, Senin (10/8).

Menurut KAI, kebutuhan memperkuat konektivitas di Manggarai semakin penting karena kawasan tersebut menghubungkan perjalanan masyarakat Jakarta dengan berbagai wilayah aglomerasi Jabodetabek. Integrasi antarmoda diharapkan membuat perpindahan penumpang lebih sederhana dan memangkas waktu perjalanan.

“Manggarai berada pada posisi yang sangat strategis dalam perjalanan masyarakat Jakarta dan wilayah aglomerasi. Fokus ke depan adalah bagaimana perpindahan antarlayanan dapat semakin mudah, perjalanan lebih efisien, dan akses menuju kawasan di sekitar stasiun semakin baik,” ujar Anne.

Lebih dari 2,7 Juta Penumpang KRL Masuk Manggarai

Besarnya peran Manggarai terlihat dari volume pengguna KRL. KAI mencatat penumpang yang melakukan gate in di Stasiun Manggarai mencapai 5.142.739 orang pada 2023, kemudian meningkat menjadi 5.575.711 orang pada 2024. Jumlahnya berada di level 5.456.309 orang sepanjang 2025.

Pada Januari-Juni 2026 saja, jumlah pengguna yang melakukan gate in telah mencapai 2.716.932 orang. Angka tersebut belum menghitung seluruh pergerakan penumpang yang hanya berpindah jalur atau transit di dalam stasiun.

Data ini memperlihatkan posisi Manggarai sebagai salah satu titik krusial jaringan Commuter Line Jabodetabek. KAI sebelumnya juga menekankan bahwa integrasi antarmoda di kawasan tersebut diperlukan agar pertumbuhan mobilitas masyarakat tidak hanya direspons dengan penambahan kapasitas, tetapi juga dengan kemudahan berpindah layanan.

“Integrasi antarmoda di Manggarai menjadi bagian penting dalam membangun perjalanan yang lebih efisien, terhubung, dan mudah dijangkau masyarakat. Ketika perpindahan antarmoda semakin lancar, waktu perjalanan masyarakat dapat menjadi lebih efektif dan penggunaan transportasi publik juga semakin meningkat,” ujar Anne sebelumnya.

Kereta Bandara hingga LRT Bertemu di Manggarai

Selain KRL reguler, Manggarai juga menjadi salah satu titik layanan Commuter Line Bandara Soekarno-Hatta. Secara keseluruhan, layanan kereta bandara mengangkut 1.970.531 pelanggan pada 2023, meningkat menjadi 2.242.536 pelanggan pada 2024 dan 2.346.934 pelanggan pada 2025. Khusus di Stasiun Manggarai, jumlah penggunanya mencapai 230.314 orang pada Januari-Juni 2026.

Konektivitas Manggarai akan bertambah setelah LRT Jakarta Fase 1B rute Velodrome-Manggarai beroperasi. Per 10 Agustus 2026, progres konstruksi proyek tersebut sudah mencapai 97,99% dan ditargetkan rampung pada bulan ini. Proyek senilai Rp4,1 triliun itu memiliki lintasan sekitar 6,4 kilometer dengan lima stasiun.

Direktur Operasi II Waskita Karya Paulus Budi Kartiko mengatakan pengoperasian jalur tersebut diharapkan membuat penggunaan angkutan massal semakin menarik bagi warga Jakarta.

"Kami optimistis kehadiran LRT Jakarta Fase 1B akan memudahkan mobilitas warga dan mendorong peralihan dari kendaraan pribadi ke transportasi umum," kata Paulus.

Dengan masuknya LRT, kawasan Manggarai nantinya mempertemukan KRL Commuter Line, Commuter Line Bandara, TransJakarta, Terminal Manggarai, dan LRT Jakarta dalam satu kawasan. Jakpro juga telah menyiapkan konsep integrasi untuk mempermudah perpindahan antarmoda di area tersebut.

Direktur Teknik dan Pengembangan Jakpro Dian Takdir sebelumnya mengatakan integrasi transportasi diharapkan memberikan efek lebih luas terhadap kawasan sekitar.

“Melalui integrasi antarmoda ini, kami berharap mobilitas masyarakat semakin mudah dan pada saat yang sama mampu mendorong peningkatan aktivitas serta nilai ekonomi warga Manggarai dan sekitarnya,” ujarnya.

Manggarai Tetap Jadi Hub Utama Meski Gambir Dikembangkan

Pengembangan Stasiun Gambir untuk ikut melayani KRL tidak mengubah posisi Manggarai sebagai simpul transportasi utama. Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi pada Juni 2026 menegaskan Manggarai tetap menjalankan fungsi sebagai hub, sementara Gambir dikembangkan sebagai titik konektivitas tambahan bagi KRL dan kereta api jarak jauh.

Strategi tersebut menunjukkan pemerintah tidak hanya memusatkan seluruh pergerakan di satu stasiun, tetapi membangun beberapa simpul yang saling melengkapi di Jakarta.

Di Manggarai, pengembangan bahkan bergerak melampaui fungsi transportasi. KAI menyiapkan sekitar 62 hektare lahan untuk pengembangan kawasan berbasis Transit-Oriented Development (TOD), mencakup hunian, komersial, bisnis, dan fasilitas pendukung. Tahap pengembangan hunian direncanakan mencakup tiga menara awal sebelum dilanjutkan dengan delapan menara yang secara keseluruhan menampung sekitar 5.000 unit.

Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin sebelumnya mengatakan pengembangan hunian tersebut dirancang dekat dengan angkutan umum agar warga dapat menekan waktu dan biaya perjalanan menuju pusat aktivitas Jakarta.

KAI menilai peningkatan konektivitas menjadi fondasi sebelum kawasan Manggarai dikembangkan lebih jauh dengan konsep TOD, jalur pedestrian, ruang publik, hunian, dan berbagai fungsi perkotaan dalam satu kawasan yang saling terhubung.

“Semakin mudah masyarakat berpindah dari satu moda ke moda lainnya, semakin besar manfaat transportasi publik bagi kota. Manggarai memiliki kesempatan untuk berkembang menjadi kawasan yang lebih terhubung, mudah diakses, dan dekat dengan aktivitas masyarakat,” kata Anne.

Dengan pergerakan sekitar 162 ribu pelanggan per hari dan tambahan konektivitas LRT yang segera beroperasi, tantangan Manggarai berikutnya bukan hanya menangani volume penumpang yang besar. Integrasi fisik antarmoda, akses pejalan kaki, pengaturan arus penumpang dan penataan kawasan akan menjadi penentu apakah Manggarai benar-benar dapat berfungsi sebagai pusat transit utama Jakarta yang mudah digunakan masyarakat.

 

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Anne Purba, KAI, dan Stasiun Manggarai dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.