Bank Jakarta Bangun Biodigester di Jakut, Olah 500 Kg Sampah Organik per Hari
Bank Jakarta membangun dua biodigester di Rorotan dan Rawa Badak yang mampu mengolah 500 kg sampah organik dan menghasilkan 37,5 m³ biogas per hari

Periskop.id - Bank Jakarta membangun dua biodigester komunal di Jakarta Utara untuk mengolah sampah organik menjadi biogas dan pupuk. Fasilitas yang ditempatkan di Rusunawa Rorotan dan TPS 3R Rawa Badak Utara itu dirancang memiliki kapasitas gabungan 500 kilogram sampah organik per hari.
Pembangunan dimulai dengan peletakan batu pertama di Rusunawa Rorotan, Cilincing, pada Senin (10/8). Program tersebut dijalankan Bank Jakarta melalui skema Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) sebagai bagian dari upaya mendukung pengelolaan sampah langsung dari sumber.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, teknologi biodigester memungkinkan sampah organik tidak hanya dikurangi volumenya, tetapi juga diubah menjadi sumber energi terbarukan. Residu pengolahannya kemudian dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik.
“Pembangunan biodigester di Rorotan merupakan bentuk kontribusi nyata Bank Jakarta untuk turut menjawab tantangan pengelolaan sampah di Jakarta. Kami ingin program TJSL yang dijalankan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung upaya menjaga lingkungan Jakarta,” ujar Agus dalam keterangannya, Selasa (11/8).
Dua Biodigester Hasilkan 37,5 Meter Kubik Biogas per Hari
Masing-masing biodigester memiliki kapasitas pengolahan hingga 250 kilogram sampah organik per hari. Dengan dua fasilitas, total kapasitas mencapai 500 kilogram per hari.
Berdasarkan kajian teknis Bank Jakarta, pengoperasian kedua unit tersebut diproyeksikan menghasilkan sekitar 37,5 meter kubik biogas setiap hari. Pemanfaatannya juga diperkirakan dapat mengurangi emisi gas rumah kaca sekitar 423 kilogram CO2e per hari atau 154,4 ton CO2e per tahun.
Program ini menjadi bagian dari implementasi Rencana Aksi Keuangan Berkelanjutan (RAKB) Bank Jakarta 2026, terutama dalam pengelolaan limbah organik, pengurangan emisi gas rumah kaca, serta pemanfaatan energi terbarukan.
Sekretaris Perusahaan Bank Jakarta Arie Rinaldi mengatakan, pengelolaan sampah dari sumber membutuhkan kerja bersama antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha.
“Melalui pembangunan biodigester ini, Bank Jakarta mengambil bagian dalam upaya pengelolaan sampah organik dari sumber sekaligus mendorong agar sampah dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menjadi bagian penting agar upaya penanganan sampah dapat dilakukan secara lebih terintegrasi,” ucap Arie.
Teknologi biodigester sendiri bekerja dengan menguraikan material organik dalam kondisi tanpa oksigen atau anaerobik. Proses tersebut menghasilkan biogas yang dapat dimanfaatkan sebagai energi sekaligus residu yang berpotensi digunakan sebagai pupuk organik.
Jakarta Hadapi Sekitar 9.000 Ton Sampah Setiap Hari
Kehadiran fasilitas pengolahan di tingkat komunitas menjadi relevan karena persoalan sampah Jakarta masih cukup besar. Pemprov DKI mencatat timbulan sampah ibu kota saat ini berada di kisaran 9.000 ton setiap hari.
Dinas Lingkungan Hidup DKI sebelumnya menyebut sekitar 50% komposisi sampah Jakarta merupakan sampah organik, sementara sekitar 40% lainnya berpotensi didaur ulang. Pada saat data tersebut disampaikan, sekitar 87% atau 7.800 ton sampah per hari masih langsung dikirim menuju TPST Bantargebang.
Karena itu, Pemprov DKI mendorong perubahan sistem dari pola kumpul-angkut-buang menjadi pengelolaan dari sumber. Instruksi Gubernur Nomor 5 Tahun 2026 mengarahkan rumah tangga, perkantoran, sekolah, pasar hingga kawasan usaha untuk melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik sebelum masuk ke sistem pengangkutan.
Hingga awal Agustus 2026, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyebut capaian program pilah sampah di ibu kota sudah mencapai 23,14%.
“Sampai dengan awal Agustus, pilah sampah di Jakarta sudah 23,14 persen,” kata Pramono di Rorotan, Jakarta Utara, Senin (10/8/2026).
Pengolahan sampah organik di tingkat lokal juga telah dikembangkan melalui berbagai model lain. Di RW 07 Joglo, Jakarta Barat, misalnya, sekitar 400 kilogram sampah organik per hari dikelola melalui ekosistem yang mencakup rumah kompos, eco enzyme, maggot, hingga kebun masyarakat.
Sementara itu, kapasitas TPS 3R Jakarta secara keseluruhan masih belum dimanfaatkan maksimal. DPRD DKI sebelumnya mencatat fasilitas TPS 3R diproyeksikan mampu menangani sekitar 710 ton sampah per hari, tetapi realisasi pengolahannya baru sekitar 146 ton per hari.
Melanjutkan Biodigester Pekayon
Pembangunan di Rorotan dan Rawa Badak bukan proyek biodigester pertama yang didukung Bank Jakarta. Sebelumnya, perusahaan mendukung fasilitas biodigester komunal di Kelurahan Pekayon, Pasar Rebo, Jakarta Timur, yang diresmikan pada November 2025.
“Pengalaman dari program biodigester di Pekayon menjadi bagian dari upaya kami untuk terus memperluas kontribusi di bidang lingkungan. Kini, kami memperluas pemanfaatan teknologi biodigester yang berasal dari pengolahan sampah organik yang berasal dari sumber melalui program kolaborasi bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta”.
Pembangunan dua fasilitas baru tersebut juga berlangsung ketika Pemprov DKI menargetkan 100% sampah Jakarta dapat terkelola pada 2028. Pemerintah daerah menyiapkan kombinasi strategi mulai pemilahan dari sumber, TPS 3R, bank sampah hingga pembangunan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi.
Biodigester komunal memang memiliki kapasitas jauh lebih kecil dibandingkan fasilitas pengolahan sampah skala kota. Namun, model tersebut diarahkan untuk menangani sampah organik sedekat mungkin dengan sumbernya sekaligus menghasilkan produk bernilai guna berupa biogas dan pupuk. Dengan begitu, sampah yang harus masuk ke sistem pengangkutan dan fasilitas pengolahan akhir dapat ditekan secara bertahap.
Bagi Bank Jakarta, program ini juga dikaitkan dengan sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), terutama energi bersih, kota berkelanjutan, konsumsi dan produksi bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, serta kemitraan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Agus H. Widodo, bank jakarta, dan pengelolaan sampah dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.