Kota

Stasiun Karet Ditutup, Lansia Kelelahan dan Pekerja Terancam Telat Ngantor

Penutupan Stasiun Karet memicu keluhan lansia dan pekerja, waktu tempuh bertambah, KAI targetkan travelator rampung 70 hari.

2 jam yang lalu · 3 mnt baca
Stasiun Karet
Jalan yang terintegrasi dari Stasiun Karet menuju Stasiun Sudirman BNI City, Selasa (1/9). Periskop.id/Rachel Farahdiba R
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Pengalihan operasional Stasiun Karet ke Stasiun Sudirman Baru/BNI City pada hari pertama, Selasa (1/9), memicu keluhan dari berbagai kalangan pengguna KRL Commuter Line. Penutupan tersebut dinilai memberatkan warga lansia yang harus berjalan kaki lebih jauh, sekaligus menambah kecemasan pekerja kantoran akibat bertambahnya waktu tempuh untuk mengejar jam presensi kerja (clock-in).

Warga lanjut usia mengeluhkan jarak tempuh antarmoda yang menguras tenaga karena harus menyusuri akses selasar penghubung stasiun. Warga Jalan KH Awaluddin, Karet Tengsin, Weni (62) dan Aprilita (54), mengaku kelelahan fisik saat hendak menuju Depok untuk menjalani terapi pengobatan.

"Kakinya juga udah capek nih. Terasa banget. Kita kan umur-umur 50 gini kan udah terasa banget kaki ya, masyaallah. Kenapa sih pemerintah begitu ya? Tega banget sih ya sama kita-kita ini yang rakyat kecil ya Allah," keluh Weni dan Aprilita saat ditemui di Stasiun BNI City, Selasa (1/9).

Aprilita menilai integrasi ini tidak ramah bagi kelompok rentan. Sebab, Stasiun BNI City minim integrasi langsung dengan moda transportasi umum lanjutan seperti di kawasan Bendungan Hilir dan Tanah Abang.

"Jauhlah buat lansia ya istilahnya. Walaupun baru pra-lansia ya, tapi terasa banget. Harapannya sih pengen dibalikin lagi ke Stasiun Karet. BNI itu kan enggak ada akses buat angkutan umum apa-apa, ibaratnya mentok. Kalau Karet, aksesnya antara Karet, Benhil, Tanah Abang. Jadi kan ngebantu orang langsung ke angkutan umum," ujar Aprilita.

Beban penutupan stasiun juga dirasakan pekerja komuter harian yang harus menghitung waktu tempuh perjalanan secara presisi.

Sadik, pengguna KRL asal Tambun yang berkantor di Thamrin City, mengungkapkan perubahan alur ini menambah durasi jalan kaki hingga 10 menit hanya untuk keluar stasiun (tap out).

"Penutupan Stasiun Karet pada dasarnya enggak apa-apa, yang penting kenyamanan pelanggan tetap diperhatikan. Dengan kata lain, pelanggan naik commuter line dan dia sudah hitung waktunya, minutes by minutes," kata Sadik.

"Sementara gerbong satu sama gerbong dua itu orang pasti berbondong-bondong untuk turun segera menuju tap out supaya ngejar clock-in di kantornya. Sekarang dengan ada perpindahan ini, ada tambahan waktu sekitar 10 menit hanya untuk nyebrang, kemudian jalan ke sini," lanjutnya.

Sadik turut mengkritik ketiadaan fasilitas eskalator di sejumlah titik serta adanya penyempitan jalur (bottleneck) yang berpotensi memicu penumpukan berbahaya saat jam sibuk (rush hour).

"Jalurnya itu ada yang menyempit karena ada tembok. Sehingga ketika ada orang keluar, kereta keluar, kemudian ada yang mau naik ke atas, ada lagi yang mau lurus, itu bentrok, crowded. Itu bahaya. Ekspektasi saya, ketika turun bisa langsung lurus. Ternyata enggak bisa, mesti pindah dan naik tangga manual, turunnya juga manual. Akan lebih mudah kalau memang ada eskalator," tegas Sadik.

Hal senada diungkapkan pekerja komuter lainnya, Lala, yang biasa turun di Stasiun Karet untuk menuju kantornya di kawasan Palmerah. Lala menyoroti durasi perpindahan antarmoda yang memakan waktu hingga 10 menit serta kondisi jalur selasar yang belum dilengkapi atap pelindung.

"Terus saya jalan dari BNI City ke Karet, itu sekitar 7 menitan. Lumayan menguras tenaga karena lebih jauh. Akses keluar dari BNI City untuk tap out juga jauh, terus jalan ke Karet juga jauh. Jadi sekitar 10 menitan lah untuk keluar dari KRL sampai ke Karet. Karena jalan dari Stasiun Sudirman Baru ke Karet itu tanpa atap, jadi kalau hujan bingung juga," jelas Lala.

Diketahui, PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama KAI Commuter resmi menghentikan operasional pelayanan naik-turun penumpang di Stasiun Karet mulai Selasa (1/9/2026). Penghentian ini dilakukan seiring dimulainya proyek integrasi penataan kawasan dengan Stasiun Sudirman Baru/BNI City, sehingga pengguna KRL dialihkan melewati akses selasar penghubung.

Untuk menunjang kenyamanan mobilitas pengguna, KAI menargetkan pembangunan fasilitas travelator penghubung kedua stasiun rampung dalam waktu 70 hari. Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, turut mendorong percepatan proyek integrasi ini agar alur keselamatan dan kenyamanan penumpang di koridor Sudirman dapat segera beroperasi optimal.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai stasiun karet, dan stasiun bni city dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.