Kota

Pramono Ungkap 457 Kebakaran Terjadi di Jakarta Juli-Agustus 2026

Gubernur Pramono Anung sebut 457 kebakaran terjadi di Jakarta selama Juli-Agustus 2026, dengan Jakarta Barat dan Timur jadi wilayah paling rawan.

59 menit yang lalu · 2 mnt baca
kebakaran, pasar induk, kramat jati, jakarta timur, kios terbakar, api, asap, pemadaman, damkar, evakuasi, pedagang, distribusi pangan, kerugian, penyebab, pascakejadian, pascakebakaran
Pedagang kios mencari barang dari sisa kebakaran di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin (15/12/2025). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkap sebanyak 457 kebakaran terjadi di Jakarta selama Juli hingga Agustus 2026. Jakarta Barat dan Jakarta Timur tercatat sebagai wilayah dengan potensi kebakaran paling tinggi.

Pramono menyebutkan, data tersebut berasal dari laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ia memaparkan, jumlah kejadian pada Agustus saja mencapai sekitar 240 kasus.

"Berdasarkan hasil laporan dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah, pada bulan Juli sampai dengan Agustus di Jakarta terjadi kebakaran 457 kejadian kebakaran," kata Pramono saat memimpin Apel Jaga Jakarta Kesiapsiagaan Musim Kemarau 2026 di Monas, Jakarta Pusat, Rabu (2/9).

Soal penyebab, korsleting listrik disebut Pramono sebagai faktor paling dominan di balik rentetan kebakaran tersebut. Pembakaran sampah dan kelalaian membuang puntung rokok sembarangan menyusul sebagai penyebab berikutnya.

"Dugaan yang paling dominan adalah penyebabnya korsleting listrik. Kemudian yang kedua adalah pembakaran sampah, dan juga ada beberapa yang terjadi karena keteledoran orang membuang puntung rokok dan sebagainya," ujar Pramono.

Dari 457 kasus tersebut, Jakarta Barat tercatat memiliki kejadian kebakaran terbanyak, disusul Jakarta Timur di posisi kedua. Kecamatan Tambora di Jakarta Barat dan Cakung di Jakarta Timur disebut sebagai titik dengan risiko paling tinggi.

"Yang pertama untuk kebakaran dari 457 yang paling banyak di Jakarta Barat, kedua di Jakarta Timur. Memang ini dua wilayah yang potensinya tertinggi yaitu di Barat itu ada Kecamatan Tambora, di Timur itu ada Cakung, itulah petanya," jelas Pramono.

Sebagai langkah antisipasi, Pramono meminta ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR) hingga tingkat RW. Program penyediaan APAR itu diklaim sudah berjalan di seluruh wilayah Jakarta.

"Sedangkan untuk APAR saya meminta setiap RW memilikinya. Dan karena ini program sudah berjalan, saya yakin sekarang setiap RW sudah memilikinya," tutur Pramono.

Selain kebakaran, Pemprov DKI Jakarta juga mengantisipasi dampak kekeringan akibat musim kemarau. Sebanyak 29 tangki air dari 10 instansi dan lembaga disiapkan untuk mendistribusikan air bersih ke warga.

Pramono menyebutkan, dua kelurahan sudah mengalami kekeringan hingga saat ini, yakni Kalibaru dan Semper. "Seperti yang Saudara-saudara saksikan, pada hari ini ada dua kelurahan yang memang sudah mengalami kekeringan, yaitu di Kelurahan Kalibaru dan Semper," ungkapnya.

Pramono menegaskan, kesiapsiagaan menghadapi musim kemarau tidak boleh menunggu bencana lebih dulu terjadi. Ia meminta seluruh perangkat daerah memahami potensi risiko di wilayah masing-masing dan segera menyiapkan langkah mitigasi.

"Saya tidak ingin seluruh jajaran baru bergerak setelah persoalan terjadi," tegasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai kebakaran, dan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.