Musik

Musik Kok Bikin Lihat Sepatu? Kenalan dengan 5 Band Shoegaze Indonesia

Bising, penuh distorsi, tapi justru bikin tenggelam. Dari showcase Enola, kenalan lebih dekat dengan shoegaze dan 5 band Indonesia yang wajib masuk playlist kamu.

1 jam yang lalu · 6 mnt baca
Penampilan Band Shoegaze Enola di Krapela, Row 9. Foto oleh Periskop/Bagaskoro Panduto Pramono
Penampilan Band Shoegaze Enola di Krapela, Row 9. Foto oleh Periskop/Bagaskoro Panduto Pramono
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Suara gitar yang menumpuk, distorsi yang memenuhi ruangan, hingga vokal yang sesekali terasa tenggelam di balik kebisingan menjadi pengalaman yang ditawarkan Enola lewat showcase FELT BEFORE HEARD: DOES ANYONE ELSE COMMIT DEATH? di Krapela, ROW 9, Jakarta Selatan, Minggu (30/8/2026).

Showcase tersebut membawa dua album Enola, yakni Does Anyone Else yang dirilis pada 2021 dan Commit Death pada 2024. Judul Does Anyone Else Commit Death sendiri juga digunakan Enola dalam kanal resminya untuk menghubungkan kedua rilisan tersebut.

Periskop.id yang hadir langsung dalam pertunjukan itu menemukan satu hal yang terasa dominan sejak musik mulai dimainkan: bising. Namun, bukan kebisingan yang terasa datang tanpa arah.

Lapisan distorsi dan suara berat Enola justru menjadi bagian dari pengalaman mendengarkan. Respons penonton pun menarik. Alih-alih terus bergerak agresif, tidak sedikit yang terlihat diam dan menundukkan kepala sambil meresapi lagu demi lagu.

Menariknya, lagu-lagu dalam Does Anyone Else dan Commit Death juga tidak harus berakhir pada satu pemaknaan. Pendengar tetap dapat membawa pengalaman, ingatan, dan emosinya sendiri ketika menerjemahkan materi yang dibawakan Enola.

Secara musikal, Commit Death memang membawa Enola menuju wilayah yang lebih gelap dibanding album sebelumnya. Album kedua tersebut mengeksplorasi suara shoegaze yang bersinggungan dengan sludge, post-metal, hingga doom, lengkap dengan gitar disonan, bass yang gelap, serta atmosfer berat.

Namun, melihat banyak kepala tertunduk sepanjang pertunjukan juga memunculkan pertanyaan lain.

Sebenarnya, shoegaze itu musik seperti apa sih?

Apa Itu Shoegaze?

Nama shoegaze berasal dari skena indie rock Inggris pada akhir 1980-an hingga awal 1990-an.

Sebutan ini muncul karena para musisinya kerap terlihat menatap ke bawah saat tampil. Bukan karena malu melihat penonton, melainkan karena mereka banyak mengoperasikan pedal efek yang berada di lantai.

Dari sanalah muncul istilah shoe-gazing, atau secara harfiah seperti sedang “menatap sepatu”.

Namun, identitas shoegaze tentu bukan cuma perkara gaya manggung.

Musiknya dikenal lewat distorsi gitar berlapis, feedback, reverb, vokal yang samar atau mengawang, serta dinding suara yang padat. My Bloody Valentine, Slowdive, Ride, Lush, dan Cocteau Twins menjadi sejumlah nama yang banyak dikaitkan dengan perkembangan awal karakter musik tersebut.

Dalam perkembangannya, formula itu tidak berhenti di Inggris. Shoegaze terus bercampur dengan dream pop, alternative rock, post-rock, hardcore, sampai musik yang jauh lebih berat.

Indonesia pun punya interpretasinya sendiri.

Kalau selesai mendengar Enola kamu masih ingin tenggelam dalam suara gitar berlapis, berikut lima band shoegaze Indonesia yang bisa masuk daftar dengar berikutnya.

1. Themilo

Bicara mengenai band shoegaze Indonesia rasanya sulit melewatkan Themilo.

Band asal Bandung ini telah berproses sejak 1996, jauh sebelum shoegaze kembali ramai dibicarakan generasi pendengar musik hari ini. Themilo awalnya merupakan proyek sampingan sejumlah musisi di skena independen Bandung, termasuk Ajie Gergaji.

Mereka kemudian merilis album debut Let Me Begin pada 2003. Dari album inilah muncul sejumlah lagu yang lekat dengan perjalanan Themilo seperti “Malaikat” dan “Romantic Purple”.

Dibandingkan sejumlah band dalam daftar ini yang bergerak lebih berat, Themilo menawarkan sisi shoegaze dan dream pop yang lebih melankolis dan mengawang.

Coba dengarkan: MalaikatRomantic PurpleSianida.

2. Heals

Masih dari Bandung, ada Heals yang terbentuk pada akhir 2013.

Menariknya, para personelnya datang dari latar musik yang cukup beragam, mulai dari punk, metal, hingga grindcore. Pertemuan tersebut kemudian diarahkan menuju eksplorasi shoegaze dan nu-gaze dengan sentuhan grunge serta post-punk.

Nama Heals semakin dikenal setelah merilis album debut SPECTRUM pada 2017. Album tersebut dipenuhi riff gitar yang tebal, melodi yang mengawang, tetapi tetap menawarkan energi alternative rock yang cukup kuat.

Enam tahun kemudian, Heals kembali melalui album Emerald pada 2023. Di album kedua, mereka justru semakin bebas bermain dengan batas genre, termasuk memasukkan saksofon, perkusi, hingga komposisi yang mendekati progressive dan math rock.

Coba dengarkan: VoidWaveFalse AlarmAir Emas.

3. Sunlotus

Kalau mencari shoegaze dengan suara yang lebih berat, Sunlotus bisa menjadi pintu masuk berikutnya.

Proyek yang lahir dari Blora, Jawa Tengah, ini mulai berkembang dari sesi latihan Made Dharma dan DF Ahmad pada pertengahan 2018. Keinginan menciptakan ambient soundscape kemudian berkembang menjadi musik yang mempertemukan shoegaze dengan grunge, noise, doomgaze, hingga heavygaze.

Album debut mereka, This Old House, dirilis pada 2019. Menariknya, proses kreatif album tersebut juga membawa pengalaman hidup di Blora yang panas dan kering sebagai bagian dari identitas musik mereka.

Sunlotus kemudian terus mendorong batas tersebut. Pada album Behind Closed Doors yang dirilis 2025, mereka bahkan semakin bebas mencampurkan berbagai pendekatan musik tanpa terlalu sibuk mempertanyakan apakah hasil akhirnya masih bisa disebut shoegaze atau tidak.

Coba dengarkan: PicturesqueHeatstrokeSelf Bondage.

4. Dive Collate

Bergeser ke Bali, ada Dive Collate.

Band ini memperkenalkan suara mereka lewat “Grey And Nice” pada 2018. Dalam halaman resminya di Bandcamp, Dive Collate mendeskripsikan diri secara sederhana sebagai tiga orang yang “mandi dalam kebisingan yang indah”.

Kalimat tersebut cukup menggambarkan karakter mereka.

Dive Collate memainkan pertemuan antara suara gitar berlapis, atmosfer dreamy, serta ruang-ruang ambient yang membuat sisi “bising” shoegaze tetap terasa lembut pada beberapa bagian.

Diskografi mereka terus berkembang lewat rilisan seperti LostDivine LightTulip, hingga Silent Seeds yang dilepas pada Juli 2026.

Coba dengarkan: Grey And NiceLostTulipSilent Seeds.

5. Sugar Thrills

Nama terakhir datang dari skena hardcore/punk Denpasar, Bali.

Sugar Thrills terbentuk pada 2019 dengan formasi Galant Rastama, Pramanaditya, Arya Pradana, dan Agik Arya. Meski tumbuh dari lingkungan hardcore, mereka justru memainkan alternative rock dengan gitar berlapis dan vokal dreamy yang membuat musiknya bersinggungan kuat dengan shoegaze.

Sugar Thrills merilis “Forgive” pada 2020 sebelum melanjutkannya lewat EP Universe setahun kemudian. EP tersebut berisikan lima lagu, termasuk FeelingForgiveUniverse, dan Closer.

Kalau shoegaze yang terlalu mengawang terasa kurang berat untuk telinga kamu, Sugar Thrills bisa menjadi alternatif karena jejak hardcore dan alternative rock masih terasa di balik lapisan gitarnya.

Coba dengarkan: ForgiveFeelingUniverseResurface.

Shoegaze Indonesia Tidak Punya Satu Bentuk

Dari Themilo yang sudah bergerak sejak 1990-an hingga generasi yang lebih baru seperti Sunlotus dan Sugar Thrills, perjalanan shoegaze Indonesia menunjukkan bahwa musik ini tidak pernah benar-benar terpaku pada satu formula.

Ada yang memilih melankolis dan dreamy. Ada yang memasukkan grunge dan alternative rock. Ada pula yang menyeret shoegaze ke wilayah sludge, hardcore, doom, dan musik eksperimental yang jauh lebih berat.

Showcase Enola pada 30 Agustus 2026 menjadi salah satu pengingat bahwa terkadang musik seperti ini memang tidak perlu didengarkan dengan mencari setiap kata secara terang.

Kadang-kadang kita hanya perlu berdiri, menundukkan kepala, membiarkan suara memenuhi ruangan, lalu menentukan sendiri apa yang kita rasakan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.