periskop.id - Anggota Komisi I DPR RI, TB Hasanuddin menyatakan keprihatinan mendalam terkait adanya peserta Program Sarjana Penggerak Pembangun Indonesia (SPPI) yang meninggal dunia.
Para peserta tersebut dilaporkan meninggal dunia saat tengah mengikuti agenda Latihan Dasar Kemiliteran (Latsarmil).
TB Hasanuddin menegaskan insiden fatal ini harus segera direspons lewat evaluasi yang mendalam.
Langkah korektif tersebut dinilainya krusial agar tragedi serupa tidak kembali terulang dalam pelaksanaan program ke depan.
Tercatat sudah ada tiga anggota program SPPI bagi calon pengelola Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih dan Koperasi Nelayan Merah Putih (KNPM) yang mengembuskan napas terakhir.
Berdasarkan data lapangan, ketiganya kolaps saat menjalani rangkaian aktivitas fisik di lingkungan penempaan militer tersebut.
Menurut Hasanuddin, evaluasi yang serius dan menyeluruh wajib menyasar desain pelatihan yang diberikan kepada para calon pengelola koperasi.
Pola pembinaan fisik dinilainya harus selaras dengan output pekerjaan yang disasar.
“Kalau memang peserta dipersiapkan untuk jabatan manajerial di Koperasi Desa, maka fokus utama sebaiknya diberikan pada pelatihan manajemen koperasi saja, penguatan kapasitas organisasi, dan pelatihan teknis yang secara relevan,” kata TB Hasanuddin dalam keterangan tertulisnya, Kamis (25/6).
“Pelatihan militer cukup diberikan pada tingkat dasar dan terbatas saja,” sambung Mayjen TNI Purnawirawan itu.
Ia menguraikan materi latsarmil tingkat dasar itu idealnya diarahkan untuk memupuk kekompakan, kedisiplinan, serta kebersamaan antarpeserta.
Kegiatan memadai yang dicontohkannya meliputi baris-berbaris untuk kerapian, santiaji, apel untuk menghargai waktu, serta senam pagi untuk menjaga kebugaran.
Politikus ini juga mengingatkan pentingnya aspek kelayakan fisik sebelum terjun ke lapangan.
Seluruh rangkaian aktivitas berat tersebut menurutnya wajib didahului oleh pemeriksaan medis yang ketat.
Hasanuddin menyatakan pengecekan kondisi tubuh ini harus dilaksanakan secara valid dan ketat oleh tim medis.
Skrining kesehatan yang tidak akurat disebutnya berpotensi memicu risiko kematian saat peserta dihadapkan pada beban fisik tertentu.
Adapun tiga identitas peserta yang meninggal dunia meliputi Anisa Muyassaroh asal Balikpapan yang dilaporkan menderita heat stroke dan henti jantung.
Selanjutnya, korban bernama Yonanda Muhammad Taufiq asal Baturaja yang dinyatakan wafat akibat gangguan cardiac arrest.
Peserta ketiga merupakan Novia Rahmadhani Sihotang dari Jakarta. Novia dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit setelah sempat mendapatkan perawatan medis akibat komplikasi kesehatan yang dikaitkan dengan tuberkulosis (TBC).
Hasanuddin berpendapat rentetan kasus ini wajib ditindaklanjuti secara komprehensif. Pembenahan itu mencakup sistem seleksi kesehatan, intensitas latihan fisik, pemantauan medis di lapangan, hingga relevansi materi dengan tupoksi peserta.
“Keselamatan peserta harus menjadi prioritas utama. Program yang bertujuan membangun kapasitas SDM tidak boleh mengorbankan aspek kesehatan dan keamanan peserta,” tegas TB Hasanuddin.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar