Periskop.id - Stok beras di gudang Perum Bulog menyentuh 5,17 juta ton per 26 Juni 2026, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah. Badan Pangan Nasional (Bapanas) menegaskan ketahanan pangan nasional tetap kokoh meski El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau tahun ini.

Sekretaris Utama Bapanas Sarwo Edhy memaparkan, kondisi cuaca hingga kini belum berdampak signifikan terhadap pertanaman. Pemerintah juga terus berkoordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sambil mendorong petani menyesuaikan pola tanam dengan perkembangan iklim terkini.

"Terkait dengan cuaca, selama ini masih cukup normal sehingga belum berpengaruh terhadap pertanaman. Jadi peningkatan produksi tetap dapat tercapai. Kita selalu koordinasi dengan BMKG dan sudah menyosialisasikan pola tanam sesuai anjuran pemerintah," ujar Sarwo dalam keterangan resmi, Senin (29/6).

Keyakinan itu ditopang data produksi yang kuat. Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Bapanas, produksi beras nasional sepanjang Januari hingga Juni 2026 diperkirakan mencapai 19,2 juta ton, jauh melampaui kebutuhan konsumsi sebesar 15,4 juta ton pada periode yang sama.

Surplus semester pertama itu diperkirakan mencapai sekitar 3,7 juta ton. Sebagian besar telah dikonversi menjadi Cadangan Beras Pemerintah (CBP) melalui penyerapan gabah dan beras oleh Bulog, yang hingga 26 Juni 2026 telah menyerap setara beras sekitar 3,2 juta ton dari petani.

Realisasi penyaluran CBP melalui berbagai program pemerintah tercatat sekitar 1,07 juta ton. Meski begitu, stok beras yang tersimpan di gudang Bulog masih bertahan di angka 5,17 juta ton, angka tertinggi yang pernah dicatat lembaga itu.

Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebutkan, pemerintah telah mengambil pelajaran dari pengalaman menghadapi El Niño pada 2023. Berbagai langkah antisipasi pun dirancang lebih awal, terutama melalui penguatan stok pangan nasional.

"Kami memang sudah siapkan jauh hari sebelumnya menghadapi El Nino. Dulu pengalaman kita tahun 2023, Alhamdulillah kita lolos. Stok beras kita tertinggi sepanjang sejarah. Insyaallah aman sampai Desember, bahkan sampai Mei tahun depan pun cukup," kata Amran.

Bapanas memproyeksikan neraca beras nasional pada akhir 2026 masih akan mencatatkan stok sekitar 16,24 juta ton. Angka itu berasal dari stok awal tahun sebesar 12,54 juta ton ditambah proyeksi produksi sepanjang tahun 34,76 juta ton, dikurangi kebutuhan konsumsi sekitar 31,1 juta ton.

Dengan proyeksi tersebut, persediaan beras nasional diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan konsumsi hingga sekitar lima bulan di awal 2027. Stok tersebut akan kembali diperkuat oleh panen raya yang dijadwalkan berlangsung pada Maret hingga April tahun depan.