iklan periskop
Nasional

Populasi Orangutan Sumatra Merosot 20% dalam 12 Tahun

Populasi orangutan sumatra turun hampir 20% dalam 12 tahun akibat hilangnya hutan dan konflik dengan manusia, menurut riset peneliti IPB University.

1 minggu yang lalu · 3 mnt baca
Populasi Orangutan Sumatra Merosot 20% dalam 12 Tahun
Ilustrasi orangutan di sarangnya. Wikimedia/Joeavison1
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Populasi orangutan sumatra (Pongo abelii) tercatat merosot hampir 20% dalam 12 tahun terakhir. Jumlahnya turun dari 13.846 individu pada 2011 menjadi sekitar 11.694 individu, berdasarkan riset peneliti IPB University.

Peneliti Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University Dede Aulia Rahman menjelaskan, dengan metode dan wilayah pengamatan yang sebanding, populasi orangutan sumatra menyusut sekitar 19,5% atau rata-rata 1,8% setiap tahun. Ia menegaskan, penurunan tersebut tak boleh dianggap sepele.

"Angka ini sangat serius karena orang utan bukan satwa yang mampu memulihkan populasinya dengan cepat," kata Dede dalam keterangan resmi IPB University, Jumat (14/8).

Kawasan Ekosistem Leuser masih menjadi pusat populasi terbesar orangutan sumatra. Kawasan ini menopang sekitar 84% dari total populasi, sehingga kelestariannya dinilai jadi faktor krusial bagi kelangsungan spesies tersebut.

Kondisi tak kalah mengkhawatirkan juga dialami orangutan tapanuli (Pongo tapanuliensis). Populasinya diperkirakan hanya tersisa sekitar 716 individu yang tersebar dalam tiga metapopulasi di Ekosistem Batang Toru.

Hilangnya habitat jadi salah satu pemicu utama penurunan populasi. Riset menunjukkan sekitar 76% variasi perubahan populasi antar-metapopulasi dipengaruhi oleh hilangnya kawasan hutan.

Sepanjang 2011 hingga 2023, tercatat sekitar 94.399 hektare hutan di wilayah sebaran orangutan lenyap. Ekspansi perkebunan, pembangunan infrastruktur, aktivitas tambang, dan perambahan ilegal disebut jadi pemicu utama hilangnya kawasan hutan tersebut.

Selain kehilangan habitat, orangutan juga menghadapi ancaman lain berupa pembunuhan akibat konflik dengan manusia, perburuan, perdagangan ilegal, hingga fragmentasi habitat. Dede menilai berbagai ancaman itu saling berkaitan dan tidak bisa dipandang terpisah satu sama lain.

"Tidak tepat jika kita mempertentangkan kehilangan habitat dengan pembunuhan atau konflik seolah-olah keduanya merupakan ancaman yang terpisah. Keduanya saling memperkuat," ujar Dede.

Habitat yang hilang dan terfragmentasi membuat orangutan terdorong masuk ke area perkebunan maupun permukiman warga untuk mencari makanan dan tempat tinggal baru. Kondisi ini kemudian meningkatkan risiko konflik, penangkapan, hingga pembunuhan orangutan oleh manusia.

Ancaman tersebut kian serius mengingat kemampuan reproduksi orangutan yang sangat lambat. Betina orangutan umumnya hanya melahirkan satu anak dengan jarak antarkelahiran sekitar tujuh hingga sembilan tahun.

Ketika seekor orangutan mati akibat perburuan, konflik, atau aktivitas manusia lainnya, dibutuhkan waktu sangat panjang untuk mengganti individu yang hilang tersebut. Karena itu, hilangnya habitat dan kematian orangutan yang terus berlangsung berpotensi memperbesar risiko kepunahan lokal, terutama pada metapopulasi kecil dan orangutan tapanuli.

Dede menilai upaya konservasi perlu dilakukan secara terpadu, tidak hanya dengan melindungi individu orangutan, tapi juga menjaga habitat tempat mereka hidup. Ia menyebutkan sejumlah langkah yang diperlukan, mulai dari menghentikan kehilangan habitat penting, menjaga dan memulihkan koridor ekologis, hingga menekan angka kematian orangutan akibat aktivitas manusia.

"Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat dan lembaga konservasi juga dinilai penting untuk mempertahankan populasi orang utan yang tersisa," kata dia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai IPB University, dan Orangutan dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.