Sebanyak 3.002 Gempa Susulan Guncang NTT, BMKG: Bisa Berlanjut hingga 30 Hari
BMKG mencatat 3.002 gempa susulan di NTT hingga 19 Agustus 2026. Aktivitas diperkirakan berlanjut 21-30 hari dengan tren menurun

Periskop.id – Rentetan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) belum berakhir setelah gempa utama magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada Sabtu (15/8/2026). Hingga Rabu (19/8/2026) pukul 14.00 WIB, BMKG mencatat 3.002 gempa susulan, dengan kekuatan mulai magnitudo 1,1 hingga 6,2. Aktivitas tersebut diperkirakan masih berlangsung selama 21 hingga 30 hari ke depan, meski kecenderungannya terus menurun.
Dari ribuan gempa susulan tersebut, sebanyak 86 kejadian dirasakan masyarakat, sementara 25 gempa berkekuatan magnitudo 5 atau lebih. Sebaran aktivitas kegempaan terutama terkonsentrasi di wilayah Flores bagian tengah hingga barat dan berkaitan dengan zona tektonik di kawasan tersebut.
Deputi Bidang Geofisika BMKG Nelly Florida Riama mengatakan, frekuensi gempa susulan memang masih tinggi, tetapi grafik pemantauan menunjukkan kecenderungan peluruhan.
"Berdasarkan hasil monitoring BMKG, aktivitas gempa susulan masih akan berlangsung. Secara umum dari grafik terlihat bahwa kecenderungannya menurun, walaupun dalam beberapa periode masih terjadi peningkatan aktivitas, tetapi gempa susulan akan menurun. Dengan data yang ada saat ini, kira-kira (masih akan berlangsung) dalam 21-30 hari ke depan, tetapi akan menurun," kata Nelly dalam konferensi pers bersama BNPB, Rabu.
BMKG menjelaskan banyaknya gempa susulan merupakan bagian dari proses alamiah ketika kerak bumi menyesuaikan diri setelah pelepasan energi dalam jumlah besar pada gempa utama.
"Jumlah gempa susulan banyak itu, karena sebagai bagian dari penyesuaian kerak bumi atau pelepasan energi, sehingga mendapatkan keseimbangan yang baru setelah ada gempa utama yang besar," ucap Nelly.
Jumlah Gempa Susulan Bertambah Cepat
Jumlah 3.002 kejadian merupakan pembaruan terbaru pada pukul 14.00 WIB. Sebelumnya, melalui siaran pers pada Rabu pagi, BMKG mencatat 2.768 gempa susulan hingga pukul 05.00 WIB, dengan 81 gempa dirasakan masyarakat dan 24 kejadian bermagnitudo lebih dari 5.
Sehari sebelumnya, Selasa (18/8/2026) pukul 05.00 WIB, jumlah gempa susulan masih tercatat 2.119 kali. Adapun pada 17 Agustus jumlahnya mencapai 1.624 kejadian. Data tersebut memperlihatkan aktivitas seismik masih intensif dalam beberapa hari pertama setelah gempa utama.
Meski jumlah kumulatif terus bertambah, BMKG menekankan laju kejadiannya diperkirakan secara bertahap akan meluruh. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto sebelumnya juga memperkirakan rentang waktu sekitar tiga sampai empat minggu.
“Berdasarakan data sementara gempa susulan ini akan berakhir 3 – 4 minggu ke depan. Masyarakat diimbau tetap tenang dan waspada gempa bumi susulan yang masih terjadi,” kata Wijayanto.
Perkiraan 21-30 hari tersebut bukan berarti gempa dipastikan berhenti sepenuhnya setelah periode itu. BMKG memperkirakan laju gempa susulan dapat mencapai tingkat relatif rendah menjelang akhir September 2026, sementara pemantauan tetap dilakukan untuk melihat perkembangan aktivitas tektonik.

Gempa Utama M 7,7 Berasal dari Flores Back-Arc
Gempa utama terjadi pada Sabtu (15/8/2026) pukul 04.58 WIB. Hasil pemutakhiran BMKG mencatat magnitudonya 7,7 dengan kedalaman 15 kilometer. Episenter berada di laut sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo.
BMKG mengidentifikasi gempa tersebut sebagai gempa dangkal akibat aktivitas tektonik Flores Back-Arc dengan mekanisme pergerakan naik atau thrust fault. Guncangan mencapai intensitas VII MMI di sejumlah wilayah Nagekeo dan Ngada, yang berarti guncangan dirasakan sangat kuat dan dapat menimbulkan kerusakan pada bangunan.
Gempa juga sempat memicu peringatan dini tsunami. Berdasarkan pengamatan BMKG, tsunami terdeteksi di 16 lokasi pada empat provinsi, yakni NTT, NTB, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara. Tinggi tsunami terbesar tercatat sekitar 1,605 meter di Pota, Manggarai Timur. Peringatan dini tsunami kemudian diakhiri pada pukul 07.30 WIB.
Nelly memastikan BMKG masih melakukan analisis terhadap pola penyebaran gempa susulan untuk memperoleh gambaran lebih utuh mengenai kondisi tektonik pascagempa.
"BMKG terus melakukan monitoring dan analisis untuk mendapatkan gambaran lebih baik terhadap aktivitas kegempaan tersebut," ujar dia.

11.925 Rumah Rusak, Pemerintah Siapkan Bantuan
Besarnya guncangan juga menimbulkan kerusakan luas. Berdasarkan data BNPB hingga 18 Agustus 2026, terdapat 11.925 rumah rusak, terdiri atas 5.516 rumah rusak berat, 1.916 rusak sedang, dan 4.493 rusak ringan.
Jumlah warga yang mengungsi juga terus berubah seiring pendataan. Dalam pembaruan pada Rabu (19/8/2026) sore, BNPB mencatat 59.647 orang masih mengungsi, dengan jumlah terbesar berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 20.433 orang.
Pemerintah pun menyiapkan bantuan untuk memperbaiki hunian warga. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto mengatakan bantuan akan diberikan setelah pendataan dan verifikasi tingkat kerusakan selesai dilakukan.
"Pemerintah menyiapkan skema bantuan perbaikan rumah bagi warga terdampak. Untuk rumah dengan kategori rusak ringan, BNPB akan memberikan dukungan sebesar Rp15 juta, sedangkan rumah rusak sedang mendapatkan dukungan sebesar Rp30 juta," kata Suharyanto.
Sementara warga dengan rumah rusak berat akan disiapkan hunian tetap (huntap). Selama pembangunan berlangsung, penyintas dapat menempati hunian sementara atau memperoleh Dana Tunggu Hunian (DTH) sebesar Rp600 ribu untuk kebutuhan tempat tinggal sementara.
BNPB menegaskan verifikasi diperlukan untuk memastikan bantuan sesuai tingkat kerusakan dan mencegah data ganda. Pemerintah daerah terdampak juga diminta membentuk satuan tugas untuk mempercepat pendataan, pemenuhan kebutuhan warga, hingga proses rehabilitasi dan rekonstruksi.
Di tengah proses pemulihan tersebut, BMKG meminta masyarakat tetap waspada, terutama terhadap bangunan yang telah retak atau mengalami kerusakan. Warga juga diminta tidak mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan terus mengikuti perkembangan gempa melalui kanal resmi BMKG.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.





Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.