72 Madrasah Terdampak Gempa NTT, Kemenag Siapkan Ruang Belajar Sementara
Kemenag menyiapkan ruang belajar sementara setelah 72 RA dan madrasah terdampak gempa NTT. Sebanyak 32 madrasah dengan 5.523 siswa masuk Prioritas I

Periskop.id - Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan ruang belajar sementara untuk menjaga kegiatan pendidikan tetap berjalan di madrasah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT). Sebanyak 72 Raudhatul Athfal (RA) dan madrasah di tujuh kabupaten tercatat terdampak, dengan 32 satuan pendidikan yang melayani 5.523 siswa masuk kategori Prioritas I karena mengalami kerusakan berat atau total.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kemenag Amien Suyitno mengatakan pemulihan bangunan sekolah membutuhkan waktu sehingga kegiatan belajar tidak dapat menunggu seluruh fasilitas selesai diperbaiki.
“Pemulihan sarana pendidikan memang membutuhkan waktu, tetapi layanan pembelajaran harus tetap berjalan selama proses pemulihan itu," kata Amien saat dikonfirmasi dari Jakarta, Jumat (21/8).
Ruang belajar sementara akan ditempatkan di titik yang dinilai aman. Kemenag menegaskan tenda maupun fasilitas pembelajaran darurat tidak boleh didirikan berdekatan dengan bangunan atau struktur yang rusak dan berpotensi roboh, terutama karena gempa susulan masih terjadi.
Dari 72 RA dan madrasah terdampak, sebanyak 32 satuan pendidikan ditetapkan sebagai Prioritas I karena kerusakan yang dialami telah mengganggu kegiatan belajar mengajar. Jumlah siswa pada kelompok prioritas tersebut mencapai 5.523 orang.
Kemenag masih memperbarui data sekolah yang masuk Prioritas II. Pendataan juga dilakukan terhadap kebutuhan school kit agar jumlah bantuan yang dikirim sesuai dengan kondisi dan jumlah penerima di setiap wilayah.
Sekretaris Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag M. Arskal Salim mengatakan validasi diperlukan agar distribusi bantuan tidak hanya cepat, tetapi juga tepat sasaran.“Respons tanggap darurat harus berbasis kebutuhan. Karena itu, verifikasi dan pemutakhiran data terus dilakukan agar dukungan yang diberikan tepat sasaran,” ujar Arskal.
Koordinasi dilakukan dengan Kantor Wilayah Kemenag NTT serta kantor Kemenag kabupaten untuk memastikan kebutuhan 32 madrasah prioritas dapat segera ditindaklanjuti sekaligus memetakan kondisi satuan pendidikan lain.
Ribuan Sekolah di NTT Terdampak Gempa
Dampak terhadap madrasah menjadi bagian dari kerusakan sektor pendidikan yang jauh lebih luas akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada 15 Agustus 2026.
Data Kemendikdasmen per 20 Agustus menunjukkan 1.378 satuan pendidikan di tujuh kabupaten terdampak gempa. Sebanyak 502 sekolah di antaranya mengalami kerusakan berat. Bencana tersebut berdampak terhadap 177.678 murid serta 21.166 guru dan tenaga kependidikan.
Kerusakan juga terjadi pada ribuan ruang kelas. Dari 8.664 ruang kelas yang telah didata, sebanyak 5.521 atau sekitar 63,7% mengalami kerusakan. Sebanyak 2.229 ruang di antaranya masuk kategori rusak berat atau total. Laboratorium, perpustakaan, fasilitas sanitasi hingga rumah dinas guru juga ikut terdampak.
Kondisi tersebut membuat kegiatan pendidikan harus dijalankan dengan pola berbeda di setiap wilayah. Sebanyak 923 satuan pendidikan melaksanakan pembelajaran dari rumah, 171 menggunakan pola pembelajaran lain dan 35 sekolah telah memanfaatkan kelas darurat. Hanya 30 satuan pendidikan yang saat pendataan masih menjalankan pembelajaran tatap muka.
Kemendikdasmen juga mendistribusikan 100 tenda ruang kelas sebagai bagian dari respons darurat untuk sekolah di luar pengelolaan Kemenag. “Kami sedang mendistribusikan 100 tenda ruang kelas yang diharapkan bisa mulai digunakan minggu depan untuk belajar,” kata Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Atip Latipulhayat.
Selain tenda, pemerintah menyiapkan ribuan paket kebutuhan siswa dan keluarga terdampak. Pada tahap awal penanganan, Kemendikdasmen mengirim 2.000 paket bingkisan anak, 800 school kit, serta 70 family kit untuk mendukung pembelajaran dalam kondisi darurat.
Kemendikdasmen sejak awal mengarahkan sekolah untuk tidak menggunakan ruang kelas yang mengalami kerusakan. Pembelajaran dapat dipindahkan ke lokasi aman, menggunakan tenda darurat atau dihentikan sementara apabila kondisi belum memungkinkan. Dukungan psikososial juga disiapkan untuk membantu pemulihan murid dan tenaga pendidik.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti sebelumnya menegaskan, keselamatan harus menjadi pertimbangan utama dalam menentukan metode belajar selama masa tanggap darurat.
“Prioritas dan komitmen Kemendikdasmen adalah keselamatan guru dan murid di wilayah bencana. Karena itu, pembelajaran yang dilakukan juga mempertimbangkan keselamatan guru dan murid. Salah satunya menggunakan sistem pembelajaran darurat dengan kurikulum darurat,” kata Abdul Mu'ti.
Besarnya jumlah sekolah terdampak menunjukkan pemulihan sektor pendidikan di NTT tidak hanya membutuhkan rehabilitasi bangunan. Pemerintah juga harus menjaga keberlangsungan pembelajaran selama proses rekonstruksi berlangsung, termasuk melalui penyediaan ruang kelas sementara, perlengkapan belajar dan pendampingan psikososial.
Bagi Kemenag, tahap awal kini difokuskan pada 32 RA dan madrasah Prioritas I yang mengalami kerusakan paling berat. Pemutakhiran data akan terus dilakukan untuk menentukan kebutuhan ruang belajar sementara dan bantuan pendidikan di masing-masing kabupaten.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Amin Suyitno, Kementerian Agama (Kemenag), gempa bumi, madrasah, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.