iklan periskop
Nasional

Update Gempa NTT, 105 Tewas dan 1.678 Luka-luka

BNPB mencatat kenaikan angka korban jiwa akibat gempa Flores, NTT, seiring proses evakuasi dan penanganan medis yang masih berjalan.

4 jam yang lalu · 2 mnt baca
kerusakan madrasah, gempa bumi
Salah satu bangunan madrasah yang terdampak gempa di NTT. dok.Kemenag
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat korban meninggal dunia akibat gempa di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 105 orang. Selain itu, 1.678 orang mengalami luka-luka dan 179.037 warga masih mengungsi akibat bencana tersebut.

Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto menyampaikan, data tersebut merupakan angka terbaru hasil penanganan tanggap darurat pada hari ke-12 pascagempa. Ia melaporkan perkembangan itu langsung kepada Presiden Prabowo Subianto.

"Untuk yang meninggal dunia ada 105 jiwa, Bapak Presiden; luka-luka 1.678; mengungsi 179.037 orang," kata Suharyanto saat memberikan laporan penanganan tanggap darurat gempa kepada Presiden Prabowo Subianto di NTT, Rabu (26/8).

Suharyanto merinci, dari total 105 korban jiwa, 48 orang meninggal akibat dampak langsung gempa. Sisanya, 57 orang, merupakan tambahan data yang diperoleh dari operasi pencarian dan pertolongan (SAR) serta hasil penanganan di berbagai fasilitas kesehatan.

Ia menambahkan, korban tambahan itu terdiri dari kelompok rentan seperti lansia, anak-anak, hingga pasien yang mengalami trauma berat pascabencana.

Jumlah pengungsi yang mencapai 179.037 orang, menurut Suharyanto, tidak semata dipicu kerusakan bangunan. Kekhawatiran warga terhadap potensi gempa susulan turut mendorong banyak orang bertahan di lokasi pengungsian.

BNPB juga mencatat kerusakan rumah warga mencapai 81.436 unit. Fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan kantor pemerintahan yang terdampak tercatat sebanyak 1.951 unit.

Suharyanto menyebutkan, Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur menjadi dua wilayah dengan dampak bencana paling parah. Kabupaten Nagekeo berada di posisi ketiga berdasarkan tingkat kerusakan.

Untuk mendukung penanganan medis, BNPB mendirikan dua rumah sakit lapangan di Nagekeo dan Ruteng. Langkah ini diambil karena dua rumah sakit umum di wilayah terdampak mengalami kerusakan cukup parah sehingga tidak bisa melayani pasien secara maksimal.

TNI Angkatan Laut turut mengerahkan dua kapal rumah sakit untuk membantu penanganan korban. KRI dr. Soeharso beroperasi memberikan layanan kesehatan di Kabupaten Manggarai, sementara kapal rumah sakit Kesatria Airlangga bertugas di Manggarai Timur.

BNPB memasang 122 tenda di depan sejumlah puskesmas guna menopang pelayanan kesehatan di lapangan. Hingga kini, 19 puskesmas masih belum beroperasi secara penuh, salah satunya karena warga dan tenaga kesehatan tetap khawatir terhadap gempa susulan.

"Yang terkena gempa langsung korbannya itu 48 orang. Kemudian ada tambahan 57, ini ada datanya lengkap, memang hasil dari operasi SAR yang dilakukan oleh Basarnas, kemudian dirawat di fasilitas-fasilitas kesehatan yang tidak selamat, kemudian juga ada yang trauma, ada yang lansia, ada anak-anak," jelasnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Suharyanto, Prabowo Subianto, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.