Ada 46 Ton Bantuan Gempa NTT Tersimpan di Halim, Distribusi Dikebut ke Flores
BNPB mencatat 46 ton bantuan berada di Posduklognas Halim per 29 Agustus 2026. Distribusi ke korban gempa NTT terus dipercepat lewat udara, laut, dan darat

Periskop.id - Distribusi bantuan bagi korban gempa bumi magnitudo 7,7 di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikebut. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sekitar 46,4 ton logistik masih berada di gudang Pos Pendukung Logistik Nasional (Posduklognas) Halim Perdanakusuma, Jakarta, per 29 Agustus 2026, sementara puluhan ton lainnya diberangkatkan menuju wilayah terdampak pada hari yang sama.
Angka 46 ton tersebut merupakan stok yang tercatat di gudang pada 29 Agustus, bukan keseluruhan bantuan yang telah dihimpun sejak gempa melanda Flores pada 15 Agustus 2026. Secara kumulatif, volume bantuan yang masuk dan disalurkan selama operasi telah mencapai ribuan ton.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan menyebut pada 29 Agustus saja Posduklognas Halim menerima 4.813 kilogram atau sekitar lima ton bantuan dari sembilan donatur.
Pada hari yang sama, sekitar 21.738 kilogram atau 22 ton diberangkatkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak. Salah satu pengiriman dilakukan menggunakan satu sorti penerbangan TNI Angkatan Udara menuju Maumere, Kabupaten Sikka.
Hampir 2.000 Ton Logistik Telah Disalurkan
Perkembangan distribusi berlangsung cepat. Data BNPB per Minggu (30/8/2026) menunjukkan total bantuan yang masuk sejak 15 Agustus mencapai 1.953.849 kilogram atau sekitar 1.954 ton. BNPB menyatakan tingkat distribusi bantuan telah mencapai 98,39%, dengan dua pusat penyaluran utama berada di Maumere dan Labuan Bajo.
"Hampir seluruh bantuan yang masuk telah didistribusikan. Total bantuan yang masuk sejak 15 hingga 30 Agustus 2026 mencapai 1.953.849 kilogram atau sekitar 1.954 ton," kata Berton.
Pengiriman dilakukan menggunakan berbagai moda transportasi. Menurut BNPB, sekitar 565 ton dikirim melalui jalur udara menggunakan TNI AU, 1.065 ton berasal dari Dana Siap Pakai (DSP), sekitar 179 ton melalui kapal laut, serta 145 ton melalui jalur darat dengan truk.
"Lebih dari 1.900 ton logistik dikirim melalui berbagai jalur. Distribusi bantuan dilakukan melalui jalur udara TNI AU 565 ton, dari Dana Siap Pakai (DSP) 1.065 ton, distribusi via kapal laut 179 ton, serta via jalur darat atau truk 145 ton," ucap Berton.
Pada 30 Agustus, BNPB kembali memberangkatkan sekitar 21 ton bantuan dari Halim menuju Labuan Bajo. Logistik tersebut meliputi sembako, obat-obatan, mi instan, air mineral, beras, perlengkapan mandi, baby kit, pakaian hingga alat tulis.
"Bantuan ditujukan ke Labuan Bajo dan dilaporkan tiba pada pukul 08.57 WIB, yang mencakup paket sembako, obat-obatan, mi instan, air mineral, beras, peralatan mandi, baby kit, pakaian anak hingga dewasa, serta alat tulis," tuturnya.
Posduklognas Jadi Pusat Konsolidasi Bantuan
Posduklognas Halim menjadi salah satu simpul utama operasi logistik sejak hari pertama penanganan darurat gempa NTT. Bantuan dari kementerian dan lembaga, TNI, BUMN, dunia usaha, organisasi kemanusiaan hingga masyarakat dikumpulkan, disortir, kemudian dikirim berdasarkan kebutuhan setiap wilayah terdampak.
Pada 22 Agustus atau sepekan setelah gempa, BNPB telah menerima sekitar 1.541 ton bantuan dari 72 donatur, sedangkan 954 ton di antaranya sudah didistribusikan menuju Labuan Bajo dan Maumere.
Pengiriman tidak hanya bergantung pada penerbangan dari Halim. Jalur laut ikut digunakan melalui TNI AL, sementara distribusi lanjutan menuju kabupaten terdampak dilakukan menggunakan kendaraan darat.
BNPB menekankan logistik harus dikelola berdasarkan prinsip tepat jenis, tepat jumlah, dan tepat waktu agar barang yang sampai benar-benar sesuai kebutuhan masyarakat.
Pada Senin (31/8), Posduklognas juga menerima bantuan Bank Indonesia seberat 17.688 kilogram. Sebanyak 16.441 kilogram atau sekitar 93% dari bantuan BI tersebut sudah dikirim menuju wilayah terdampak, termasuk Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, dan Maumere.
"Dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat upaya kita dalam menangani dampak bencana sekaligus memberikan harapan bagi masyarakat untuk segera bangkit," ujar Deputi Bidang Sistem dan Strategi BNPB Raditya Jati.
188 Ribu Orang Masih Mengungsi
Besarnya kebutuhan logistik berkaitan langsung dengan skala dampak bencana.
BNPB mencatat hingga 30 Agustus pukul 07.00 WIB sebanyak 188.161 orang masih berada di pengungsian, meski jumlahnya telah berkurang 4.142 orang dibandingkan pencatatan sebelumnya. Konsentrasi terbesar terdapat di Nagekeo dengan 50.574 pengungsi dan Manggarai sebanyak 50.556 orang.
Jumlah korban meninggal dunia tercatat 111 orang, sementara korban luka mencapai 1.631 orang, terdiri atas 223 luka berat dan 1.408 luka ringan. Kerusakan tempat tinggal juga sangat luas. Sebanyak 95.567 rumah teridentifikasi rusak, terdiri atas 46.161 rumah rusak ringan, 21.992 rusak sedang, dan 27.414 rumah rusak berat.
"Ada kebutuhan mendesak penyediaan hunian sementara atau relokasi bagi 27.414 keluarga yang rumahnya mengalami kerusakan berat," papar Berton.
Gempa susulan pun belum berhenti. Hingga 30 Agustus, tercatat 9.765 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2. Sebanyak 155 di antaranya dirasakan masyarakat dan rangkaiannya diperkirakan masih berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama.
Pemerintah Salurkan Rp200 Miliar
Selain logistik, pemerintah pusat juga menyalurkan bantuan kemasyarakatan senilai Rp200 miliar. Dana tersebut terdiri atas Rp40 miliar untuk Pemerintah Provinsi NTT serta masing-masing Rp20 miliar kepada delapan kabupaten terdampak, yakni Manggarai Barat, Manggarai, Manggarai Timur, Ende, Ngada, Nagekeo, Sikka, dan Flores Timur.
Ketika Presiden Prabowo Subianto meninjau Nagekeo pada 26 Agustus, Kepala BNPB Suharyanto memastikan dana untuk pemerintah kabupaten sudah diterima.
“Sudah sampai, kami juga sudah sampaikan ke Bupati, bantuan itu tidak boleh digunakan hal yang lain kecuali untuk menangani bencana,” ujar Suharyanto.
Skala kerusakan dan tingginya jumlah pengungsi membuat kelancaran distribusi menjadi persoalan penting dalam fase tanggap darurat. Tantangannya bukan lagi sekadar menghimpun bantuan sebanyak mungkin, tetapi memastikan beras, obat, air bersih, tenda, perlengkapan bayi, kebutuhan sanitasi dan barang lain tiba di kabupaten yang membutuhkan dalam jumlah yang tepat.
Dengan hampir 2.000 ton bantuan telah bergerak menuju NTT, Posduklognas Halim kini berfungsi sebagai salah satu mata rantai utama antara solidaritas masyarakat dan kebutuhan puluhan ribu keluarga yang masih bertahan di pengungsian.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), bantuan kemanusiaan, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.
Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.