Nasional

Lukisan Gua Sulawesi Berusia 67.800 Tahun Berpotensi Ubah Peta Sejarah Seni Dunia

Cap tangan di Liang Metanduno, Sulawesi Tenggara, berusia minimal 67.800 tahun. Temuan ini mengubah pandangan tentang asal-usul seni manusia purba

16 jam yang lalu · 8 mnt baca
lukisan batu
Gambar rock art atau lukisan figuratif seni cadas tertua diperkirakan berusia 67.800 tahun usai ditemukan di situs Liang Metanduno, Pulau Muna, Desa Liangkobori, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. dok. BRIN.
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Sebuah cap tangan yang nyaris memudar di dinding gua Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, ternyata menyimpan jejak kreativitas manusia dari setidaknya 67.800 tahun lalu. Temuan tersebut kini menjadi salah satu bukti terpenting bahwa tradisi seni manusia purba berkembang sangat awal di kawasan Sulawesi, jauh sebelum sejumlah karya seni gua terkenal di Eropa.

Cap tangan itu ditemukan di Liang Metanduno, bagian dari kawasan karst Pulau Muna. Penanggalan menggunakan teknik laser-ablation uranium-series atau LA-U-series menunjukkan lapisan kalsit yang menutupi gambar memiliki usia 71.600 ± 3.800 tahun, sehingga karya di bawahnya dipastikan berusia minimal 67.800 tahun. Penelitian tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nature pada Januari 2026.

"Penelitian ini membantah teori yang selama ini kita pelajari melalui buku-buku bahwa lukisan tertua bermula di Eropa, itu kemudian terbantahkan," ungkap Peneliti dan Arkeolog Universitas Hasanuddin Prof Akin Duli di Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (31/8/2026).

Temuan itu menjadi bagian dari rangkaian penelitian panjang terhadap seni cadas di Sulawesi, mulai dari kawasan karst Maros-Pangkep di Sulawesi Selatan hingga gua-gua di Pulau Muna, Sulawesi Tenggara.

Cap Tangan Kecil yang Memecahkan Rekor

Secara visual, gambar berusia 67.800 tahun tersebut bahkan tidak terlalu mencolok. Nature menjelaskan bagian yang masih bertahan hanya berupa pigmen pudar seluas sekitar 14 x 10 sentimeter, memperlihatkan sebagian telapak dan jari tangan.

Keunikannya terdapat pada salah satu ujung jari yang terlihat sengaja dibuat meruncing. Para peneliti menduga bentuk tersebut dibuat melalui penambahan pigmen atau dengan menggerakkan tangan ketika pewarna diaplikasikan.

Model cap tangan dengan ujung jari yang dipersempit seperti itu sejauh ini merupakan karakter seni cadas yang khas Sulawesi. "Sulawesi ini masuk kawasan Wallacea dan memegang peranan penting. Bukti ini menjadi dasar kita membantah bahwa budaya melukis gua bukan berasal dari Eropa," tutur Akin.

Penelitian Nature menyebut cap tangan Liang Metanduno memberikan batas usia minimum tertua yang sejauh ini berhasil dibuktikan untuk seni pada dinding gua yang dikaitkan dengan Homo sapiens. Usianya juga sekitar 1.100 tahun lebih tua dibanding batas minimum cap tangan dari Gua Maltravieso di Spanyol yang sebelumnya berada di kisaran 66.700 tahun dan dikaitkan dengan Neanderthal, meski interpretasi mengenai temuan Spanyol itu masih diperdebatkan.

Pada Mei 2026, Guinness World Records juga mengakui cap tangan Liang Metanduno sebagai lukisan nonfiguratif tertua yang telah diketahui.

Sulawesi Simpan Tradisi Seni Puluhan Ribu Tahun

Temuan Liang Metanduno tidak berdiri sendiri. Penelitian sejak 2019 mendokumentasikan 44 situs seni cadas di Sulawesi Tenggara, termasuk 14 lokasi yang sebelumnya belum tercatat. Sebanyak 11 motif dari delapan situs kemudian menjalani penanggalan.

Di panel yang sama di Liang Metanduno, peneliti juga menemukan cap tangan lain dengan lapisan pigmen tertua yang berusia minimal 60.900 tahun. Hal yang menarik, terdapat beberapa periode pembuatan karya pada dinding yang sama. 

Penanggalan menunjukkan dua episode penciptaan seni pada panel tersebut dipisahkan sedikitnya 35.000 tahun. Artinya, gua itu bukan hanya dikunjungi satu generasi manusia, tetapi kemungkinan digunakan untuk aktivitas seni selama periode yang sangat panjang.

Profesor Maxime Aubert dari Griffith University menyebut hasil tersebut memperlihatkan betapa panjang tradisi artistik di Sulawesi.

“Kini terbukti dari tahap penelitian terbaru kami bahwa Sulawesi merupakan tempat berkembangnya salah satu budaya seni terkaya dan tertua di dunia, yang berakar pada masa paling awal hunian manusia di pulau tersebut—setidaknya sejak 67.800 tahun yang lalu,” kata Aubert.

Dalam bahasa sederhana, temuan itu menunjukkan manusia yang hidup di kawasan ini puluhan ribu tahun lalu sudah menggunakan gambar sebagai bentuk ekspresi simbolik.

Peneliti Muhamad Nur menilai kemampuan tersebut tidak seharusnya dipahami sebagai sesuatu yang muncul eksklusif dari satu pusat kebudayaan.

"Rasa keindahan ada bersama sifat amarah atau tertawa. Manusia di mana saja berpotensi melahirkan itu," ujar Muhamad Nur.

Figuratif Tertua Berusia 51.200 Tahun

Meski cap tangan Liang Metanduno berusia minimal 67.800 tahun, penting membedakannya dengan seni figuratif, yaitu gambar yang merepresentasikan sosok manusia, hewan atau objek yang dapat dikenali. Untuk kategori figuratif dan naratif, salah satu penemuan paling penting berasal dari Leang Karampuang di kawasan Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan.

Penelitian Nature pada 2024 menemukan sebuah panel yang menggambarkan seekor babi bersama tiga figur menyerupai manusia. Lukisan tersebut berusia minimal 51.200 tahun dan dinilai sebagai bukti tertua yang diketahui tentang seni representasional sekaligus penyampaian cerita melalui gambar.

Tak jauh dari sana terdapat Leang Bulu' Sipong 4. Panel di situs tersebut menggambarkan figur yang ditafsirkan menyerupai manusia-hewan atau therianthrope bersama babi Sulawesi dan anoa.

Penanggalan terbaru menunjukkan salah satu bagian dari adegan tersebut berusia setidaknya sekitar 48.000 tahun.

"Temuan di situs seperti Bulu Sipong menunjukkan aktivitas sosial sangat terorganisir. Jelas sekali adegan perburuannya. Proses kawanan babi atau anoa digiring oleh pemburu. Ini bukan hanya gambar, tapi aktivitas sosial tentang perburuan," kata Akin.

Namun, interpretasi mengenai gambar tersebut perlu ditempatkan secara hati-hati. Studi Nature menyebut panel Bulu' Sipong dapat ditafsirkan sebagai narasi perburuan, tetapi makna persis yang ingin disampaikan pembuatnya tentu tidak dapat dipastikan hanya dari gambar yang tersisa.

Manusia Purba Sudah Mampu Bercerita Lewat Gambar

Nilai penting seni cadas Sulawesi tidak hanya terletak pada usianya. Susunan manusia dan hewan dalam satu komposisi memperlihatkan kemampuan manusia purba untuk membangun adegan, menghubungkan beberapa figur, dan kemungkinan menggunakannya untuk menyampaikan suatu cerita.

Penelitian Nature menyimpulkan, seni Sulawesi memberikan bukti bahwa kemampuan menyampaikan narasi visual telah muncul jauh lebih awal daripada yang sebelumnya diasumsikan berdasarkan catatan seni Paleolitik Eropa.

Arkeolog BRIN Budianto Hakim juga melihat bentuk-bentuk tersebut berkaitan erat dengan cara manusia memahami lingkungan dan bertahan hidup. "Penggambaran ini memiliki hubungan paralel yang sangat intim dengan cara manusia bertahan hidup. Modifikasi jari menyerupai cakar binatang itu sudah cukup lama dilakukan oleh manusia modern awal," kata Budianto.

Peneliti Griffith University Adam Brumm bahkan menilai, modifikasi jari pada cap tangan dapat membuka kemungkinan interpretasi tentang hubungan simbolis antara manusia dan hewan, meski makna sebenarnya masih merupakan wilayah spekulasi ilmiah.

Kajian terhadap Leang Karampuang juga memperkuat gagasan bahwa masyarakat Sulawesi pada masa Pleistosen telah mengembangkan kemampuan bercerita.

Adhi Agus Oktaviana dari BRIN mengatakan kata-kata manusia purba tentu tidak dapat menjadi fosil. Karena itu, adegan visual merupakan salah satu bukti tidak langsung terbaik yang tersisa untuk memahami bagaimana mereka menyampaikan cerita.

Seni cadas tertua di dunia yang ditemukan Pulau Muna, Sulawesi Tenggara. dok: Aubert, Brumm, et al.

Mengubah Narasi Lama yang Berpusat di Eropa

Selama bertahun-tahun, gua seperti Chauvet dan Lascaux di Prancis serta Altamira di Spanyol menjadi pusat pembahasan mengenai perkembangan seni manusia purba. Temuan demi temuan dari Indonesia kemudian mengubah gambaran tersebut.

Penelitian di Maros yang diterbitkan Nature pada 2014 sudah menunjukkan manusia di Sulawesi membuat cap tangan setidaknya 39.900 tahun lalu dan melukis babirusa lebih dari 35.000 tahun lalu.

Temuan berikutnya terus mendorong angka tersebut semakin jauh ke masa lampau. Seni figuratif babi Sulawesi kemudian diketahui berusia sedikitnya 45.500 tahun, narasi Leang Karampuang setidaknya 51.200 tahun, hingga akhirnya cap tangan Liang Metanduno mencapai sedikitnya 67.800 tahun.

Rangkaian data itu tidak berarti seni "berasal" dari Sulawesi dan kemudian menyebar ke seluruh dunia. Bukti arkeologi saat ini tidak cukup untuk membuat kesimpulan sebesar itu.

Namun, temuan tersebut secara kuat menunjukkan bahwa kemampuan artistik kompleks bukan fenomena yang hanya muncul di Eropa, dan manusia modern di Asia Tenggara telah memiliki tradisi simbolik yang sangat tua.

Jejak Penting Migrasi Manusia Menuju Australia

Nilai temuan Liang Metanduno bahkan melampaui sejarah seni. Sulawesi berada di kawasan Wallacea, gugusan pulau yang sejak zaman es tetap dipisahkan laut dari daratan Asia maupun Sahul, yakni daratan purba yang menyatukan Australia dan Papua.

Nature menyebut, usia cap tangan Liang Metanduno berdekatan dengan perkiraan awal manusia modern mencapai Sahul, sekitar 65.000 tahun lalu. Posisi Sulawesi di jalur utara dari Kalimantan menuju Papua membuat temuan tersebut menjadi bukti arkeologis penting yang mendukung kemungkinan manusia awal melakukan perjalanan laut melalui Wallacea menuju Sahul.

Peneliti bahkan menyebut cap tangan tersebut sebagai bukti arkeologi tertua yang sejauh ini ditemukan mengenai keberadaan Homo sapiens di Wallacea. Dengan kata lain, sosok yang meninggalkan tangannya di dinding gua Pulau Muna kemungkinan hidup pada masa ketika manusia modern sedang melakukan salah satu migrasi maritim paling penting dalam sejarah spesies kita.

Dari Dinding Gua hingga Tradisi Masa Kini

Para peneliti Indonesia turut melihat kemungkinan benang merah simbolik antara cap tangan prasejarah dan tradisi masyarakat Sulawesi pada masa kini. Dalam sejumlah komunitas Bugis-Makassar, cap tangan masih ditemukan dalam praktik budaya tertentu, misalnya pada tiang rumah baru yang dipercaya berfungsi sebagai simbol perlindungan atau penolak bala.

Namun, hubungan langsung antara ritual modern tersebut dengan pembuat seni gua puluhan ribu tahun lalu belum dapat dibuktikan secara ilmiah. Rentang waktunya terlalu panjang untuk menyimpulkan kesinambungan tradisi tanpa bukti pendukung lainnya.

Yang dapat dipastikan adalah dinding-dinding karst Sulawesi kini memberikan jendela langka menuju perkembangan kemampuan simbolik manusia.

Kementerian Kebudayaan pada 2026 juga menyoroti temuan Liang Metanduno sebagai bagian penting dari warisan prasejarah Indonesia. Penelitian tersebut disebut memperkuat posisi Nusantara sebagai salah satu kawasan penting dalam pembahasan sejarah perkembangan seni manusia.

Dari cap tangan sederhana hingga adegan manusia dan hewan yang disusun menjadi sebuah cerita, gua-gua Sulawesi menunjukkan bahwa puluhan ribu tahun sebelum lahirnya tulisan, manusia sudah mencari cara meninggalkan gagasan mereka kepada generasi berikutnya.

Dan setelah bertahan selama hampir 68 milenium di balik dinding batu kapur, jejak itu kini ikut mengubah cara dunia membaca asal-usul seni, cerita, dan imajinasi manusia.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Universitas Hasanuddin (Unhas), arkeologi, dan peradaban purba dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.