Pariwisata

Bali dan KAI Bangun Trem Listrik Ngurah Rai-Canggu Sepanjang 12 km, Target Operasi 2028

Bali dan KAI menyiapkan trem listrik Bandara Ngurah Rai-Canggu sepanjang 12 km. Proyek ditarget mulai dibangun Maret 2027 dan beroperasi bertahap pada 2028

15 jam yang lalu · 5 mnt baca
Bali dan KAI Bangun Trem Listrik Ngurah Rai-Canggu Sepanjang 12 km, Target Operasi 2028
Gubernur Bali Wayan Koster tandatangani kerja sama mulai kembangkan trem listrik Bandara I Gusti Ngurah Rai-Canggu di Denpasar, Selasa (1/9/2026). dok. Pemprov Bali
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Rencana transportasi massal yang menghubungkan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai dengan Canggu, Bali, mulai memasuki tahap konkret. Pemerintah Provinsi Bali, Pemerintah Kabupaten Badung, dan PT Kereta Api Indonesia (Persero) menandatangani kerja sama pengembangan trem listrik berbasis baterai dengan target waktu tempuh sekitar 30 menit.

Trem dirancang melintasi trase sepanjang sekitar 12 kilometer dan ditargetkan mampu mengangkut hingga 60 ribu penumpang per hari. Peletakan batu pertama direncanakan pada Maret 2027, trase pertama ditargetkan beroperasi pada 2028, sedangkan seluruh jalur menuju Canggu diproyeksikan rampung pada 2029.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan pembangunan moda baru tersebut tidak semata-mata diarahkan untuk mengurai kemacetan, tetapi juga harus memperkuat daya tarik pariwisata Pulau Dewata.

"Kenyamanan wisatawan harus tetap dijaga, keberadaan trem justru diharapkan dapat menjadi daya tarik baru bagi pariwisata Bali," kata Koster seusai penandatanganan kerja sama di Denpasar, Selasa (1/9/2026).

Kerja sama tersebut turut melibatkan sejumlah pemangku kepentingan, termasuk Pemerintah Kabupaten Badung, KAI, Angkasa Pura, serta pemerintah daerah. Rencana tersebut merupakan tindak lanjut pembahasan pengembangan transportasi massal yang sebelumnya melibatkan Bappenas dan Pemprov Bali.

Bandara-Canggu Dilalui 80 Ribu Kendaraan per Hari

Koridor Bandara Ngurah Rai-Canggu dipilih karena menjadi salah satu jalur dengan tekanan lalu lintas tinggi di Bali Selatan. Berdasarkan pemetaan dalam rencana proyek, pergerakan di koridor tersebut mencapai sekitar 150 ribu orang dan 80 ribu kendaraan setiap hari. Trem ditargetkan mengambil sekitar 40% dari mobilitas tersebut dengan kapasitas operasi maksimal hingga 60 ribu penumpang per hari.

Waktu perjalanan Bandara-Canggu menggunakan trem diproyeksikan sekitar 30 menit dengan interval keberangkatan setiap 10 menit. Sebagai gambaran tingkat kemacetan jalur tersebut, Pemprov Bali sebelumnya menyebut perjalanan darat dari Bandara Ngurah Rai menuju Canggu dapat membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga dua jam. 

Kondisi itu pula yang membuat pemerintah sempat merancang alternatif transportasi melalui laut berupa water taxi untuk memangkas perjalanan menjadi sekitar 30 menit. Koster memastikan pembangunan jalur trem harus mempertimbangkan hotel, akomodasi, tempat wisata, permukiman, lingkungan, hingga aktivitas masyarakat yang berada di sepanjang trase.

"Pengembangan transportasi harus tetap memperhatikan keunikan Bali, menjaga keindahan Bali, mendukung pariwisata, dan tidak mengganggu kehidupan masyarakat," ujarnya.

Trem Lebih Kecil dari Bus, Tak Pakai Kabel Listrik

Moda yang disiapkan berbeda dengan kereta konvensional maupun sistem MRT dan LRT. Kendaraan dirancang berukuran relatif kecil dengan lebar sekitar dua meter lebih, bahkan disebut lebih kecil dibandingkan bus.

Penggunaan teknologi baterai membuat trem tidak membutuhkan kabel listrik yang menggantung di sepanjang jalur. Sistem tersebut juga dipilih untuk menekan kebisingan dan dampak visual maupun lingkungan di kawasan pariwisata.

Trase dirancang memiliki dua jalur dengan area persilangan tertentu untuk mendukung operasional. Lebar ruang jalur diperkirakan sekitar tiga meter. Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin mengatakan, pembangunan sistem transportasi di Bali harus dilakukan dengan pendekatan yang berbeda dibandingkan wilayah lain karena karakter sosial dan budaya Pulau Dewata.

"Infrastruktur transportasi harus dikembangkan secara hati-hati, kemajuan teknologi tidak boleh menghilangkan identitas dan harmoni Bali," ucap Bobby.

Menurut KAI, aspek budaya, lingkungan, spiritualitas, serta kehidupan masyarakat lokal akan dimasukkan sejak proses perencanaan. Teknologi baterai juga dipilih untuk mengurangi tingkat kebisingan sekaligus mempertahankan kenyamanan masyarakat dan wisatawan.

Groundbreaking Maret 2027, Rampung Penuh 2029

Setelah kesepakatan ditandatangani, proyek belum langsung masuk tahap konstruksi. Pemprov Bali dan para pemangku kepentingan terlebih dahulu akan melakukan studi teknis dan kajian lanjutan.

Pemerintah juga akan melakukan sosialisasi kepada masyarakat, melibatkan desa adat, serta berkoordinasi dengan pengelola hotel, akomodasi, pelaku pariwisata dan pihak lain yang berada di sepanjang rute.

Apabila tahapan tersebut berjalan sesuai jadwal, groundbreaking ditargetkan pada Maret 2027. Bagian pertama jalur trem direncanakan mulai beroperasi pada 2028 dan koneksi penuh hingga Canggu pada 2029.

Pemilihan trem sekaligus menandai perubahan arah pengembangan transportasi rel Bali. Sebelumnya, pemerintah daerah sempat mendorong pembangunan Bali Urban Subway atau MRT bawah tanah. Proyek tersebut bahkan menjalani seremoni groundbreaking pada September 2024, tetapi hingga 2026 belum memasuki pembangunan fisik.

Pada Agustus 2026, Koster kemudian menyatakan opsi yang sedang disiapkan adalah sistem berbasis trem atau Autonomous Rail Transit (ART) dengan rute Bandara-Canggu. Pertimbangan biaya dan kemudahan implementasi menjadi bagian dari perubahan tersebut.

Transportasi Massal Dinilai Krusial bagi Pariwisata Bali

Pembangunan sistem angkutan massal semakin mendesak seiring besarnya arus wisatawan ke Bali. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat sebanyak 578.251 wisatawan mancanegara datang langsung ke Bali pada Mei 2026. 

Jumlah tersebut meningkat 4,50% dibandingkan April 2026 yang mencapai 553.328 kunjungan. Pada bulan yang sama, tingkat penghunian kamar hotel berbintang di Bali mencapai 61,16%, naik 3,06 poin persentase dibandingkan Mei 2025 yang sebesar 58,10%.

Besarnya arus wisatawan tersebut menambah tekanan terhadap jalan di kawasan Bali Selatan, terutama Bandara, Kuta, Seminyak hingga Canggu. Kementerian Perhubungan sejak 2023 juga telah menyebut transportasi massal sebagai salah satu solusi jangka panjang atas kemacetan Bali, khususnya pada jalur dengan aktivitas wisata tinggi seperti Bandara, Sunset Road, Legian, dan Canggu.

Karena itu, keberhasilan proyek trem tidak hanya akan ditentukan oleh pembangunan lintasan. Integrasi dengan moda transportasi lain, kemudahan akses dari kawasan hotel dan destinasi wisata, tarif, frekuensi perjalanan hingga kesediaan masyarakat dan wisatawan beralih dari kendaraan pribadi akan menentukan seberapa besar moda tersebut mampu mengurangi kemacetan.

Jika seluruh target tercapai, perjalanan Bandara Ngurah Rai-Canggu yang saat kondisi padat dapat memakan waktu hingga berjam-jam, berpotensi dipangkas menjadi sekitar 30 menit melalui trem listrik mulai 2028.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Wayan Koster, bali, Bandara I Gusti Ngurah Rai, Pariwisata Bali, dan Jalur Trem dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.