GOTO Terancam Keluar dari Indeks MSCI Agustus 2026
Tiga sekuritas memproyeksikan GOTO terdepak dari indeks MSCI Global Standard pada rebalancing Agustus 2026, meski secara fundamental masih memenuhi kriteria.

Periskop.id - PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) terancam keluar dari indeks MSCI Global Standard Index dalam pengumuman MSCI August 2026 Index Review, Kamis (13/8). Tiga lembaga sekuritas, yakni Samuel Sekuritas, CGS International Sekuritas Indonesia (CGSI), dan Mirae Asset Sekuritas Indonesia, kompak memproyeksikan hal serupa.
CGSI menilai peluang GOTO terdepak bakal terjadi apabila MSCI mencabut status freeze yang saat ini masih berlaku pada saham teknologi tersebut. Mirae Asset Sekuritas Indonesia melalui Equity Research Analyst Wilbert Arifin menyebutkan, secara fundamental GOTO sebenarnya masih memenuhi kriteria MSCI.
"Sehingga tidak ada ketentuan dalam metodologi yang mengharuskan saham GOTO dikeluarkan dari indeks. Namun, persoalan mendasar yang menjadi perhatian belum berubah," tulis Wilbert dalam analisisnya, dikutip Kamis (30/7).
Saham GOTO tercatat memiliki rasio Annualized Traded Value Ratio (ATVR) tiga bulan sebesar 41,3% dan 12 bulan sebesar 72,8%. Angka tersebut jauh di atas ambang batas minimal MSCI yang masing-masing hanya 5% dan 10%.
Kendati begitu, Mirae Asset menilai MSCI masih memiliki ruang diskresi untuk mengevaluasi status GOTO. Sejak Mei 2026, MSCI memantau saham GOTO setelah harganya bertahan di level batas bawah Rp50 per saham dan dinilai tidak likuid.
Wilbert memperkirakan dana pasif yang keluar bisa mencapai sekitar Rp1 triliun apabila MSCI benar-benar mengeluarkan GOTO dari indeks. Nilai itu setara sekitar 20 miliar saham atau sekitar 2% dari total kepemilikan asing di GOTO.
Berdasarkan perhitungan Mirae Asset Sekuritas, kapitalisasi pasar indeks MSCI Indonesia berpotensi tergerus hingga 6% jika GOTO ikut dikeluarkan. Namun menurut Wilbert, perhatian utama sebenarnya bukan pada potensi keluarnya GOTO, melainkan pada status freeze yang belum dicabut MSCI.
Pemulihan bobot Indonesia di MSCI, kata Wilbert, masih bergantung pada pencabutan status pembekuan tersebut. Apabila freeze diperpanjang hingga November 2026, bobot Indonesia diperkirakan tetap berada di kisaran level saat ini.
Mirae Asset menilai kondisi tersebut bukan risiko baru karena sudah menjadi ekspektasi pasar sejak awal. Wilbert justru melihat peluang dari pasar yang telah mencapai titik terendah, dengan bobot MSCI yang rendah, indeks yang lebih bersih, dan pergeseran kepemimpinan pasar emerging market dari saham-saham berbasis kecerdasan buatan (AI).
Mirae Asset tetap optimistis terhadap prospek pasar pada paruh kedua 2026. Perusahaan itu berencana memanfaatkan pelemahan akibat rebalancing MSCI menjelang 31 Agustus untuk mengakumulasi posisi.
"Sambil menahan diri dari memberikan sinyal 'aman sepenuhnya' hingga November 2026," tulis Wilbert.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Morgan Stanley Capital International (MSCI), dan PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.