Periskop.id - Sebanyak enam saham baru akan melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada awal Juli 2026. Investor yang ingin berpartisipasi perlu mencermati profil valuasi, tingkat profitabilitas, dan rencana penggunaan dana masing-masing emiten sebelum mengambil keputusan.

Keenam perusahaan tersebut adalah PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Esa Medika Mandiri Tbk (EMMI), PT Nitrsanata Dharma Tbk (JECX), PT Bach Multi Global Tbk (BACH), dan PT Rans Entertainmen Indonesia Tbk (RANS).

Mirae Asset Sekuritas Indonesia telah menelaah profil keenam calon emiten ini. Kesimpulan umumnya: investor disarankan tetap selektif dengan mempertimbangkan kombinasi valuasi, profitabilitas, latar belakang sponsor atau ultimate beneficial owner (UBO), penggunaan dana IPO, serta risiko likuiditas setelah saham tercatat.

Profil Singkat 6 Emiten IPO Awal Juli 2026

JELI menawarkan saham di kisaran Rp900 hingga Rp1.120 per lembar dengan target perolehan dana segar hingga Rp392 miliar. Sebagian besar dana akan disuntikkan ke anak usaha PT Niramas Pandaan Sejahtera (sekitar 51,04%), sisanya untuk pembelian mesin produksi, modal kerja, dan pelunasan sebagian utang ke Bank Mandiri.

PRDL, emiten sektor alat kesehatan dan perangkat diagnostik medis, menetapkan harga penawaran Rp100 hingga Rp120 per saham dengan potensi dana maksimal Rp62,75 miliar. Lebih dari separuh dana IPO dialokasikan untuk melunasi pinjaman kepada BCA dan Bank Panin, sedangkan sisanya untuk belanja modal dan modal kerja.

EMMI menawarkan hingga 522,86 juta saham atau setara 30% dari modal disetor setelah IPO, dengan kisaran harga Rp446 hingga Rp515 per lembar. Perusahaan berpotensi menghimpun dana hingga Rp269,27 miliar, dengan porsi terbesar sekitar 68,7% dialokasikan sebagai modal kerja, termasuk pembangunan pabrik di Cikupa.

JECX, yang didukung Grup Emtek, melepas sekitar 15% saham ke publik pada kisaran harga Rp1.200 hingga Rp1.400 per lembar. Total saham yang ditawarkan mencapai 487,98 juta lembar dengan potensi dana hingga Rp683 miliar. Dari perolehan itu, sebagian besar dialokasikan untuk melunasi pinjaman ke BCA dan HSBC Indonesia, modal ke anak perusahaan, serta modal kerja.

BACH membuka masa bookbuilding pada 22-24 Juni 2026 dengan kisaran harga Rp400 hingga Rp500 per saham, berpotensi meraup Rp307,5 miliar. Dana tersebut akan digunakan untuk modal di industri genset senilai Rp231,48 miliar dan pelunasan sebagian utang senilai Rp91,02 miliar.

RANS, perusahaan yang didirikan artis Raffi Ahmad, menawarkan 2,525 miliar saham baru di harga Rp135 hingga Rp170 per lembar dengan potensi dana Rp429,25 miliar. Rencana penggunaan dananya paling beragam: mulai dari pembangunan wahana edukatif "Cipungland", penyelenggaraan konser artis lokal dan internasional, pengembangan bisnis berbasis kecerdasan buatan bersama PT Global Teknologi, hingga akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia (Slavina).

Analisis Valuasi: Mana yang Paling Menarik?

Mirae Asset Sekuritas menempatkan PRDL sebagai emiten dengan valuasi paling terjangkau di antara keenam calon pendatang baru ini. Rasio price-to-earnings (PER) PRDL berada di kisaran 10,3 hingga 12,3 kali, dengan price-to-book value (PBV) post-IPO 1,2 hingga 1,4 kali. Dukungan dari Grup Prodia turut menjadi nilai tambah.

BACH mencatat return on equity (ROE) tertinggi di antara keenam emiten, yakni 28,9%, dengan dukungan Grup Djarum di belakangnya. Potensi kapitalisasi pasar perusahaan ini diperkirakan sekitar Rp2,04 triliun.

JECX tampil dengan potensi kapitalisasi pasar terbesar, yakni sekitar Rp4,55 triliun. Namun, Mirae Asset Sekuritas mencatat valuasinya paling premium di antara semua calon emiten, dengan PER di rentang 52,9 hingga 61,8 kali.

RANS unggul dari sisi efisiensi aset dan struktur utang. Perusahaan ini membukukan return on assets (ROA) tertinggi sebesar 13,2%, sekaligus mencatat rasio utang terhadap ekuitas (debt-to-equity ratio/DER) terendah, yakni 0,35 kali. Brand awareness yang kuat dari nama Raffi Ahmad turut disebut sebagai daya tarik tersendiri.

JELI dan EMMI masing-masing mencatat ROE solid di angka 27,0% dan 25,2%. Meski demikian, Mirae Asset Sekuritas mengingatkan bahwa valuasi keduanya tergolong premium dan tingkat leverage-nya relatif lebih tinggi dibandingkan emiten lain dalam kelompok ini.

Tips Selektif Sebelum Masuk IPO

Banyaknya pilihan IPO dalam satu periode bukan berarti semua layak dikoleksi sekaligus. Mirae Asset Sekuritas menegaskan pentingnya pendekatan selektif dengan mempertimbangkan empat aspek utama, yakni valuasi, profitabilitas, rekam jejak sponsor atau pemegang saham pengendali, serta risiko likuiditas saham setelah resmi tercatat di bursa.

Penggunaan dana IPO juga patut dicermati karena mencerminkan arah pertumbuhan bisnis emiten ke depan. Emiten yang mengalokasikan porsi besar dana untuk ekspansi kapasitas atau pengembangan bisnis cenderung memiliki narasi pertumbuhan yang lebih konkret dibanding yang sebagian besar dananya terserap untuk pelunasan utang.